Pages

  • Home
  • About
tumblr linkedin

things.

    • Home
    • Gallery
    • About

    bismillaahirrahmaanirrahiim.


    Matahari itu rising-nya cepat sekali. Serius. Sejenak saja ia sudah menyembul sempurna di puncak bukit yang kami lihat. Aku pernah melihat yang serupa dan tahu bahwa memang secepat itu sih. Hanya saja baru kembali teringat fenomena ini tadi. Semburat yang mulanya malu ternyata seberani itu untuk tampil memesona.

    Cepat sekali. Sekejap sudah tinggi saja ia. Lama-lama dingin tergantikan terik, apalagi ketika flysheet tendanya dilepas dalam rangka membuat pencahayaan foto lebih baique.

    Sekejap. Tahu-tahu sudah siang.
    Cepat sekali, tanpa disadari tahu-tahu diri ini terseret banyak hal yang tak dinyana ternyata hebring sekali. “Alah siah, naha janten kieu? :(“

    Yak inilah diri ini yang lupaan dan cerobohannya sedang kambuh sekian puluh jam terakhir. Tak tahu apa pemicunya. Berlalu bergitu cepat seperti sunrise yang terlihat dari satu titik di Gunung Putri. Belum lagi kondisi di sekitar membuat lupa waktu. Fajarnya tampak terang, cahaya ufuknya bisa terlihat. Matahari bersinar berani serasa sudah siang padahal masih pagi. Ada bias waktu dan rasa. Membuat diri ini membuat asumsi sendiri untuk mendefinisikan sedang apa dan bagaimana detik ini berlangsung. Padahal lebih tepat jika disebut detik ini berlari, namun samar kabut membuatnya terlambat tersadar. Matahari tengah bersiap mengejutkan dalam sekejap.

    Ini terlalu cepat huhu rasanya aku tidak bisa mengimbanginya.

    Menarik diri bersantai barang sekejap tahu-tahu menyadari bahwa diri ini tengah ada dalam miskomunikasi. Lupa saja terus. Kemudian mengiyakan hendak membantu. Padahal sebelumnya telah deal dengan sesuatu. Ketika dalam sekejap ingatan timbul utuh, terimakasih kepadamu yang telah bersiap untuk menerima assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
    ya dari aku. Mengirim chat tanya random seperti biasanya hanya saja dengan tambahan indikasi ada seusatu tak beres terjadi. Atau mengirim voice note sebagai pengganti bubble chat yang akan terlalu panjang. Kemudian dibalas jawabmu dan tanyamu balik. Atau dibalas “sebentar, ngakak dulu”. Atau juga dibalas “ayo ketemu aku hari ini, kamu butuh katarsis”.

    Sungguh, aku harus lebih banyak bersyukur atas kehadiran manusia-manusia ini.

    Kemudian yah inilah aku yang tengah kambuh. Riweuh sekali perkara lupa dan ceroboh ini. Lupa akan apa yang sudah disetujui. Lupa pemeringkatan urusan utama diri. Ceroboh karena bisa-bisanya lupa akan hal tersebut lalu impulsif abis menyauti permintaan dari yang punya minta.


    Ini belum pula bahas ceroboh perjalanan malam >33 km. Alhamdulillaahnya bonceng Dewi, kalau tidak mungkin aku sudah menangis di tepian hehe.


    Eh sungguh, bagaimana caranya selalu menyadari bahwa sekejapnya bisa mengubah hari, memainkan temperatur, memberi sorot cahaya, membangunkan manusia pada rutinitas yang semoga dilakukan dalam rangka pencarian keberkahan?

    Hadeh. Semoga kamu selalu bersabar menghadapiku ya.


    Bandung Timur, 16:52 WIB 10/10/2019
    biasanya gaya tulisan kaya begini ditaronya di tumblr tapi gapapadeh.

    Continue Reading

    bismillaahirrahmaanirrahiim.



    Wa maa taufiiqi illa billah.

    Kebaikan itu datang hanya dari Allaah dan hanya atas izin-Nya. Apa yang baik menurut kita belum tentu baik bagi Allaah. Allaah Maha Mengetahui dan kita sama sekali tidak tahu apa-apa.
    Definisi baik dalam kehidupan ini bahkan seringkali berbeda-beda. Mungkin bisa sama setelah akhirnya sudut pandang kolektif yang memutuskan. Maka lahirlah tatakrama, budi pekerti, dan sejenisnya. Tidak selamanya baik itu relatif dan tidak selamanya seabstrak itu. Namun di sini yang digarisbawahi bukan ‘apakah ini baik dan itu buruk?’, tapi bagaimana diri ini memperjuangkan apa yang baginya baik dan tidak merasa benar sendiri.

    Hari ini mungkin ada banyak opini berseliweran, mana yang baik dan mana yang tidak menjadi amat membingungkan. Banyak yang (merasa) tahu kemudian berangkat memperjuangkan sesuatu. Banyak juga yang mengaku belum tahu namun berangkat juga memperjuangkan sesuatu. Berangkat dalam langkah jasadi, fikri, atau qalbi, bisa jadi ‘kan? Mendukung satu hal dan menolak hal lainnya. Jika dirasa memang itu benar, selamat berjuang. Disayangkan ketika orientasi saat melangkah tahu-tahu berbelok dan akhirnya dirasa tidak baik dari segi sudut pandang kolektif.

    Serang personal rasanya ngga banget. Menarik kesimpulan dari langkah yang dilakukan oknum juga rada gimana gitu. Kebenaran jadi korban, yang baik jadi blur, padahal mungkin banyak sekali orang berpikiran jernih dan berhati bersih yang sudah mengambil langkah tepat tapi akhirnya tersamarkan asap dari yang tetiba bakar-bakar di tengah jalan.

    Balik lagi ke kalimat awal, kebaikan itu datang hanya dari Allaah dan hanya atas izin-Nya. Garis bawahnya ada di ‘sudah sebanyak apa kita memohon ditunjuki kebenaran dan hal-hal baik sama Allaah’, jika memang sudah merasa memegang hal baik lantas sudah mengambil langkah baik apa untuk akhirnya ketika ditanya “Kamu udah ngapain di dunia?”, tidak perlu menggelepar kebingungan.

    Kebaikan itu datang dari Allaah, dengan atau tanpa langkah yang kita ambil. Berhubung kita yang butuh, mari andil dalam hal baik itu. Ingat dulu untuk minta petunjuk sama Allaah.




    Sepertinya  main hujat dan menjatuhkan harga diri sesama Muslim itu kayanya ngga baik, ya tidak? Mari beristighfar bersama. Ngga bagus juga keseringan menghina negeri sendiri apalagi sampai lupa doakan kedamaian untuknya.

    Wa maa taufiiqi illa billah.

    Continue Reading
    bismillahirrahmanirrahim

    captured pada masanya, sebelum ramai oleh hasil menjarah pamerannya ovin.
    bingung di postingan ini mau simpen gambar apa hehe

    Ini cerita mengenai takdir, qada dan qadar ya?
    Masing-masing kita pasti minimal melakukan sebuah pertimbangan  minimal sesaat sebelum melakukan sesuatu. Sebagian orang memang terbiasa menata hidup, detik demi detiknya direncanakan detail dan komitmen untuk mewujudkannya. Sebagian lainnya yang mengakui menganut improvisasi tanpa batas pun memiliki fase mengeluarkan sebuah keputusan.

    Masing-masing kita memiliki fase atau periodisasi ujian, sadar atau tidak. Di balik setiap perencanaan yang dibuat, ada perencanaan lebih besar dan sempurna, telah tertulis dan hanya Rabb semesta alam yang mengetahui. Hubungannya dengan ujian?

    Bagaimana jika poin-poin rencana yang kita goreskan di atas kertas kemudian terpaksa harus disilang. Bagaimana jika goresan ceklis hanya tiba di list milik kawan seperjuanganmu saja, padahal sebelumnya semua itu dirumuskan bersama. Bagaimana jika sedetik yang lalu baru saja list komitmen dirampungkan, sedetik kemudian tiba panggilan yang membuat list tersebut tidak dapat terlaksana.
    Bagaimana jika bagaimana jika di atas adalah sebuah bahan kontemplasi dan bisa jadi menjadi alat ukur kadar keikhlasan. Semua telah ditulis oleh Yang Maha Sutradara, dan itu pasti yang terbaik. Tentu perlu diingat bahwa kita semua memiliki pilihan jalan, menjadi ujian juga apakah berada di jalan yang Allah ridhoi masuk ke dalam arah hidup yang kita kehendaki.
    Menuju arah yang baik, dengan jalan yang baik, mantep tuh. Niat baik jika jalan tempuhnya belum baik, bagaimana ya?
    Eh kok ke sini.

    Maka sesering mungkin akhirnya ada kebutuhan menengok list komitmen dan agenda yang telah berusaha disusun. Menelusuri apakah jalan yang saya telusuri selama ini sudah baik, dan terarah-- pada-Nya?
    Apakah ketika kotak-kotak ini bukan saya ceklis namun saya silang, respon saya baik? Kecewa atas diri sendiri, menyalahkan orang lain, atau "Santai deng, besok aja" dan ga berasa apa-apa?
    Apakah ga berasa apa-apa itu baik?
    Wkwk soalnya ya gitu sering :( Dan seringnya, silang-silang muncul karena menunda hue.

    Trending awal tahun biasanya adalah resolusinya. Kalau begitu, berarti awal tahun saya banyak banget wkwk. Nice, jika emang tumbuh resolusi baru karena resolusi sebelumnya sudah terceklis. Kalau karena kertasnya ilang terus lupa kemarin nulis apa terus jadi bikin lagi ajadeh, ya gimana ya.

