Pages

  • Home
  • About
tumblr linkedin

things.

    • Home
    • Gallery
    • About

    bismillaahirrahmaanirrahiim.


    Matahari itu rising-nya cepat sekali. Serius. Sejenak saja ia sudah menyembul sempurna di puncak bukit yang kami lihat. Aku pernah melihat yang serupa dan tahu bahwa memang secepat itu sih. Hanya saja baru kembali teringat fenomena ini tadi. Semburat yang mulanya malu ternyata seberani itu untuk tampil memesona.

    Cepat sekali. Sekejap sudah tinggi saja ia. Lama-lama dingin tergantikan terik, apalagi ketika flysheet tendanya dilepas dalam rangka membuat pencahayaan foto lebih baique.

    Sekejap. Tahu-tahu sudah siang.
    Cepat sekali, tanpa disadari tahu-tahu diri ini terseret banyak hal yang tak dinyana ternyata hebring sekali. “Alah siah, naha janten kieu? :(“

    Yak inilah diri ini yang lupaan dan cerobohannya sedang kambuh sekian puluh jam terakhir. Tak tahu apa pemicunya. Berlalu bergitu cepat seperti sunrise yang terlihat dari satu titik di Gunung Putri. Belum lagi kondisi di sekitar membuat lupa waktu. Fajarnya tampak terang, cahaya ufuknya bisa terlihat. Matahari bersinar berani serasa sudah siang padahal masih pagi. Ada bias waktu dan rasa. Membuat diri ini membuat asumsi sendiri untuk mendefinisikan sedang apa dan bagaimana detik ini berlangsung. Padahal lebih tepat jika disebut detik ini berlari, namun samar kabut membuatnya terlambat tersadar. Matahari tengah bersiap mengejutkan dalam sekejap.

    Ini terlalu cepat huhu rasanya aku tidak bisa mengimbanginya.

    Menarik diri bersantai barang sekejap tahu-tahu menyadari bahwa diri ini tengah ada dalam miskomunikasi. Lupa saja terus. Kemudian mengiyakan hendak membantu. Padahal sebelumnya telah deal dengan sesuatu. Ketika dalam sekejap ingatan timbul utuh, terimakasih kepadamu yang telah bersiap untuk menerima assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
    ya dari aku. Mengirim chat tanya random seperti biasanya hanya saja dengan tambahan indikasi ada seusatu tak beres terjadi. Atau mengirim voice note sebagai pengganti bubble chat yang akan terlalu panjang. Kemudian dibalas jawabmu dan tanyamu balik. Atau dibalas “sebentar, ngakak dulu”. Atau juga dibalas “ayo ketemu aku hari ini, kamu butuh katarsis”.

    Sungguh, aku harus lebih banyak bersyukur atas kehadiran manusia-manusia ini.

    Kemudian yah inilah aku yang tengah kambuh. Riweuh sekali perkara lupa dan ceroboh ini. Lupa akan apa yang sudah disetujui. Lupa pemeringkatan urusan utama diri. Ceroboh karena bisa-bisanya lupa akan hal tersebut lalu impulsif abis menyauti permintaan dari yang punya minta.


    Ini belum pula bahas ceroboh perjalanan malam >33 km. Alhamdulillaahnya bonceng Dewi, kalau tidak mungkin aku sudah menangis di tepian hehe.


    Eh sungguh, bagaimana caranya selalu menyadari bahwa sekejapnya bisa mengubah hari, memainkan temperatur, memberi sorot cahaya, membangunkan manusia pada rutinitas yang semoga dilakukan dalam rangka pencarian keberkahan?

    Hadeh. Semoga kamu selalu bersabar menghadapiku ya.


    Bandung Timur, 16:52 WIB 10/10/2019
    biasanya gaya tulisan kaya begini ditaronya di tumblr tapi gapapadeh.

    Continue Reading

    bismillaahirrahmaanirrahiim.


