Pages

  • Home
  • About
tumblr linkedin

things.

    • Home
    • Gallery
    • About

    bismillaahirrahmaanirrahiim.



    Sore tadi di sudut pertigaan jalan. Ada salad @wegrow.life dan secangkir latte, ada juga americano sepertinya.

    Ungkapan hikmah adalah barang hilang milik orang beriman. Maka di manapun dia menemukannya, dia yang paling berhak atasnya.
    (HR. At Tirmidzi dan Ibn Majah dari Abu Hurairah, sanadnya dha’if, tapi para ‘ulama menyatakan makna lafazhnya shahih)

    Kroscek wajib. Literasi harus. Ingat juga untuk tidak luput mencari hikmah dan pembelajaran dari manapun itu. Dalam beberapa kasus, manusia kadang terlanjur ribet dengan ‘sumber’ ilmu dan lupa akan hikmah serta pembelajaran. Mari sinergikan. Keduanya harus seimbang agar kritis ini tidak timbul sebagai ego tak beralasan, melainkan sebagai curahan kebijaksanaan yang menyejukkan.

    “Jangan ambil dari sana, yang buat kafir”. Tolong tolong, kita muslim paling berhak atas hikmah. Perihal khawatir terwarnai, hmm di depan kita sebetulnya terpampang sedemikian banyak alat untuk membantu menyaring supaya apa yang masuk ke dalam tubuh adalah yang layak dan bernutrisi. Racun-racun biarkan tersangkut, nanti kalau bisa kita detoksifikasi dan berikan kepada sumber. Siapa tau semoga kedetoks?
    Mari kita perbanyak baca dan melingkar berfaedah, mempelajari supaya bisa gunakan saringan dengan baik.
    Supaya bisa tahu juga kalau zaman dahulu ada eranya dimana muslim ini membaca literatur non-Arab kemudian mensintesisnya menjadi suatu konsep yang menakjubkan dengan penambahan komponen, atau restrukturisasi resep dengan tuntunan Islam. Dinasti Abbasiyah?


    Hal di atas adalah pesan terutama untuk kita para pemimpi(n).
    Pemimpin ini 1/3 dari gagasan visi global Islam, alasan penciptaan manusia dan apa yang harus diperbuat. Manusia diutus untuk menjadi khalifah.
    Setiap kita adalah pemimpin. Dalam skala sosial, ada 4 peran yang harus dipenuhi oleh seorang pemimpin, disintesis dari Franklin Covey dan Ust. Elvandi:

    1. Strategic thinking
    Berpikir –menyusun strategi- dari tiga dimensi waktu yakni apa yang telah lalu, sekarang, dan masa depan. Mengambil intisari sejarah, mempelajari siasat (atau dengan kata lain, politik) (tidak bisa digeneralisasi ‘politik’ adalah sesuatu yang kotor ya), dan me’ramal’ akan kemana arah muara zaman ini. Semua dilakukan dengan harus berbasis riset dan didasari tujuan membangun peradaban.
    Berat banget wkwk maka dari itu mari bergerak bersama.
    2. Influencing
    3. Educating, semua adalah tentang pendidikan kalo kataku mah wkwk.
    4. Executing, eksekusi hasil pemikiran
    Nomor 2-4 ditugaskan untuk baca sendiri hehehe yasudah.

    Tugas pemimpin sebetulnya dua: tahu mau membawa kemana (thinking, dan ini 50%) dan bagaimana membawa ke sana (influencing, educating, executing silakan persenannya dibagi).
    Saat ini demikian banyaknya miskonsepsi dari konsep pemimpin, terbatas di manajerial dan jabatan. Padahal lebih jauh dari itu, harus memiliki visi ke arah peradaban. Dari sana, tentu sang pemimpin tidak akan punya waktu untuk berleha dan berpusing sendiri, karena nyatanya ada tim yang menanti dibawa ke sana. /tertampar hidayah/

    Apa sih peradaban? Suatu kelompok masyarakat punya tradisi ilmu tersendiri (bahasa anak SPI katanya) dalam mendefinisikan perabadan. Mari banyak membaca, mungkin nanti bisa ada tulisan khusus terkait ini.