    Menulis resolusi adalah sebentuk wujud niat awal menuju arah yang lebih baik, dan evaluasi diri. Setiap waktu bisa jadi waktu yang baik untuk menulis resolusi dan evaluasi, berkontemplasi, refleksi.

    Semoga kita banyak punya waktu itu ya.
    Biar ga kalah sama dua yang di pundak, rajin banget nulis evaluasi diri kita dan kita ngapain. Biar kita ada pembelaan, "YaaAllah hamba ini sudah berusaha menghakimi diri sendiri dan meninggalkan apa-apa yang mestinya tidak dilalui. Hamba ini sudah berusaha memaknai porsi dan kesempatan usaha untuk menentukan ujung perjalanan dunia ini."




    Ini sepertinya #3.
    Continue Reading

    bismillaahirrahmaanirrahiim

    Mumpung masih banyak waktu luang, ‘banyak waktu luang’, belajar sebanyak-banyaknya, berusahalah habiskan walaupun sampai akhir pun tak akan habis ilmu tentangnya. Hingga pada masanya kamu (harus) siap, setidaknya nanti Sang Anak-(Anak) (hehe) akan mendapati bahwa Sang Ibu telah lama berjuang untuknya bahkan sebelum terjadinya persatuan dua kehidupan.

    Rasanya gerak para perempuan masa-masa kini –sungguh yang saya lihat di hadapan mata saya—saat ini adalah memang sebuah usaha membangun peradaban selanjutnya yang sebaik-baiknya. Selangit amat ngomongnya ya ampe peradaban. Tapi apa salahnya kekuatan sebuah kata yang dilambungkan menjadi sebuah doa untuk akhirnya ada dalam realita?

    Rasanya gerak untuk mempersiapkan sebuah generasi adalah lebih ... (isilah titik-titik berikut) (belum menemukan kata yang tepat) dibandingkan berhenti dan terbatasi dalam frasa ‘mempersiapkan pernikahan’. Bukan dengan maksud merendahkan salah satunya karena tidak ada yang lebih tidak penting. Tapi mencurahkan perhatian lebih terhadap hal yang dianggap lebih besar rasanya amat logis. Iya tidak ya?

    Rasanya jika memikirkan bahwa masa depan digenggam oleh anak(-anak)mu kelak, dibandingkan dengan ketika memikirkan bahwa hidupmu akan disatukan dengan hidup seseorang beserta dunianya kemudian apa selanjutnya; perhatian akan tercurah pada bagaimana mempersiapkan diri menjadi Ibu yang baik.
    Yak sebetulnya tidak bisa dan memang tidak bermaksud membandingkan karena untuk menapaki skala peradaban tersebut ada skala dua kehidupan yang harus dijejak juga.

    Rasanya walaupun tidak melogikakan alokasi perhatian untuk skala yang lebih besar (antara hidupnya generasi-generasi selanjutnya, dengan persatuan dua kehidupan), perasaan yang membuahkan gerakmu akan lebih abadi ketika kau ingat anak(-anak)mu kelak. Walaupun entah apa yang akan mereka lakukan.
    Berhubung perempuan dan laki-laki memang diciptakan berbeda, maka tadi diangkat sudut logika dan perasaan.

    Rasanya jika memang perasa-nya perempuan lebih dominan, ia akan membawamu ke langkah yang lebih besar ketika dimaksudkan untuk anak(-anak)mu. Dan ternyata ketika dimasukkan ke dalam logika, langkah yang besar itu untuk anak(-anak)mu juga. Harap maklum ini masih sekilas perasaan dan pandangan saya yang masih kurang main dan ya emang belum nikah jg wkw ya yang udah kebayang aja tanggungan ini amat (lebih?) besar.

    Jadi sebetulnya inti dari semua bahasa yang belibet dan muter-muter ini adalah jangan terbatasi di mempersiapkan pernikahan aja si, tapi mempersiapkan sebuah peradaban. Hidupmu bersamanya lebih singkat dibanding kalkulasi hidup anak(-anak)mu ditambah cucu-cucumu, cicit-cicitmu, dan seterusnya belum ditambah pasangan ama keluarga anak cucu cicit itu pula.

    Jadi sebetulnya inti dari semua ini adalah jangan terbatasi di mempersiapkan pernikahan aja si, tapi ya kurang rame aja kalo isi postingannya cuma “persiapkan dirimu untuk peradaban karena kalau persiapkan diri buat nikah aja mah ya sesingkat dan masih sesempit itu”. Walaupun yakin kok masih sangat banyak yang sudah memasukkan skala peradaban dalam frasa mempersiapkan pernikahan. Tapi yang senang aja dengan yang dikatakan dengan gamblang, lebih kena.

    Kata peradaban akan selalu menjadi terlalu jauh dan abstrak kalau tak belajar.
    Bertanya-tanya aja Sekolah Pra Nikah di Salman udah ada yakan Veb promosi-promosi kamu dapet awareness dari aku nih selamat ya. Tapi Sekolah (Calon) Ibu belum ada wait dah nanti saya garap.
    Tanpa sadar di awal paragraf-paragraf teks ini saya pakai kata "rasanya". Kalau itu terhitung perasa, alhamdulillah ya berarti saya benar perempuan.
    Continue Reading

    bismillaahirrahmaanirrahiim

    Hari ini yaitu kemarinnya kemarin lusa, aku kembali meniti jalan Cibiru-Ganesha. Niat mula wawancara, dilanjut bercengkrama. Namun realisasi nyata hanya ada pada hal kedua wkwk. Ya, jadinya aku batal wawancara dan lanjut maiin ke kosan Dila. Sebetulnya aku memang bilangnya ke Ummi mau main ke Dila sih wkw ya mungkin itulah jadinya.

    Kemarin aku baru chat Firza, randomly. Bilang rasanya udah lama ga ketemu anakanak IC. Terus udah deh beres thread chatnya. Gajelas ‘kan? Biasa, namanya juga Shaffa. Yang jelas Firza bingung soalnya ya wajar lama ga ketemu orang-orang, semua juga libur. That’s true.
    Kemudian hari ini bertandang ke kosan Dila yang amat langganan aku repotiin.

    Untuk apa? Nggak tau. Tidak ada rencana pasti.
    Dila ini adalah korban wacana terbanyak dari aku kalau dipikir-pikir. Dari mulai jalan-jalan kemana-mana, makan, belajar, proyek, lomba, bisnis, banyak sekali yang berujung hayu-hayu tapi belum implemented hue sedih ya. Dila ini sudah menyaksikan ragam ekspresiku, naik-turunnya, seuri-sedihnya, mendengar dan menyaksikan sekian banyaknya episode dengan ragam genre yang lebih sinetron dari sinetron manapun. Kadang mungkin ikutan terbeban (?) tapi overall Dila selalu bisa memberikan respon yang menyenangkan dan menjadi pendengar yang baik.
    Tentang kebiasaan wacana dan kurangku yang lain, dimaafin 'kan ya Dil? :")

    Dari obrolan-obrolan yang dilakukan sebetulnya aku mendapatkan banyak hal, pembelajaran dan sarana berkaca. Kenapa kok berkaca? Di dalamnya aku mendengar sendiri bagaimana aku berbicara, apa yang kusampaikan. Kemudian beberapa saat setelahnya, aku mendapat poin "Oh harusnya aku begini, harusnya aku ga begini," dan seterusnya.

    Mengunjungi teman pun mengingatkan diri bahwa "Hei lihat kawanmu sudah ada dalam keadaan lebih baik dari sebelumnyaa alhamdulillah, kamu gimana?"

    "Ada orang yang hanya dengan melihatnya, itu cukup membuatmu ingat kepada Allah, bicaranya cukup menambah amalmu dan amalnya cukup membuatmu rindu akhirat."
    - KH. Rahmat Abdullah

    (Sebetulnya aku harap) selalu ada ruang untuk mengobrol dengan kawan(, tapi kadang malah aku yang terbenam sendirian). Kadang obat migrainku adalah kumpul. Kadang. Beberapa kali berhasil dalam kasus aku diseret buat kumpulnya, terpaksa berhubung kalau pulang puyeng banget wkwk.

    Aku selalu senang mengobrol dengan banyak orang. Katanya orang ekstrovert lebih mendapatkan energi ketika bersama dengan orang lain. Jadi, terimakasih sudah mau mengobrol dengankuu wkwk. Kalau casenya lawan bicara ternyata malah kehabisan energi ketika bersama orang, terimakasih telah mau memahami diri ini lebih.

    ---

    Saya sebetulnya dari dulu ingin sekali mereview satu per satu orang yang saya temui, kenali, dan kemudian punya cerita. Namun keterbatasan selalu ada, dan ternyata ingat-lupanya manusia memang perlu adanya. Jika ingatan monoton saja, tidak ada kadar berkesan atau tidaknya, rasanya kurang asik iya ga sih?
    Ya kalo ngga juga gapapa si.


    Terimakasih, Dil, sudah selalu menjadi pengingat secara langsung maupun tidak langsung, sadar tidak sadar. Semoga sampe kamu punya anak nanti, atau mungkin di alam setelah ini, kita masih selalu bisa ngobrol ya.
    Terimakasih kepada kawan-kawan yang menjadi teman ngobrol Shaffa!
    Continue Reading


    bismillaahirrahmaanirrahiim.

    Ini judulnya entah darimana. Tapi saya di sini mau cerita tentang suka duka bermotor (?). Sebetulnya ini kejadian seminggu beberapa waktu lalu. 

    Kalau waktu itu di perkenalan ditanya apa hal yang tidak disenangi dan saya jawabnya macet, polusi,  dan mager; ⅔nya berasal dari perjalanan yang dilalui sehari-harinya. Perjalanan dalam arti betulan a ride ya. Walaupun begitu, dibalik segala sesuatu pasti ada makna untuk dicari, ada hikmah untuk dituai, ada celah untuk bersyukur. 