    Tulisan ini diketik oleh seorang anggota biasa Himabio Nymphaea ITB yang bisa dibilang terlambat menyadari bahwa dirinya belum melakukan apa-apa secara langsung untuk karya dan keprofesian terkhusus pada bidang biologi, minimal lingkup kampus.
    Terus, sedih dia wkwk dan kini sudah hampir penghujung waktunya menyandang anggota biasa (dan swasta?) Himabio Nimpea.
    Heits.
    Iya, kebiasaan saya kalau nulis Nymphaea jadi Nimpea. Saya ngomelin orang yang salah nulis Nymphaea jadi Nymphea-Nymphae- dan nimfa-nimfa lainnya padahal kami bukan kecoa yang punya nimfa :( tapi saya sendiri nulisnya Nimpea. Tujuannya baik kok, biar orang bisa baca dalam versi Sundanis dikit. Ini sebentuk cinta saya pada himpunan dan Bandung. Oke skip.

    Selesai dengan Diri Sendiri
    Saya tergolong orang yang belum bisa membuat alur aliran sendiri, jadi saya mengikuti alur utama (mainstream ya?) yang biasa ada. Di kampus ini dan dalam penglihatan saya, titian karir (?) biasanya akan tertiti setelah sesegera mungkin mengambil langkah sealur. Misal ketika berniat untuk akhirnya mengabdi di kabinet KM ITB maka silakan mulai dengan magang dan tidak sekip staffing, jika ingin menjadi senator di Himabio Nymphaea silakan jadi DPA atau tim senator, dan seterusnya. Ini yang biasanya saya lihat. Butuh waktu untuk menyelaraskan frekuensi, menyamakan visi dengan rekan-rekan, membentuk atmosfer kerja yang menyenangkan dan akhirnya bisa menjadi sarana refresh di luar akademik. Akan lebih sulit jika baru masuk di tengah aliran (sekali lagi ini hanya yang terlihat dari lensa kacamata saya yang amat sempit). Begitu fenomena biasanya.

    Ada juga sih yang tidak biasa, seperti fenomena kader karbitan (*mengacungkan tangan* misalnya) di Gamais ITB.

    Melepaskan diri dari statement politik kampus hanya milik elitis dan seterusnya, bagi saya prinsip seleksi alam berlaku dimanapun. Bukan bicara yang menduduki posisi hanya kalangan elit tertentu saja, melainkan siapa yang kuat akan bertahan, siapa yang adaptif dan bisa menyesuaikan diri akan menjadi semakin kuat. Kekuatan ini bisa mulai dipupuk ketika mengambil langkah awal. Sayangnya, di awal masuk perkuliahan bisa jadi ada personal-personal yang disibukkan dengan adaptasi dan shock culture. Akhirnya waktu banyak berlalu dan perlu energi lebih untuk mengejar ketertinggalan. Maka amat sangat penting untuk bisa tuntas dengan diri sendiri sesegera mungkin dan kemudian diri ini bisa mulai mengepakkan sayap, terbang menebar manfaat dan mengaktualisasi diri.

    Bersegera selesai dengan diri sendiri. Agar nanti bisa segera melangkah untuk orang lain.
    Ya sayangnya saya sendiri lama sekali mendapati jalan-mana-yang-akan-kulalui. Akhirnya, mengikuti alur yang orang lain buatkan. Tidak buruk sebetulnya, jika bicara tentang memetik hikmah sebanyak-banyaknya dan memaksimalkan diri dimanapun diri ini berpijak.

    Akhirnya saya ‘ditarik’ ke Gamais ITB dalam keadaan terhuyung-huyung. Melupakan trek bayangan yang saya rancang untuk menjadi senator Nimpea wkwkwkwk dadah yang baru tau (bahkan saya udah ngobrol banyak waktu itu sama Kak Nadia Puji Utami) (massa Nimpea gaada yang tau yakin deh) (eh Dila tau deng)). Semudah itu dibelokkan, karena tak kunjung usaila dengan diri sendiri.
    Bersegeralah selesai dengan diri, dan bersegera mengepak sayap untuk sekitar.

    Bukan Apatis (kook)
    Ditariknya saya menyelami Gamais ITB ternyata amat seirama dengan tuntutan rumah dan keluarga. Tidak pulang malam dan aktivitas dimulai pukul 06.00 maka saya harus berangkat maksimal 05.20 dari rumah. Ritmenya menyenangkan, membuat tanggungan di rumah, kebersamaan yang harus saya penuhi, alhamdulillah lebih mudah untuk didapat. Namun bersamaan dengan itu, yang mulanya tersingkir akhirnya semakin tersingkir.
    Himpunanku hehehehehehe.