    Mari mari mari.
    Mari saling seret, dorong, dan menodong dalam hal kebaikan.

    Allahulmusta’an.

    ---
    Cibiru. 23:49 03/05/2019
    dalam efek kopi sepertinya.


    ^
    Sebentuk notulensi dari sebuah bincang yang tentu banyak selaan selaan, tidak bisa selamanya menuntut kerunutan. Hidup aja dinamis.
    Atau statement di atas adalah sebuah pengakuan bahwa notulis ini masih perlu memperkaya bagaimana menulis dengan baik dan mengalir dari bahasan satu ke bahasan lainnya, yang sebelumnya dirasa tidak akan pernah terhubung.
     Wkwkwk yaaAllaah. Ini teh sebetulnya bilang aja aku udah lama ga nulis jadi kaku kieu heuheu.
    Tidak ada yang mustahil. Maka mari belajar bersama.

    Continue Reading
    bismillaahirrahmaanirrahiim.



    Selamat datang!

    Selamat datang di tempat dimana setiap pagi kalian akan melihat tiga orang anak perempuan yang mencari cahaya matahari untuk menghangatkan dirinya. Selamat datang di tempat dimana setiap pagi jemari ini rasanya amat kebas, bahkan untuk mengetik seperti ini. Selamat datang di tempat dimana setiap pagi, kalor yang dihasilkan dari gerakmu entah kemana larinya karena rasanya tidak menghangatkan sama sekali.

    Selamat datang di tempat tumbuh cantiknya bunga carnation, anyelir yang melambangkan kemurnian cinta. Bunga yang membutuhkan suhu 8-11oC di malam hari dan 18-23oC di siang hari.
    Jadi, kebayang dinginnya?

    Kalian akan temukan berbagai syukur setiap pagi. Kenapa berbagai? Pemandangan yang didapat tiap paginya, dalam titian jalan menuju kantor kebun memang beragam. Hari pertama kami diliputi kabut, membuat pepohonan tampak berlapis ala ala foto instagram NatGeo. Hari kedua, matahari mengintip dari balik awan. Hari ketiga, ada gradasi di pangkal langit. Dan seterusnya.

    Bumi Pangalengan adalah tempat kami berpijak selama 30 hari ke depan. Tulisan ini diketik hari pertama, beresnya gatau kapan, terbitnya apa lagi. Masih sering gitu, ngasih prolog kemudian berhenti.

    Tuhkan berhenti.

    Oke saya lanjutkan. Sebetulnya pentingnya tulisan ini adalaah sebentuk laporan buat Abah hehe. Abah rajin sekali nanya apdetan tapi keburu Fathya di kantor atau terbatas aja gitu jawabnya. Asa ngga seru kalo di wa aja. Terus kalo diceritain di rumah, hypenya berkurang. Dan laporan Kerja Praktik agaknya kelamaan perlu ditunggu beres.

    Setiap harinya, kami harus melangkah selama minimal setengah jam dari kosan menuju kantor. Extended bisa sampe sejam kalau kami mampir-mampir buat beli sarapan atau jajan atau belanja. Kegiatan di kantor dimulai biasanya pukul 07.30 WIB. Dan sebelum itu, kadang kami menyempatkan diri berfotosintesis di tangga menuju kebun atas. Sejauh ini, hanya itu satu-satunya cara instan menghangatkan diri, melancarkan gerak tangan yang agak kaku-kaku.

    Hari-hari awal, kami habiskan dengan mendengar banyak penjelasan (sampai sekarang juga banyak sih). Memulai skill baru, merekam omongan Bapak-Ibu di sini, dan memikirkan penelitian yang akan kami garap. Baru mikirin kerangka? Iya euy. Kami sejujurnya agak malu, hadir-hadir masih ‘kosong’. Tapi gapapa, setelah agak diomeli dan dicerahkan Ibu Bosnya, kami berhasil mendapat sesuatu yang lumayan produktif untuk diteliti. Semoga. Dan semoga juga bisa jadi data TA hehehe.