    Jadi, saya (dulunya) adalah seorang yang lupaan dan ceroboh (kata orang-orang) (dan ya benar). Terutama awal kuliahan, saya mendapat banyak kasus yang berhubungan dengan 1. kunci motor, 2. kunci kosan, 3. kunci loker, 4. kunci lainnya. 
    Mendapati hal ini saya agak mempertanyakan kenapa suatu properti syarat masuk ke dalam sebuah area/ruangan dinamakan kunci. 
    Ga ngaruh ketang. Saya tetep ada kasus dengan benda sejenis itu. 
    Ada yang bilang bahkan Shaffa seperti "Sad" di film Inside Out: melakukan kesalahan terus, udah minta maaf, ngulang lagi, dan seterusnya. He tapi ga separah itu kok geng karena semua ada untuk memberi pelajaran, saya jadi belajar! 

    Solusi permasalahan kunci ada pada memberi gantungan kunci sebesar-besarnya pada kunci Anda. Beri pula penanda/tag bahwa itu milik Anda dan beri kontak Anda kalau-kalau ditemukan orang lain. 
    Simpel he-eh kenapa saya dulu merasa ini problematika yang amat rumit ya. 

    Nah, kemudian terjadi kembali kambuhnya kejadian semacam ini, minggu lalu. 2x7. Dua kali dalam 7 hari. Sebelumnya, saya sudah amat sembuh dalam waktu yang cukup lama dari sebuah fenomena bernama "kehilangan tiket parkir". Tapi entah kenapa kembali. Mungkin saya harus lebih banyak dzikir. 
    Ada yang menarik dari sebuah tiket parkir yang berupa sebuah kertas persegi kecil tipis dengan garis-garis hitam barkode yang keluar dari sebuah mesin ketika dipencet sebuah tombolnya, bersamaan dengan sambutan nyaring dari sananya "Selamat datang, ambil tiket parkir Anda, silahkan masuk" yang jarang utuh terdengar karena orang selanjutnya sudah kembali mencet tombolnya. Begjtu seterusnya. 

    Intinya ia adalah hanya sebentuk kertas. Namun memiliki nilai dan muatan yang cukup besar bernama amanah. 

    Bicara amanah, ia belum tentu kasat mata. Jikapun ya, belum tentu besar ukurannya dan menggambarkan betapa beratnya ia. Seperti tiket parkir, kecil dan mudah renyek begitu bisa berharga duaribu sehari bahkan duabelas ribu + STNK jika hilang :((

    ...duabelas ribu + STNK jika hilang :((

    Amanah dalam bentuk persegi kecil itupun sebegitu bernilai karena orang-orang percaya. 
    Orang-orang percaya itu adalah syarat untukmu parkir, syarat untukmu keluar parkiran, dan menjaganya berarti menyelamatkanmu. 
    Dan itu baru sebuah tiket parkir. Bagaimana bahasan tentang perkuliahan, akademik, organisasi, uang, keluarga, hidup, mati?
    Hidup ini fana dan senda gurau, tapi semuanya adalah amanah..

    Lahirmu bermula dari amanah. Allah karuniakan pada rahim Ummi-mu, kemudian syukur terpanjatkan alhamdulillah yaaRabb berarti Engkau telah percaya pada hamba-Mu ini. Merawat dan mendidik seorang anak untuk siap menerima amanah pun amanah. Ya?
    Kemudian matimu pun amanah. Mengenai seperti apa kondisimu nanti saat Izrail menyapa. Apa yang kau bawa. Apa kesaksianmu saat ditanya. Dan sedemikian banyaknya pertanggungjawaban atas apa yang dilakukan.

    Tanggungan lahir ke bumi Allah dan akhirat setelahnya tidaklah sama sekali ringan. Jika saja teman-teman berujar "barakallah wa innalillah, semoga amanah ya," ketika dirimu mendapatkan sebuah amanah dan rasanya sedemikian berat kala itu, bersyukurlah selagi dirimu masih bisa merasakan bahwa sebuah amanah tak pernah ringan. Juga beristighfarlah, mengapa dirimu baru rasakan pundakmu terasa seberat itu padahal amanahmu di muka bumi ini sudah tercatat track record-nya sejak setidaknya akil baligh datang. Dan rasanya mungkin sering sekali lupa kiprahnya dahulu mengalir begitu saja tanpa sadar bahwa yang dijejak adalah amanah.

    Amanah. Aman? Ah. 
    Ah :( bahkan rasanya memilih untuk tidak ditanya.

    Ketika orang percaya bahwa kertas kecil itu adalah amanah, begitupun amanah yang disampirkan ke pundakmu; ada karena sebuah kepercayaan. Ketika kertas kecil itu ada harganya, bagaimana dengan yang tak kasat mata ya. Bagaimana dengan yang mungkin baru terlihat ketika dituliskan dalam kolom riwayat organisasi dalam cv saja. Itupun baru terlihat, bukan terasa. Tiket parkir baru terasa berharganya ketika hilang, bukan jadi acuan jika ingin merasakan berharganya amanah lainnya harus kehilangan dahulu 'kan ya..

    Semakin menyadari bahwa amanah merupakan suatu yang berharga menandakan penghargaanmu terhadap kepercayaan. Kesadaran akan harga yang tak terbilang seyogyanya tidak membuatmu berdiam dan bermalas diri bukan? Karena hidup adalah amanah, matipun amanah. 

    Beruntunglah jika menemukan celah untuk bermalas; benarkah ada? Manusia memang senang merekayasa dan membuat-buat. 

    YaaRabbana, ampuni kami yang banyak lalai.

    polognya panjang, lama-lama speechless sendiri...................

    Continue Reading

    bismillaahirrahmaanirrahiim


    Adalah sebuah kesyukuran mengingat ada beberapa momen di Indonesia yang mengajak kita semua untuk berdiam sejenak, memanggil kembali ingatan, mengenang jasa-jasa orang yang telah lalu hingga yang ada di sekitar kita. Bukan untuk terbuai dalam lamunan, namun untuk senantiasa bersyukur. Betapa Mahabaik Allah SWT. mencipta dinamika kehidupan ini untuk diambil pelajarannya.

    Lur, bicara tentang orang keren dan momen-momen yang ditandai di kalender Masehi, kayaknya Dulur semua sudah banyak membaca tulisan tentang Kartini berseliweran dimana-mana. Ada banyak sekali versi; mengenalkan sosok bernama Raden Ajeng Kartini yang merupakan salah satu pahlawan perempuan Indonesia secara langsung, mengenalkan pejuang-pejuang perempuan lainnya yang jarang terdengar namun sepak terjangnya maasyaAllah, mengupas kisah shahabiyah yang tentunya menjadi teladan bagi kita, atau mungkin berkisah tentang ibunda tercinta yang selalu menguntai doa terbaik untuk anak-anaknya.

    Ketika Ummul Khadijah binti Khuwailid menjadi sosok perempuan yang sukses berniaga, sepantasnya kita para perempuan memiliki manajemen sebaik beliau. Ketika Fathimah binti Rasulullah menjadi sosok yang setia mendampingi perjuangan hinga medan perang, sepantasnya kita para perempuan tidak terpikir untuk bermalas. Ketika Rohana Kudus, Rahmah el-Yunusiyah, dan banyak lagi tokoh lainnya yang telah memperjuangkan pendidikan untuk para perempuan dan tak lupa akan ketaatannya pada Allah SWT., sepantasnya kita para perempuan untuk selalu mendekat pada-Nya dan menebar manfaat karena-Nya pula.

    Lur, betapa banyak pelajaran yang bisa kita petik ‘kan. Contoh di atas hanya sebagian keciil yang mestinya menggerakkan (tidak hanya) setiap perempuan untuk bersemangat. SEMANGAT UNTUK PARA (calon) IBU PERADABAN!

    Setiap orang punya sosok Kartini masing-masing, ya ‘kan Lur? Maka kepada setiap perempuan yang sedang (dan sudah, atau mungkin akan? (ahlan wa sahlan yang SNMPTN)) menimba ilmu di Kampus Gajah ini, kepada setiap perempuan yang memiliki jiwa semangat menebar manfaat, kepada setiap perempuan di seluruh penjuru dunia yang nafasnya adalah perjuangan menjadi lebih baik, membaikkan sekitar, dan membaikkan dunia, GAMAIS ITB ucapkan barakallahulahunna, semoga Allah selalu rahmati langkahnya~

    Continue Reading


    bismillaahirrahmaanirrahiim

    Helaan napas terkadang memberi makna harap ada beban yang terangkat, sadar tidak sadar. Manusia memiliki tanggungannya masing-masing, pada kadarnya masing-masing, untuk diiringi dengan usaha masing-masing. Yang kutahu, dalam setiap satunya belum tentu tiada irisan dengan milik yang lainnya. Bisa saja ini adalah tanggungan bersama, atau bahkan tanggungan seluruhnya hanya saja merupakan pilihan apakah hendak terjun atau tidak.

    Mendapati bahwa diri ini tidak sendiri memekarkan kebahagiaan tersendiri. Atau mungkin lebih tepatnya kebahagiaan bersama? Ya. Jika dalam urusan ini aku tidak justru memberatkan tanggunganmu hehehehehe.
    Nyatanya, sendiri - bersama-nya kita dalam satu tanggungan yang sama terkadang bergantung pada asumsi saja. Terkadang fakta yang bertolak dengan asumsi pada akhirnya membuat seseorang merasa sendiri dalam keramaian. Ini bahaya. Namun terkadang pula dalam kesendirian yang dirasa hanya suasana hangat, "aku tak sendiri". Inilah semestinya yang dipunya. Nyatanya seorang hamba tak mungkin melangkah sendiri di dunia yang teramat fana ini.