    Kewajiban sebagai anggota biasa untuk hadir forum-forum tidak terpenuhi, berhubung mayoritas diselenggarakan malam hari dan saya sulit pulang malam saya terlalu lelah untuk melanjutkan 12 jam berkemahasiswaislaman dengan kemahasiswaan lainnya. Di tahun pertama saya berbphgamais pusat, saya tidak jadi staff himpunan. Di tahun kedua, saya staff BRT dan saya banyak salah ke Bu Kadiv yakni Dila huhu karena sibuk sendiri.

    Dalam hati kecil (ha), saya sebetulnya ingin lebih bisa berdedikasi namun entah mengapa atmosfernya sulid saya sesuaikan. Selain terlalu lelah, em.. ya itu sih udah lelah aja hehe. Kesibukan yang ada membawa saya menjadi seorang yang ansos himpunan, tidak mengenal adek kelas, ya gitulah sedih. Dan kesedihan ini baru benar-benar terasa ketika saya lengser di depan. Saya mendapati periode dimana saya berdiam, kemudian menyadari bahwa betapa saya masih banyak belum memenuhi hak-hak organisasi dan teman himpunan saya, dan saya.. amat terlambat menyadarinya. Bukan berniat apatis, namun sebegitu tidak sadarnya.

    Pengen ngetik “Kok gaada yang ngingetin saya sih di masa-masa itu? :(“ tapi ngeselin ga sih ni anak udah tau salah kok malah nyalahin orang zzz.

    Dirgahayu
    Jadi kemarin adalah hari lahirnya Nymphaea ITB dan tanggal Musyawarah Anggota untuk membahas LPJ kepengurusan angkatan 2015. Bagi saya masih amat sulit untuk menyamakan ritme agenda Nimpea dan entah sampai kapan? Sebetulnya di semester ini saya ada proyek menyapa rekan di himpunan setiap kali hendak pulang. Ternyata kebiasaan setor muka (doang) juga berlaku untuk agenda semacam ini. Sejujurnya, karena belum mendapati saya memiliki suhu yang sama bukan karena tidak mau, tapi tak tau bagaimana caranya hehe.

    Namun perlu diingat, saya selalu senang untuk menyorakkan Yellow Submarine dan saya akui saya senang menjadi bagian dari pasukan kuning ngejreng ini.
    Semoga berjaya beserta seisinya.


    Panjang juga. Sebetulnya akhir-akhir ini saya banyak menuliskan terkait aktivitas di kampus dalam rangka mengingat, menjadi pengingat, dan semoga bisa memetik hikmah yang berserak.
    Continue Reading

    Adalah sebuah kebutuhan. Ya?

    bismillaahirrahmaanirrahiim

    Adalah sebuah kebutuhan khusus bagi ciptaan Allah yang istimewa, pendekatan emosional dan dari hati ke hati. Tidak perlu mengelak, Sist. Sekaku-kakunya kita, se-ngga ciwi-nya kita, secara fitrahnya memang berbeda. Bagaimana mengelola diri antar sesama perempuan saja sudah beragam, apalagi dibandingkan dengan laki-laki.
    Sebetulnya tidak terlalu perlu sih, membandingkan keduanya. Tergantung tema penelitian dan objek pekerjaan hehe.

    2017, jaket FT UGM punya Ayu Rahmawati

    Tapi, girls talk adalah perlu. Ya?
    Katanya pendekatan ke perempuan akan lebih mengena kalau sudah saling atau bisa mengerti. Pokoknya kalau udah berhasil memahami doi, beuh kamu akan menjadi sosok yang dipercaya. Tidak bisa digeneralisasi sih, tapi kalau sekilas dipikir memang orang yang butuh perhatian kalau dapet apa yang dibutuhkan ya senang ya ‘kan. Kamunya siapa? Perempuan? Let’s talk more.

    Perlu.
    Sayangnya kadang terbenam dalam kesibukan nih, jadi suka ga(gal men-)sempat(-kan diri) say hi sama sesama girls. Kawan lama terutama, tau kabar pun tidak. Waktu ditanya sama kawan lama yang kuliah nun jauh di sana “Eh, gimana kabarnya ini? Kalian satu kota ‘kan?”, gelagapan. Malu. Terus nyengir hehe terus sudah topiknya sampai situ saja. Hem? Tidak ada rasa bersalah atau tidak tergerak mengontak saat itu juga karena khawatir sekian menit selanjutnya membuat lupa?