    Kata Ibu Bos, jadi pionir memang sulit. Jadi, gapapa.
    Kami adalah orang pertama yang kerja praktik di sini. Sering kami ditanya oleh orang sini, “Kok kepikiran sih KP di kampung? Orang-orang mah bukannya cari perusahaan yang keren gitu ya?”
    Hmm. Bahkan kami tidak terpikirkan untuk membandingkan KP di kampung atau kota.  
    Kata Ibunya, perusahaan besar punya kepentingan untuk menjaga citra, kerahasiaan dapurnya. Kemudian akhirnya di periode KP ini, kami benar-benar dijejali banyak hal mulai dari konspirasi dunia sampai ke resep ikan asin peda istimewa.

    Kami banyak berjalan di sini (juga banyak jajan karena di sini dingin) (semoga bukan sekedar pembenaran) (kalorinya digunakan untuk penyetaraan suhu) (aaamiin insyaaAllah). Kemudian apa lagi? Baca literatur, kerangka penelitian, ikut packaging, panen, ngobrol panjang, disbudding, bantu proses pascapanen, panen hortensia, seleksi bibit untuk rooting, survei tanaman muda untuk penelitian, memilih polybag, rooting, memindahkan tanah ke dalam polybag, menanam bibit ambrose, memberi B1, aklimatisasi tanaman penelitian, belajar bussiness plan, pengukuran parameter-parameter penelitian, aplikasi T:G, dan baanyak lagi and we’re enough with menyiangi gulma atau sama dengan nyabutan jukut yaaRabb :(


    Apa yang terasa di sini adalah banyak PR take home nanti. Tentang TA, tentang kerjasama kampus-instansi masyarakat yang belum terasa, enterpreneurship yang minim dimiliki anak ITB, bagaimana caranya menaikkan ‘derajat’ pegawai, seni membaca global issue dan konstelasi perdagangan, peka budaya dan tren dunia, integritas dan loyalitas tim kerja, memahami apa yang kita baca (ini kasus sholat, hafalan Qur’an, dan seterusnya), coocopeat, guano, senyawa anti-rust, senyawa metabolisme Trichoderma sp., dst.

    Inti tulisan ini sebetulnya supaya saya ingat bahwa ada banyak bahasan dan masalah yang siapa tau nanti bisa saya carikan jalan keluarnya.

    Senang! Bisa sekape sama Feni dan Dila yang rajin ngaji dan rawatib. Semoga kita bisa jadi penggiat qiyamullail ya!




    Continue Reading
    bismillaahirrahmaanirrahiim.


    Judulnya apa asli saya bingung jadi begitu hehe. Gapapalahya. Kalau mau saran boleh pisan nanti saya ganti.

    Sekian waktu lalu, saya mendapat LINE dari seorang kawan. Ia bertanya mengenai identifikasi tumbuhan, dan saya mengintegrasikan bahasan dengan analisis vegetasi berhubung ekologi masih lebih terpatri dibanding biosistematik hehehe gajuga deng. Dari list tumbuhan yang diberikan, saya yakin bisa menemukannya di lapangan jika mengikuti prosedur yang biasanya dilakukan dalam kuliah-kuliah lapangan dan permainan lab ria.

    Ternyata dari list tumbuhan, saya diperkenalkan dengan seseorang bernama Pak Junghuhn. Beliau memiliki track record yang keren dengan posisi sebagai geologist yang juga ahli botani. Dan seterusnya dan seterusnya, terakhir kali saya berpesan untuk tetap (Growing &) Inspiring. Maksudnya, kalau ada cerita atau hikmah yang bisa disemai, kenapa tidak.
    Menyemainya ya berupa posting cerita.

    Thread chat tersebut singkat, mengisi waktu tunggu di bank waktu itu. Namun ternyata saya kepikiran berhari-harii asli (3 hari keitung jamak kan?) dan masih sampai sekarang. Bicara cita dan visi, pengalaman dan penanaman, daya diri dan pemberdayaan. Mungkin sebetulnya tidak sedalam itu atau justru lebih dalam dari itu (?) tapi saya berpikir keras setelahnya. Sore tadi, saya ceritakan ke Abah mengenai apa yang diceritakan pada saya.
    Abah saya kenal tau siapa Pak Junghuhn. Kenapa saya kalah gaul.