    Aku tau bahwa masing-masing kita mungkin belum seutuhnya satu kata. Setidaknya mengisi waktu dan diri bisa disambi selagi mencari arti. Namun perlu kita sadari, apapun makna dan arti yang dicari, muara hanya ada pada Ilahi.
    Ini kerja peradaban, kerja jangka panjang walau tak kamu sadari. Bagimu yang belum terpikir untuk menjadi salah satu bagian kecil dari proyek ini, bersyukurlah ketika yang kau lakukan untuk diri sendiri setidaknya telah ditekuni. Sadar tak sadar, kau telah mengambil andil dalam mempersiapkan sebuah kemenangan. Bersyukurlah pula ketika kau belum lakukan apa-apa - walaupun tidak mungkin tiada sama sekali. Untaian yang amat indah adalah alhamdulillah 'alaa kulli haal, bukan?

    Kamu tidak pernah sendiri dan dilarang keras untuk merasa sendiri. Sesungguhnya kita tengah menunaikan amal jama'i. Dengan relung hidup masing-masing, langkah kita mungkin tidak sama. Namun semua seirama. Warna mungkin tidak sama. Namun lukisan kaya makna terukir dari miliaran gurat warna yang membentuk gradasi, warna yang langsung timpang ataupun tidak, itu tetap sebuah kreasi. Kita sedang meniti hari. Dalam sebuah bingkai bernama pedoman syar'i, bersama dalam koridor yang diridhoi.

    Kamu tidak pernah sendiri dan dilarang keras untuk merasa sendiri. Ketika fakta belum serima, ada sebuah keharusan untuk ingatkan lainnya, kamu dan aku bersama. Sembari berujar dengan sesama, rasa sendiri tetap dilarang ada. Allah ma'ana, ya 'kan?

    Tumbuhnya rasa kebersamaan masihlah bergantung pada jenis bibitnya. Ada yang cepat memekarkan diri dan bertahan dengan migrasi serbuk sari, ada yang menunda kemunculan ke muka bumi sedemikian lamanya demi merangkai akar yang kokoh, ada yang berupa batang dilempar tumbuh, ada yang menunggu sapaan mentari lebih dahulu sebagai syarat untuk tumbuh. Ragam! Namun taman firdaus rasanya mustahil berisi satu jenis tumbuhan saja. Semakin berwarna semakin indah, 'kan?

    Maka bersabarlah hingga ia tumbuh pada waktunya. Kebersamaan akan tumbuh dengan sendirinya, akan lebih terasa menyenangkan pada akhirnya jika dengan usaha dari setiap komponennya.

    Kalian tau? Setiap orang sah untuk takut. Takut merasa sendiri menggerakkanmu untuk bersama. Takut kurang bekal menggerakkanmu untuk mengisi diri.
    Setiap orang sah untuk trauma. Trauma membuatmu lebih antisipasi, menggerakkan untuk memasang diri sebagai pengondisi kebersamaan.
    Dalam tenggelammu akan kebersamaan ini, akan tiba masanya kau mendengar kalimat "Aku sangat trauma kalau ada yg bilang sendirian-sendirian gitu" terasa amat mendalam.

    Sehat-sehat ya semua!



    Continue Reading
    bismillaahirrahmaanirrahiim



    Pernah sakit hati? Aku pernah. Sering malah. Keselnya, udah sekali ngalamin, masih saja ngulang kasus yang sama di lain waktu. Mancing penyebab, ya wajar sakit hatinya terus-terusan. Patut marah-marah? Ngomel aja sama diri sendiri, tapi ya jangan masuk telinga kanan keluar telinga kiri.

    Minta orang ngingetin kok bagian diri sendiri yang ngingetin kaya angin lalu aja. Gajelas.

    Ini sakit hati yang lebih pedih dari apapun. Jangan pernah mau coba walaupun gapercaya sepedih apa. Penyesalannya akan menghantuimu. Kesedihannya terlalu menyakitkan. Walaupun semenyakitkan itu, anak ini masih aja suka lupa diri, keasikan sama 'urusan' lain. Akhirnya, nemu momen yang serupa, sakit hati lagi. Sedih lagi. Apa dah maunya.

    Mikir kuat karena ketimpa sakit hati berkali-kali masih bertahan? Yeu mana ada kuat. Itu hati dan pikiran dipake lah. Jangan sampe kebas, na'udzubillah.

    Sakit hati ini bisa membawa sindrom tangis ga karuan. Tangis yang gajelas. Tangis yang menyayat hati. Orang bakal tanya kenapa, terus ini gabisa jawab. Kenapa? Takut. Takutnya air mata ini mubadzir. Sedih sekarang, kesalahannya terulaang lagi.

    Air matanya nanti ngasih kesaksian apa ya di hari akhir. Ini nangis, betulan nyesel ga sih?

    Ini sakit hati yang membingungkan. Kalau gamau sakit hati ya berhenti, kata orang-orang. Berhenti apa? Berhenti mengulangi kesalahan. Susah ya? Kalo ga susah, ini anak kayanya gaakan ngulang lagi deh. Cuma ya yang namanya susah itu persepsi sih. Diri yang berikhtiar, Allah yang mampukan.

    Laa haula wa laa quwwata illa billah. Bukan gabisa. Manusia dikasih karunia untuk memampukan diri. Malah wajib lah kalau menjaga kalam-Nya.

    Ngerti sakit hati apa?
    Anak ini sering sakit hati dan masih aja mancing penyebabnya. Sakit hati jarang muraja'ah, sakit hati belum ziyadah-ziyadah, sakit hati belum amanah. Amanah Allah. Amanah dunia. Amanah buat selalu menjaga kalamullah. Amanah untuk punya hafalan, seengganya buat bekal generasi berikutnya. Enggan ngafalin karena takut gabisa jaga? Anakmu dibacakan apa nanti kalau lagi ngga mampu pegang versi tekstual? Kalau mata sudah rabun, apa daya?

    :(

    Anak ini bandelnya bukan main. Dimarahin iya minta maaf, terus ngilang lagi. Setorannya musiman. Alesannya kuliah lapangan, pengamatan, dan ambil data. Dateng ke rumah tetehnya cuma wacana enam bulan. Bandel banget ya?

    Anak ini ngga mau kebal sakit hati. Anak ini masih mau ngerasain sakit hati buat alarm yang bisa menguatkan dia ga asik sendiri. Ga jamin sampe mati nanti, anak ini ga bakal mancing penyebab sakit hatinya lagi. Jadi, anak ini butuh diingatkan untuk selalu muraja'ah dan seterusnya. Boleh boleh kalau mau bantu.

    Long life hafizhah itu pekerjaan seumur hidup.
    Cita-cita? Iya. Pekerjaan yang harus jadi cita-cita.
    Keutamaan bagi hamba yang menjaga kalam-Nya.
    Long life hafizhah bukan bicara kuantitas (aja). Ada lah ya penekanan dalam long-life.

    Jadi, jadi hafizhah teh dari sekarang. Kamu itu hafizh/ah, penjaga apa yang kamu pegang. Kewajibannya ya setarakan sama yang udah hafizh/ah 30 juz. Ga enteng? Iya. Jalan baik lebih berarti ketika perjuangannya lebih terasa.

    Bahas apa ini? Keterjagaan sepanjang hidup.

    Continue Reading
    bismillaahirrahmaanirrahiim



    Tidak bisa dipungkiri bahwa setiap manusia membutuhkan sebuah penghargaan, dihargai. Kasarnya, sikap menghargai ini merupakan salah satu bentuk pengakuan terhadap keberadaannya di muka bumi, lebih khusus lagi sebagai orang yang ada di sekitarmu. Terlepas dari judgement "kok pengen banget sih diakuin, songong" ke siapapun, bukan ya geng. Ini perihal muamalah.

    Etika dalam Keluarga
    Dalam sebuah keluarga, kita ketahui ada kepala keluarga, ibu, kakak, adik, mungkin juga paman, bibi, kakek, nenek, dan seterusnya. Setiap kedudukan memiliki peranan masing-masing dalam rangka menjaga keutuhan fungsi sebuah keluarga, sadar tidak sadar. Atmosfer yang dapat dijaga oleh setiap pemeran adalah lancarnya komunikasi. Ayah bicara, semua mendengar. Anak bicara, yang lain merespon, dan seterusnya. Terlepas dari hal-hal tidak menyenangkan dalam cara yang lain merespon, setidaknya respon ini merupakan sebuah bentuk 'pengakuan' bahwa sang pembicara ini ada dalam lingkaran kita. Betulkah?

    Tidak semua orang senang bercerita, berbicara, namun ada satu dan lain hal yang harus dijaga setidaknya untuk menunjukkan sikap kita menghargai posisi orang di sekitar kita. Hmm bagaimana memperjelas ini ya.

    Keluarga ini, hanya contoh kecil dan menggambarkan bahwa sikap menghargai se'seumur hidup' itu untuk dijaga. Bangun dan tidur kita tidak jauh dari peranan sebuah keluarga. Entah keluarga kandung maupun orang lainnya. Tidak salah 'kan, menganggap orang yang tidak sedarah itu keluarga?

    Apalagi, setiap muslim adalah saudara bagi yang lainnnya.

    Struktur
    Sebagaimana halnya keluarga yang memiliki struktur masing-masing, ada bentuk-bentuk keluarga lain di luar sana; organisasi, kelas, kantor, lembaga, komunitas, dan lainnya. Sekonsep dengan keluarga? Ya, untuk beberapa hal. Perihal kepentingan untuk menghargai, ya tentu. Ada sebuah alur koordinasi dan pengawasan baik kasat mata maupun tidak, baik tertulis maupun tidak. Bagaimanapun, alur itu ada. Sebagai seorang manusia yang tergabung dalam sebuah 'organisasi' kehidupan, ada peran untuk mewujudkan sikap menghargai anggota lainnya.