    Kenapa harus merasa bersalah?
    Kalau dia baik-baik saja, alhamdulillah. Kalau kurang baik? Kalau sebetulnya dia butuh tapi sungkan mengontak karena khawatir mengganggu? Alhamdulillah kalau masih ada di level bimbang. Kalau tidak baik-baik saja, gimana..
    Tidak pakai tanda tanya di kalimat barusan, karena sudah terlewati jadi ya gimana ya. Begitu sih kesan yang hendak ditampakkan hehe.

    Girls talk bisa jadi adalah penyelamat. Untuk kita-kita yang membutuhkan kawan bicara, didengar, diberi saran, disemangati, diingatkan. Bisa juga penyelamatmu jika ternyata aku sedang di ambang batas kebaikan, hendak jatuh, dan kamu sedang tak ada di sekitarku namun na’udzubillah ternyata ku terjatuh, kamu bisa jawab ketika ditanya oleh malaikat “Kenapa kawanmu jatuh?!”, “Wahai, aku sudah berusaha ingatkan dan tarik tangannya. Maafkan aku..” Allah lihat proses dan usaha. Eh tapi Allah juga lihat titik akhir. Semoga pada detik terakhir jatuhku, kamu masih berusaha raih tanganku. Dan semoga, kita tidak terjatuh ya. Tolong, genggamlah erat sedari sekarang,

    Perlu Girls talk.
    Kalau belum merasa begitu, hayu munculkan kebutuhan. Dengan siapa lagi harus berbicara? Kawan laki-laki? Aduh ada saatnya mencapai titik dimana interaksi yang terlalu intens teh kurang sehat euy. Tidak selalu kurang sehatnya dari dua sudut pandang dan tidak selalu terasa oleh keduanya, tapi setidaknya buat hati ini sih huhu rapuh. Atau mungkin yang sadar duluan malah orang lain, “Eh, kalian?” ‘kan tidak enak.

    Aku hilang dan kabur dari talk kita, Girls? Maafkan aku :(
    Sungguh kata-kata “aku” “kamu” maupun subjek tersembunyi dalam paragraf-paragraf atas adalah benar-benar ditujukan padaku. Ketika membaca ada tokoh yang disudutkan, percayalah itu adalah untukku. Tapi juga, yang membutuhkan kamu-kamu adalah aku juga. Jika aku terlalu larut dan hilang, tolong panggil saja (Yeu malah minta). Aku butuh dipanggil, ditanya. Aku butuh girls talk. Aku butuh diingatkan.

    Semoga jarak yang sempat ada selama ini tidak merutuki kehangatan girls talk yang akan kita bangun kembali ya. Eh, pokonya jangan dingin dan sungkan kaku, ya!
    Semangat kita, Girls. Ini adalah proyek dunia akhirat.


    Januari 2017. gambar diattach karena lama tak jumpa. doa teruntai untuk astonah di seluruh penjuru.



    #4. 
    Sebetulnya boys talk itu perlu apa tidak? Saya tidak tahu hehe.


    Continue Reading
    Older
    Stories

    About me

    Photo Profile
    fathya
    << biology-art >>

    bit.ly/shaffabutuhdiingatkan

    Read More

    Follow

    • G+
    • tumblr
    • facebook
    • twitter
    • pinterest
    • instagram

    Labels

    #olimpiadetaqwa abiotik alampikir bandung biotik Indonesia kawan keluarga lingkaran masyarakat pakulahan serpong subang tugas tki

    recent posts

    Blog Archive

    • Mei 2020 (1)
    • Oktober 2019 (2)
    • September 2019 (1)
    • Mei 2019 (2)
    • Maret 2019 (3)
    • Februari 2019 (1)
    • Januari 2019 (5)
    • Desember 2018 (1)
    • November 2018 (1)
    • Oktober 2018 (1)
    • September 2018 (2)
    • Agustus 2018 (2)
    • Juni 2018 (8)
    • Mei 2018 (7)
    • April 2018 (3)
    • Januari 2018 (9)
    • September 2017 (3)
    • Agustus 2017 (2)
    • Juni 2017 (1)
    • Februari 2017 (1)
    • April 2016 (3)
    • Maret 2016 (1)
    • November 2014 (2)
    • Oktober 2014 (7)
    • Juli 2014 (2)
    • Juni 2014 (2)

    Cari Blog Ini

    facebook Twitter instagram google plus tumblr

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top