    Terlepas dari adanya struktur atau tidak, rasanya tidak salah jika seseorang bertanya padaku mengapa begini mengapa begitu bagaimana kabarmu apa yang terjadi akhir-akhir ini dan seterusnya. Mungkin untuk beberapa kasus aku terdistraksi, merasa diintervensi, namun rasanya tidak apa. Langkah selanjutnya yang bisa kuambil adalah memberi sebuah respon yang lugas, mana batasan jawaban yang bisa ia dengar dan mana yang tidak. Ketika jawaban yang bisa ia dengar tidak ada sama sekali, dan aku berhasil mengungkapkan ketidakmampuanku untuk mengatakannya, ada peran lawan bicara yang bisa diwujudkan; menghargai jawaban 'tidak' tadi.
    Hehe komanya banyak banget ya.

    Ungkapan jawaban "maaf saya tidak bisa menyampaikannya" bisa beragam, bergantung pada kemampuan lawan bicara untuk memahaminya. Hendaknya disesuaikan sih.
    Perwujudan sikap 'menghargai' ini hendaknya tidak hanya searah. Pertanyaannya padaku merupakan bentuk penghargaan, pengakuan bahwa aku masih ada di lingkarannya. Jawaban sesederhana apapun merupakan bentuk penghargaan, pengakuan bahwa ada yang peduli dan bertanya padaku, terimakasih.
    Jawaban yang menggantung sama sekali tidak menyenangkan wkwk. Maaf untuk semua anggota keluarga kehidupan yang merasa pernah 'tergantungkan'. Boleh kontak lagi kalau-kalau aku skip. Hampura inimah.

    Semangat menghargai!
    Semoga kita selalu bisa belajar menghargai dengan cara yang sebaik-baiknya :)
    Continue Reading
    bismillahirrahmaanirrahiim




    Permasalahannya, manusia sering menganggap, hidupnya begitu panjang sehingga sibuk memikirkan apa-apa yang hendak mereka lakukan. Padahal, di hadapan sejarah, berapasebenarnya nilai riwayat hidup kita?
    -Muhammad kepada Elyas, tetralogi Muhammad oleh Tasaro GK.

    Hal semacam ini sangat terasa akhir-akhir ini. He engga deng. Sudah sejak lama aku dibingungkan atas sesuatu semacam manajemen komitmen diri. Perihal memposisikan diri, dimana semestinya aku berada di suatu waktu, dengan niat apa aku berbuat kala itu.

    Huruf yang teruntai di atas sebetulnya ada sejak berbulan lalu. Lebih dari setahun, bisa jadi. Iya ini adalah sebuah draf pada mulanya. Sepertinya akan kulanjutkan.

    Kita semua sama-sama tidak mengetahui sampai kapan umur kita dicukupkan. Kita semua sama-sama tidak mengetahui bagaimana kondisi kita kala itu.
    Bukan tuntutan bagi seorang yang menginjak usia duapuluhan untuk lebih banyak berpikir tentang hidup dan matinya. Ini sesungguhnya merupakan sebuah kebutuhan yang hendaknya dirasakan semua hamba, hamba dari Dzat Yang jiwa Shaffa berada di tangan-Nya.

    Hanya Allah Yang Mengetahui kapan detak jantung ini berhenti. Waswas? Harus. Ini bukan waswasah yang bisikan setan ya tentunya. Waspada. Kalau tau kepastian hanya Allah yang tau, wajar untuk khawatir? Wajar. Sebuah kewajaran ini, sewajarnya memunculkan sebuah langkah baru dimana "aku harus menjadi hamba yang sebaik-baiknya" menjadi dasar bergerak.

    Indah pada akhirnya merupakan sebuah kewajiban dan cita-cita setiap muslim. "Gapapa yang dinilai kan proses" ini nyatanya tidak berlaku dalam konsep kematian. Sebentar, mari kita perjelas.
    Proses hidup yang baik bahkan dari saat dimana ia lahir tidak akan terhitung baik ketika diakhiri dengan sebuah amal syirik. Iya tidak?
    Proses hidup yang bergelimang kemaksiatan ketika diakhiri dengan taubat yang sesungguhnya, Allah menerima. Iya tidak?

    Ketukan untuk setiap orang yang terketuk (?). Kepada diri yang menyadari bahwa akhir hidup kita harus secantik mungkin, bersemangatlah. Sesungguhnya tantangannya di sini adalah kita tidak mengetahui kapan ujung kehidupan ini tiba. Maka "yang penting akhirnya baik biarin aja prosesnya" ini menjadi tidak berlaku. Setiap proses hidup yang kita lalui bisa saja menjadi penghujung kehidupan. Maka secara logika pun semua orang mengerti, bahwa setiap proses harus dilalui dengan sebaik-baiknya.

    Aku tidak tau kapan catatan amalku ditutup, maka melazimkan istighfar menjadi hal yang amat berarti ketika kamu mengingatkanku.
    Continue Reading
    bismillaahirrahmaanirrahim



    Tiap-tiap dari diri kita pastilah ada keinginan untuk selalu bisa menjadi makin baik dari hari ke hari, dari waktu ke waktu. Tiap-tiap dari diri kita pun masing-masing memiliki cara untuk mengevaluasi diri. Salah satu yang bisa kulakukan adalah dengan bertanya, apakah kurangku, kawan?
    Aku senang bertanya. Namun di kali lain ketika mendapati orang lain bertanya padaku, aku mendapati hal lain.

    Shaffa kepada Gita, 13 Oktober 2017. Jatinangor, dalam deru hujan.

    Aku ingin mengutarakan sesuatu. Tentangku, dan kamu mungkin?
    Mengenai saat jika dirimu bertanya "Apa kekuranganku?". Aku mungkin akan sulit menjawabnya. Aku hanya akan menjawab dengan hal-hal yang secara logika dan syariat perlu diingatkan dan sebetulnya hal itu biasanya lebih bersifat naik turun. Iman kita memang naik turun, bukan? Ya biar aku ingatkan saat sedang turun juga jika aku memang sedang ingat pula.
    Aku telah menerimamu apa adanya.
    Aku telah menerimamu apa adanya hingga pertanyaan "Apa kekuranganku?" itu tidak bisa dan tidak perlu untuk dijawab.

    Aku tidak bisa menjawab pertanyaan semacam itu namun tetap bertanya pula kepada orang-orang apa kurangku wkwk kontradiktif.
    Ya tidak semua merasakan apa yang aku rasakan dan tidak semua bertindak sama dengan apa yang aku lakukan.
    Jadi begitulah, Git. Ingatkan saja kawanmu ini hehee

    -

    Kemudian aku mendapati yang menarik hati di results > analyze bit.ly/shaffabutuhdiingatkan :")
    Mengapa? Isinya sewujud serupa dengan isi obrolan Shaffa-Gita sore itu.

    Bertanya apa lebihku apa kurangku?
    Hal yang perlu diubah adalah hal yang pada dasarnya hatimu berkata 'tidak' untuk itu. Lagi-lagi, istafti qalbak.
    Di sisi lainnya, sometimes, kebaikan not meant to be mentioned hwehe :)

    -

    Obrolan 20 Oktober 2017. Bandung, bukan di dunia nyata.

    M: Bisakah kamu menentukan apakah seseorang taat beragama dilihat dari sifatnya?
    S: Korelasi taat agama memang ada ke sikap. Tapi sikap yang sudah melekat akhirnya jadi pembawaan sifat.
    M: Berarti taat agama bisa merubah sikap.
    S: Bisa sikap bisa sifat malah. Sifat kan berkaitan erat dengan akhlak iya ngga?

    Apakah relasi antara ketaatan seseorang dengan sifat?
    Ada banyak cara untuk mengeksekusi diri, mengevaluasi diri, bergantung pada bagaimana pesan itu bisa sampai ke dalam diri dan hati yang paling dalam.
    Ada banyak cara, jangan sampai tidak punya hehe. Bahkan menyendiri, merenung, menghakimi diri sama sekali tak ada salahnya. Asal pada akhirnya menemukan sesuatu yang bisa membaikkan diri, dan bukan berujung pada kekalutan. Allah Maha Pengampun dan Pemaaf.
    Intinya, harus punya cara.
    Semangat.
    Continue Reading
    bismillaahirrahmaanirrahiim.






    Suatu perbicangan di senja hari kemarin.
    "Kalau di rumahnya Pak ____, itu mah ya Teh, ____ yang kaka kelas Teteh, pekerjaan rumah tuh dibagi-bagi. Kan berbelasan anaknya, jadi kalau Umminya sibuk, ga capek pekerjaan rumah." cerita Ummi semangat.
    "Hehe." ini jelas siapa.
    "Berarti kita anaknya kurang banyak, Mi." ini Abah Fathya yang ngomong.
    "Ayo Mi, kita bagi tugas ajaa Fathya suka bingung soalnya." ujar saya.

    Jadi ini adalah sesi Ummi curhat berbagi cerita, tentang keteladanan sebetulnya. Bahasan dimulai dengan problema di sekolah. Anak-anak sekarang entah kenapa banyak banget yang jadi tukang-korban bully. Temennya sendiri dijauhin, dipalak, bahkan Faris pun pernah dipalak *sedih*. Ya walaupun dulu waktu SD juga aku anaknya preman yang bertaubat di akhir, tapi rasanya ngga separah cerita-cerita temen-temen Ummi tentang anak-anak di sekolah.

    Ini masih sekedar opini, ya. Aku belum terlalu banyak baca.
    Jadi sepertinya problema mendasar di Indonesia terletak pada pendidikan. Pendidikan menjadikan seseorang terdidik 'kan? Pendidikan ini sedemikian banyak aspeknya. Pendidikan agama, aqidah, hati, moral, dan masih banyak lagi yang perlu seseorang miliki untuk bisa menjalani peran di bumi Allah ini. Yang namanya seseorang yang terdidik hati dan pikirannya, mestilah tidak akan menyimpang(-menyimpang amat). Mungkin sesekali langkahnya terhambat, miring sedikit, nanjak nurun kebelok dikit tapi kalau terdidik insyaaAllah akan kembali.

    Pendidikan oleh orang tua, atau orang-orang yang ada di rumah, jadi underlined point sore itu.

    "Gini, Bah. Kalau kata temen Ummi tentang keteladanan, 'kan orang tua punya peran seutuhnya untuk memberi keteladanan pada anak. Orang tua baik yang berusaha memberi teladan baik, biidznillah anaknya juga baik. Nah, kalau anaknya banyak, katanya efektif kalau penurunan nilai ini dimaksimalkan, dihabiskan, diturunkan setotal mungkin ke anak sulung. Terutama di keluarga dengan anak banyak, kakak tertua itu sungguh jadi figur buat adik-adiknya. Kakaknya baik, adiknya juga baik kalau keteladanannya jalan. Jadi untuk tanggung jawab keteladanan ini bisa dibagi gitu, Bah." ujar Ummi pada Abah semangat.
    "Hehe."
    "Jadi ya di sini Teteh lah ya sebagai kakak tertua, sama Aa Shad kakak laki-laki tertua, gimana?"
    "Hehe."

    Alhasil saya bertanya kabar kawan-kawan yang seposisi. Juga kawan sesama anak sulung, kakak tertua. Atau anak laki-laki tertua? Anak perempuan tertua? Apa kabar kalian? Bagaimana perkembangan? Bagaimana respon kalian jika berada dalam obrolan ini? Apakah "Hehe." juga? Sungguh itu jawaban yang menyedihkan polos..

    Nyatanya Ummi dan Abah tidak mempermasalahkan jawaban verbal kok wkwk. Ini tentang aksi, yang sejak SD sudah dimulai. Hanya pengingat, "Kalau Teteh aneh-aneh hati-hati loh".

    Keesokan harinya,
    pembagian tugas ternyata dimulai wkw tugas negara ini semakin nyata dan dinyatakan.

    Ga deng udah dimulai sejak lama. Cuma abis deklarasi jadi semangat aja hehehe.

    Anak ini baru total masak sejak KKN aja wkwk alhamdulillah setelahnya tenggelam dengan proyek ekologi. Mungkin setelah ini karir KKN bisa dirintis kembali.

    Continue Reading


    bismillaahirrahmaanirrahim.

    Mungkin suatu ketika kita dengar kalimat "Heei jaga etikanya dong."
    Atau atau, "Kok dia moralnya kurang sih".
    Wah pertanda kurang baik loh ini. Waspadalah karena berarti ada kondisi yang perluu diperbaiki.

    Dimulai dari pengertian etika dulu nih. Apa bedanya dengan moral? Apakah keduanya berkaitan?

    Moral adalah nilai yang dipahami oleh lingkungan sebagai sesuatu yang dipandang benar dan sesuai dengan nilai kemanusiaan. Etika adalah kajian mengenai moral itu sendiri. Maksudnya adalah mengenai bentuk perwujudan konkrit dari moral itu sendiri, bagaimana implementasi dari nilai moral yang adaa.

    Abstrak? Ngga kok insyaaAllah.

    Seperti contoh,  nilai moralnya adalah hormat pada yang lebih tua. Realisasi dari poin tadi adalah berbicara sopan dan merendahkan suara. Nah itu dinamakan etika.

    Dipahami? Yaa bolehlah koreksinya kalau salah di bit.ly/shaffabutuhdiingatkan afau pm lewat sosmed yang ada hehehe.

    Kemudian,  bagaimana kondisi perwujudan moral di masa kini. Kasusnya kali ini ada di kampus *** dengan jumlah responden pada kisaran angka 20an. Studinya adalah pengalaman menyontek!
    Sepuluh persen responden menyatakan bahwa mereka tidak pernah mencontek. Berarti sisanya?
    Ya begitulah realitanya.  Banyak yang mengakui bahwa dirinya pernah mencontek.  Terlepas dari bagaimana batasan mencontek,  apakah sebagai 'referensi', mencocokkan tugas pribadi dengan tugas kawan, atau sampai menyalin 'plek' kopi paste pol.

    Para pemain skenario kehidupan ini,  apakah menyadari apa yang sebenarnya mereka lakukan?

    "Buruk. Tapi gimana ya kalau kepepet dan emang anaknya sukarela hahaha"
    "Duh gabagus sih.  Soalnya bikin males mikir.  Ntar gedenya mental koruptor itu". Na'udzubillah.

    Nah. Sebetulnya para pemain peran ini menyadari bahwa alur skenario yang mereka lakukan adalah tidak baik alias tidak ber.. etika atau moral ya wkwk

    Yaa pokoknya sebetulnya apa yang menurut ia baik belum tentu (semudah itu)  ia wujudkan. Dan belum tentu apa yang ia lakukan adalah yang menurutnya baik. Terlepas dari masuk kriteria moralkan atau etikakah kasus ini,  namun perlu ada titik yang dibenahi ketika hendak menuntaskan sesuatu sesuai apa yang diyakini baik.

    Diyakini.
    Relatif ya wkwk.
    Ketika kasusnya sang pemain memahami jika mencontek adalah hal yang kurang baik, ia telah mendalami nilai moral dengan baik. Namun mungkin di poin etika,  ia masih butuh banyak belajar.

    Selama masih ada umur dan kesempatan,  kemampuan untuk memahami baik buruk kondisi zaman, sungguh amatlah baik untuk membiasakan diri dengan apa yang menurut hati baik. Dan mari pastikan kalau hati kita selalu pantas untuk ditanya :)
    Continue Reading

    bismillah.

    Bukan hal buruk jika ingin menafsirkan sesuatu sesuai kehendak, namun tentulah harus pada persoalan dan waktu yang tepat. Seperti misalnya untuk saat ini, menuliskan sesuatu yang kita maknai sebagai maksud dari lagu Kilometer Terakhir, Seringai.

    Melompat ke sadel, dan kuhantam sang selah.
    Melawan arah, ku tantang maut, indah.
    Terasa lepas. Melesat di jalan, kilometer terakhir.
    Ya, ku hampir tiba, kilometer terakhir. Kubakar bensin, mesin ini meradang.
    Pacu motor, kutuju matahari.
    Tancap! Melesat di jalan, ya, ku hampir tiba. Angin menerpaku, serigala lepas.
    Roda berputar, kilometer terakhir.
    Hampir esok, seperti kemarin. Kilometer terakhir.
    - Kilometer Terakhir, Seringai 


    Ada masanya ketika mungkin dirimu merasa terkungkung sesuatu. Kemudian membutuhkan sesuatu yang bisa melarikanmu sementara, setidaknya dari hal tersebut untuk sementara waktu.

    Sesungguhnya lari sama sekali tidak akan menuntaskan, 'kan?

    Namun tidak bisa dipungkiri jika jiwa dan pikiranmu butuh untuk dipenuhi kebebasannya barang beberapa saat, disingkirkan dari kepenatan, diwujudkan ketentramannya.
    Terkadang kita terlalu pusing memikirkan jalan untuk lari dari kenyataan dan mencari kedamaian. Kemudian waktu habis dengan kondisi jiwa dan hati ini belum tenang dan beban belum dituntaskan.
    Lebih parah lagi ketika yang tampak justru diri kita menyalahkan orang lain -mencari pembenaran atas apa yang diri ini rasakan.

    Terkadang  Sering aku terbawa gerak tangan yang menarik gas motor. Berkendara entah kemana. Mungkin tidak seperti lagu Kilometer Terakhir yang mewujudkan kebebasan diri, beban terlepas seiring deruman motor dan angin yang menerpa. Namun ingin sekali diri ini merasakan yang semacam itu, menghindar dari kepenatan, terlepas dari beban.

    Padahal jika keikhlasan selalu mengiringi, diri tak akan terbebani.
    Padahal jika mengagankan ketentraman, Allah telah berikan jawabnya.

    الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
    (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.
    - QS. ar-Ra'd: 28 

     Akan tiba saatnya kita akan tiba di Kilometer Terakhir, ketika amanah usai, ketika tugas kita di dunia sudah tuntas.

    Ketika kita dipanggil oleh-Nya.

    ---

    Pemaknaan pribadi yang seutuhnya ehehe sekenanya banget maaf segala salah semoga semua urusan kita dimudahkan :)

    gambarnyaa tidak relevan wk

    Rujukan:
    https://tafsirq.com/13-ar-rad/ayat-28
    https://www.musixmatch.com/lyrics/Seringai/Kilometer-Terakhir
    Continue Reading
    bismillaahirrahmaanirrahiim.

    يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
    Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.  
    - QS. al-Hujurat: 13

    Dari matamu, dari bicaramu, dari dengarmu, dari gerakmu, atau mungkin dari hatimu, semua bermula.

    Bicara apa kita kali ini?
    Tentang perintah-Nya. Tentang apa yang kita lakukan sejak ruh kita ditiupkan bahkan hingga ruh kita terpisah dari jasadnya.

    Komunikasi, Kawan.

    komunikasi/ko·mu·ni·ka·si/ n 1 pengiriman dan penerimaan pesan atau berita antara dua orang atau lebih sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami; hubungan; kontak; 2 perhubungan;
    -- dua arah komunikasi yang komunikan dan komunikatornya dalam satu saat bergantian memberikan informasi; 
    -- formal komunikasi yang memperhitungkan tingkat ketepatan, keringkasan, dan kecepatan komunikasi; 
    -- massa Kom penyebaran informasi yang dilakukan oleh suatu kelompok sosial tertentu kepada pendengar atau khalayak yang heterogen serta tersebar di mana-mana; 
    -- sosial komunikasi antarkelompok sosial dalam masyarakat

    Sejak diri kita masih ada dalam buaian ibunda, kita sudah berkomunikasi, Kawan. Dengan ibuu. Mungkin juga orang-orang lain pun ada yang mengajak ngobrol namun rasanya masih searah saja. Sering 'kan, menemukan orang mengajak ngobrol perut seorang ibu? Hehe.

    Heihei bahkan sebelum ruh kita ditiupkan ke jasad, kita sudah berkomunikasi dengan Allah. 

    وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَا ۛ أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَافِلِينَ
    Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)"
    - QS. al-A'raaf: 172

    Komunikasi adalah tanda kehidupan terlepas sedang di alam mana ruh kita sedang beraktivitas. Tidak ada persyaratan selain penerima, pengirim, dan pesan yang akan disampaikan. Dan tentunya tidak ada batasan haruskah pesan tersebut bisa didengar, dilihat, atau terindera oleh panca indera yang kita tahu.

    Adalah komunikasi hati. Dimana bentuknya tidak kasatmata, namun sangat berarti. Entah dalam ikatan orang tua dengan anaknya, seseorang dengan saudara kembarnya, dan mungkin yang terinti adalah antara seorang hamba dengan Tuhannya. Karena dari sanalah diri ini bisa terus berjalan menjalani kehidupan pada koridor yang semestinya.

    Mengapa komunikasi penting? Terutarakan di atas, komunikasi tanda kehidupan, komunikasi adalah saling mengisi, dan komunikasi memastikan fungsi kita (sebagai khalifah) di dunia ini berjalan sebagaimana mestinya.

    Bagaimana? Sekilas pendapat saja sih hehe.

    ---

    Alhamdulillaah semester 5 ini saya dipertemukan dengan Bapak Wardono di sesi perkuliahan Teknik Komunikasi Ilmiah. Sebetulnya saya mahasiswa yang masih sit in class -_- Jadi kepada Bapak Wardono, punten Pak bantu saya supaya dapet seat nanti ketika PRS hehe karena saya senang sekali menulis Pak.  
    Senang menulis, tapi belum ahli. Hmm.
    Ya intinya, saya berharap di perkuliahan kali ini saya bisa banyak belajar mengenai apapun. Saya lebih berharap mendapat pelajaran seperti pengendalian diri di kelas, kreativitas, cara mengajar, dan lainnyaa.
    Tapi katanya berhubung kita tidak boleh berharap pada manusia, jadi saya ada harapan cadangan (?)
    Saya berharap bisa memberikan 'sesuatu' di perkuliahan ini, entah untuk Bapak dosen, teman-teman, maupun yang lainnya. Catatan: Shaffa selalu butuh diingatkan, jadi ingatkan Shaffa untuk bisa 'berarti'. Yey.

    Jadi, setelah ini blog Shaffa akan diselipi dengan tulisan-tulisan dalam rangka TKI. Nantikan ya pemirsa. Semoga nanti tulisan kita bisa tembus media cetak dan dijamin dapet A oleh Bapak Wardonoo~
    aaamiin yaaAllah hehe.

    Masih mencari gaya menulis jadi maafkan sering tidak jelas.

    Semangaat bismillaah :)


    Rujukan:
    https://kbbi.web.id/komunikasi


    Continue Reading

    bismillah.

    Indonesia begitu indah°. Begitu pula yang kurasa ketika desir angin ini membawaku kepada sebuah memori yang baru saja kulalui sekian jam silam.

    Bagaimanapun skenario yang tercipta untukku, aku mengingat untuk tak pernah menyesalinya. Karena setiap detik adalah bahagia. Karena bahagia adalah syukur yang terucap atas nikmat yang tidak akan cukup tertuliskan dengan tinta yang akan habis walaupun didatangkan sebanyak air laut yang dibuat berlipat ganda.*

    "Apa definisi bahagia menurutmu?"
    "Bahagia adalah ketika senyum² terukir di sekitar kita dalam indahnya kebersamaan"**

    ---

    Ingin meralat paragraf pertama, sebetulnya desiran angin jauh sih sama angin ngagelebug teu eureun-eureun°. Tapi ya intinya memori di 800 mdpl ketika angin memang sungguh bisa berbicara akan selalu terputar ulang.
    Namun hanya selama tulusnya cinta masih terasa olehmu.

    Kapan angin berbicara? Di Pakulahan angin memang menggumam hampir setiap malam, kawan. Kau pasti bisa mendengarnya.

    ---

    "Oi yang Pakulahan kumpul sini!"

    Sore itu perdana kami berkumpul dengan jumlah 23. Yang kurasakan adalah penyesuaian diri dengan cuaca di sana. Anginnya aneh. Ditambah panas ngos-ngosan walau tas sudah diangkut kolbak, jalan rusak nanjak dan yang terinti, jalan kaki ini akan berlangsung hampir dua jam.

    Tak masalah karena aku memang senang berjalan. Menyebalkan ketika hasil gambreng anak cewe yang sudah mengatakan Rizka Legita dan Zayinatun Bila sebagai penumpang kolbak bersama tas di tengah jalan, ternyata harus ditambah seorang lagi dan entah mengapa kok saya yang dipaksa naek -_-

    "Ish ayo, Shaf. Naik. Nanti pulangnya aja kita jalan bareng-bareng." Yang kutau ucapan ini tidak ditepati sama sekali hingga akhir.

    Kami bertiga duduk di depan sesedekan dengan logistik. Terkagum ngeri karena track yang harus dilalui sangat---- hm. Tiba di sana kami menurunkan semua tas dan perlengkapan lain. Sambutan dilangsungkan dengan pengangkutan tas beban perjalanan yang maasyaAllah itu punyanya Novika Chandra dan Zaky Indra adalah yang ternyusahin. Semua dikumpul dari lapangan voli di atas tebing menuju selasar rumah Pa Oleh.
    Naunganku, bukan. Naungan kami dua puluh satu hari.


    to be continued.

    °Video sunrise di atas tebing dusun, khasnya Helmi dan Rasyid.
    *"Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)" {al-Kahf: 109}. Ceramah Pa Ustadz Abdul Fattah, 21 Juli 2017, suatu sore di Nurul Iman.
    **M. Helmi Sidik, pemilihan ketua tema air, 22 April 2017, CADL
    Continue Reading

    bismillah..

    Ada banyak cara bagi setiap orang untuk melalui titik penting hidupnya. Dan bahkan sang pemeran mungkin saja tidak menyadari bahwa ia tengah melalui fase tersebut.

    Adakalanya sang pemeran ini membandingkan alur kisah hidupnya dengan milik orang lain.

    Terkadang banyak sekali muncul pertanyaan sebagai imbasnya. Mengapa ia begitu disayang. Mengapa ia mendapatkan segalanya dengan mudah. Mengapa ia seakan membuatku terabaikan. Mengapa ia menyakitiku. Mengapa aku begini sedangkan dia begitu. Ini tidak adil.

    Namun pertanyaan besar justru akan ditujukan padanya.
    Mengapa kau mempertenyakan seperti itu?

    Ketika fenomena seperti dipaparkan di atas terjadi di sekitar, atau jangan-jangan lekat dengan kerangka berpikir kita, mungkin sebaiknya ada langkah yang dibuat perlahan saja. Sebab apa yang mengawasi di kanan-kiri rupanya adalah jurang yang sedemikian dalam, mengintip dari balik semak berbuah yang sedemikian rimbun menarik untuk dijadikan tempat rehat barang sejenak. Tampak nimat namun mematikan.

    Perlahan. Berhati-hati agar tidak terperosok.
    Kemudian memikirkan jawaban dari satu pertanyaan besar yang diajukan.


    Seseorang terlahir sendiri ke dunia ini. Seseorang pada dasarnya pun akan pergi sendiri pula dari dunia ini. Namun seseorang yang satu dengan seseorang lainnya diplot di dalam skenario untuk bertemu. Bukankah ini titik awal pertanyaan-pertanyaan di atas timbul?

    Sebenarnya bukanlah sebuah masalah ketika mendapati bahwa diri ini terus bertanya. Siapapun itu yakinlah semua orang butuh diisi. Dengan apa? Dengan jawaban-jawaban. Dengan ilmu. Dengan saran. Dengan kritik yang membangun. Dengan kasih sayang. Dengan pelajaran. Dengan kamu mungkin? Wkwk heu wallahua’lam.

    Berangkat dari tujuan bertanya dan berusaha mencari jawaban adalah untuk menuai hikmah, mari untai kata untuk menjawab dan meniadakan statement di atas yang berkata bahwa ‘ini tidak adil’.

    Allah Maha Baik. Sebagai hamba-Nya maka jadilah baik pula. Baik ini dimulai dari baik dalam pola berpikir kemudian akan teralunkan oleh ucapan dan kemudian didengar oleh seluruh elemen tubuh ini. Dan bermainlah molekul-molekul penyusun tubuh menyesuaikan dengan apa yang ia dengar. Sebagaimana keajaiban terjadi pada molekul air yang diberi kata-kata baik nan bijak, tidak ada pilihan untuk membedakannya dengan sebagian besar penyusun tubuh kita dan sebagian besar bagian bumi ini bukan?

    Ketika hakikat hidup kita adalah terlahir sendiri dan meninggal sendiri, mengapa harus menggantungkan diri pada hidup orang lain yang malah dirasa mengusik langkah?

    Apa yang ada pada diri kita adalah apa yang kita pikirkan. Itulah mengapa prasangka yang timbul hendaknya segera dipastikan berada di kutub positif bagaimanapun itu.

    “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang." (QS. Al Hujurat (49) : 12) 
    -  
    Dari prasangka baik terbitlah gerakan pencarian hikmah. Kemudian terjawablah,
    Allah ingin aku mengingat-Nya lebih lagi. Allah ingin aku lebih kuat. Allah ingin aku merasakan manisnya perjuangan. Allah ingin aku lebih banyak bersyukur. Allah ingin aku melihat lebih jauh ke sekitar sebagai jalan syukur bukan untuk membibit dengki.

    Mengapa aku begini sedangkan dia begitu? Allah memberikan masalah untuk menguatkan seseorang pada levelnya masing-masing dan akan berubah kadarnya di masa ketika seseorang memang butuh untuk dikuatkan lebih lagi.

    Ketika kau diberi perkataan semacam, “Masalahku berkali lipat masalahmu, jangan berbicara seakan semua mudah”, mungkin jangan sampai dirimu terpancing untuk membandingkan hidupmu (juga) dengan hidupnya atau hidup orang lain dan bergumam “Sotau amat dah kaya tau masalah gue dan kapasitas pundak gue aja -___-“, namun kuatkanlah ia dengan “Ya mungkin saja. Allah tau pundakmu jauh lebih kuat dariku maka kuat-kuatlah”. Teruslah ulangi dengan mengubah-ubah redaksi penyampaian hingga ia berhenti berkata “Ini tidak adil” kemudian bergumam “Alhamdulillah yaaRabb iringilah aku untuk menjadi lebih dan lebih kuat lagi dari waktu ke waktu”.

    Adil bukanlah sama. Dari perbedaan yang ada muncul warna-warni perjuangan. Hingga tibalah nanti dimana semua akan terasa semakin indah dan semua itu tertulis murni dan hanya untukmasing-masing dari kita seorang saja.

    “...Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering." (HR. at-Tirmidzi)

    Skenario setiap orang telah tertulis. Namun takdir bergantung pada pilihan yang diambil oleh setiap pemeran. Adil bukan?


    sebetulnya membingungkan ga postingan ini fokusnya ke mana..



    pic source: Bukit Moko? dari grup bandung n' friends pokonya ada yang pamer waktu itu.
    Continue Reading

    Bismillaahirrahmaanirrahiim.

    Ada banyak sekali hal di sekitar kita yang berubah sedikit demi sedikit, detik demi detik, hingga pada akhirnya keadaan kita sama sekali berbeda dengan sesaat yang lalu. Perubahan adalah sebuah keniscayaan. Dari tiada menjadi ada, dari terbit menjadi terbenam, dari terang menjadi gelap, dari fajar menjadi senja, dari hitam menjadi putih, dari kata menjadi frasa, dari hidup menjadi mati. Semua nyata. Andil kita adalah mengarahkan perubahan tersebut ke sebagaimana seharusnya.

    Bukan hal mudah. Itu pun nyata.

    Aku mendapati beberapa waktu ini aku tanpa sengaja menilai salah satu arah pandang di kehidupanku. Dinamis. Bukan untuk menjudge kehidupan orang lain, namun mengambil pelajaran dari setiap inci pemandangan buatku adalah keharusan.

    Ini tentang kawan-kawanku. Eng, lebih tepatnya keluargaku. Teman-teman kuliahku memberi statement tersebut di sela ceritaku.

    Kami berada di sebuah lingkungan yang sangat terkondisi sebelumnya. Semua teratur, namun tidak stagnan. Kami dibebaskan untuk berkembang dan mewarnai hari dengan memperhatikan koridor yang ada. Tidak hanya karena peraturan sih sebenarnya, hidup ini memang ada koridornya bukan?

    Kemudian kami dilepas ke alam yang lebih liar (?). Kami memasuki lingkungan dimana semua serba aturlah-dirimu-sendiri dan tolonglah-dirimu-sendiri. Aku yakin jika bukan karena lingkungan sebelumnya yang telah aku lalui sejak mulai lahir hingga jenjang-jenjang berikutnya, aku tidak akan bisa bertahan. Alhamdulillah ‘alaa kulli haal.

    Bagaimana kabar kami setelah dilepas? Buatku jawabannya adalah “Sulit”. Kami ditempatkan di zona yang sedemikian berbeda dan kami harus bertahan (pada koridornya). Di sinilah tampak bahwa idealism yang masing-masing dari kami anut adalah berbeda, dan yang paling menyebalkan buatku adalah mengenai toleransi -_- ya tentang ini tidak akan kubahas di sini wkwk. 

    Oiya. Kuingatkan, ini hanya yang kudapati lewat kacamataku.

    Semua aspek kehidupan yang baru kami dapati di lingkungan baru ini mengubah kami. Atau mungkin lebih tepatnya mengubahku, dan setidaknya kalau memang ternyata kawan-kawan lain merasa tidak ada perubahan ya berarti sudut pandang kita berbeda yaa. 

    Kami berubah.
    Aku merasa ada hal baru yang kudapat. Menyenangkan dan belum pernah kami dapatkan sebelumnya. Tentang mempertahankan bagian dari kami, tentang arti peduli, tentang saling mengingatkan di tengah kondisi dunia yang sungguh bagiku hiruk pikuknya tak kunjung usai.

    Namun ada hal lain yang buatku begitu memilukan. Apakah? Ketika kami tanpa sadar kehilangan arah dari koridor yang semestinya kami lalui, ketika kami terlambat mengetahui apa yang semestinya kami ketahui, ketika ada serpih yang hilang dari apa yang kami bawa dari lingkungan sebelumnya.

    Ini tentangmu, kawan. Ini tentang kita semua.

    Bukan masalah jika kamu, kamu, kamu, dan kamu yang lainnya tidak menyampaikan satu demi satu detik hidup yang kamu lalui. Toh akupun tidak melakukannya karena hei butuh berapa lama untuk menuturkan apa yang tengah kulalui dan mungkin saja itu memang tidak berpengaruh bagimu wkwk. Tidak tidak bukan aku sedang menyindir dengan kalimat “Yaa aku emang gapenting kok ngapain dipikirin” wkwk tapi masing-masing dari kita tau kita punya urusan yang lebih patut dijalani dan dipikirkan.

    Namun janganlah ragu yakinlah untuk bertanya, berbicara, meminta jika memang kamu, kamu, dan kamu yang lainnya memang mau. Janganlah ragu Yakinlah untuk berkomentar dan bertindak ketika ada perubahan kecil yang tidak mengenakkan hati, di manapun dan sisi hidup siapapun. Jika hati kita memang benar-benar masih pantas untuk ditanya, perubahan kecil yang tidak beres akan tampak sangat janggal di mata maupun hati.

    Ini salah satu poin penting. Istafti qalbak. Mintalah fatwa pada hatimu. Jagalah kesuciannya agar ia selalu bisa pantas untuk ditanya.


    ".. Mintalah fatwa pada hatimu (3x), karena kebaikan adalah yang membuat tenang jiwa dan hatimu. Dan dosa adalah yang membuat bimbang hatimu dan goncang dadamu. Walaupun engkau meminta fatwa pada orang-orang dan mereka memberimu fatwa."
       - HR. Ahmad no.17545, Al Albani dalam Shahih At Targhib [1734]

    -      
    Ingatkan aku, kawan. Ingatkan aku, aku, dan aku yang lain.
    Dan janganlah ragu yakinlah untuk menyampaikan jika dalam apa yang aku, aku, dan aku yang lain sampaikan terdapat kecacatan dan singgungan. Buka hati dan pikiranmu jika memang apa yang tersampaikan adalah benar. Bukan apa-apa yang diinginkan selain kita semua berada pada koridor yang benar. Koridor kehidupan. Koridor-Nya.

    Perubahan adalah keniscayaan, tugas kita semua mengarahkannya pada alur yang benar dan tujuan yang tepat.

    Kembalilah.


    ---
    Bandung
    Sebuah Ahad sore di Februari 2017


    Rujukan: 
    http://muslim.or.id/29444-penjelasan-hadits-mintalah-fatwa-pada-hatimu.html
    Continue Reading
    Older
    Stories

    About me

    Photo Profile
    fathya
    << biology-art >>

    bit.ly/shaffabutuhdiingatkan

    Read More

    Follow

    • G+
    • tumblr
    • facebook
    • twitter
    • pinterest
    • instagram

    Labels

    #olimpiadetaqwa abiotik alampikir bandung biotik Indonesia kawan keluarga lingkaran masyarakat pakulahan serpong subang tugas tki

    recent posts

    Blog Archive

    • Mei 2020 (1)
    • Oktober 2019 (2)
    • September 2019 (1)
    • Mei 2019 (2)
    • Maret 2019 (3)
    • Februari 2019 (1)
    • Januari 2019 (5)
    • Desember 2018 (1)
    • November 2018 (1)
    • Oktober 2018 (1)
    • September 2018 (2)
    • Agustus 2018 (2)
    • Juni 2018 (8)
    • Mei 2018 (7)
    • April 2018 (3)
    • Januari 2018 (9)
    • September 2017 (3)
    • Agustus 2017 (2)
    • Juni 2017 (1)
    • Februari 2017 (1)
    • April 2016 (3)
    • Maret 2016 (1)
    • November 2014 (2)
    • Oktober 2014 (7)
    • Juli 2014 (2)
    • Juni 2014 (2)

    Cari Blog Ini

    facebook Twitter instagram google plus tumblr

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top