    Masyarakat
    Segmen cerita geologist botanist yang paling menarik hati saya adalah ketika beliau bisa menyampaikan pada warga mengenai fakta lapangan dan hasil studi ilmiah yang logis. Keduanya mendukung satu sama lain. Walhasil, warga tidak perlu trial error sekian tahun dalam bercocok tanam dan tentu aspek perekonomian-kesejahteraan meningkat.

    Sedangkan yang saya temui sejauh obrolan pengambilan data tugas akhir,
    “Ceritanya ya Néng, sama tuan tanah téh saya dikasih 100 tumbak. Terus ada satu orang lagi, dikasih 100 tumbak juga. Bedanya mah ya Néng, si éta mah sakola. Bapa mah apanan nteu. Tapi hasil panen Bapa lebih banyak daripada si éta wkwkwkwkwk.”
    Intinya di ending bapak petani yang satu ini ketawa. Jelas bukan “wkwk” tapi saya bingung gimana nulisnya soalnya “hahahaha” kesannya gimana gitu. Saya ikutan ketawa aja tapi kena di hati juga sih.

    Skor sementara:
    Pengalaman di lapangan vs. Teori di sekolahan dan kuliahan | 1 vs. 0

    Tidak hanya bapak-bapak petani di sawah, ada juga bapak ibu petani bunga, kebun sayuran, dan lainnya rasanya masih banyak yang belum merasakan (bukan tidak sama sekali ya) adanya dampak dari hasil-hasil studi dan riset di lembaga pendidikan :(
    Setidaknya ini saya bicara dari bidang biologi ke pertanian. Semoga prodi lain sudah impactful. Barangkali anak Rekayasa Pertanian sudah lebih aplikatif?


    Peran, Porsi, Potensi
    Ya sebetulnya tidak ada maksud sama sekali mengecilkan ranah akademisi. Ya masa atuh saya mengecilkan motivasi pribadi (?). Mungkin memang sementara ini ranah yang ada di depan saya adalah bergiat-giat menemukan kesimpulan dari studi lapangan yang kalau kami kaji masih kebanyakan asumsi hehehehe, membuat simulasi dan eksperimen yang siapa tau nanti teorinya berlaku juga dalam skala raksasa. Saat ini kami masih menjalani peran masing-masing, di perkuliahan dan di masyarakat memenuhi kebutuhan. Mungkin sebentar lagi kami bertemu dengan lebih nyata, terjembatani sesuatu bernama bekerja mengabdi, berkhidmat untuk rakyat (suka aja frasanya).

    Sebetulnya lagii, karena kampus punya poin pengabdian dalam tridharmanya, sudah banyak kegiatan yang orientasinya adalah kesejahteraan masyarakat. Ada juga pengmas-pengmas dosen yang itu lho jadinya proyekan. Sayangnya terbatas, belum semua masyarakat bisa merasakan langsung bidang usahanya jadi bahan riset dan hasilnya menguntungkan mereka, jumlah proyekan tentunya masih < kebutuhan riset masyarakat yang sebetulnya masyarakatnya sendiri tidak menyadari bahwa mereka butuh itu, belum juga bicara dana yang dialirkan heheu.

    Kalau berdasarkan apa yang dikeluhkan oleh bos KP waktu itu, kebanyakan petani merasa punya banyak masalah tapi belum bisa mencaritau secara langsung melalui RnD berhubung butuh banyak alat bahan dan sarana yang dibutuhkan dan itu m a h a l. Akhirnya bertahanlah petani dengan sistem coba-coba dan ya memang ini satu-satunya jalan yang bisa ditempuh walaupun akan memangkas biaya juga. Eh saya jadi ingat ada tulisan tentang KP yang belum saya selesaikan hehe setelah ini deh lebih komplitnya insyaaAllah.

    Intinya, potensi menghubungkan kampus dan masyarakat dengan lebih masif ilmiah dan berdampak tentu ada. Mahasiswa mau mencari tau apa kontribusi yang bisa dilakukan sebagai mahasiswa juga sangat bisa. Itupun kalau tidak terlanjur pusing dengan kapan lulus. Jadi, memunculkan kebutuhan mengatur porsi hidup untuk diri sendiri dan hidup untuk orang lain adalah sangat penting.

    Ai saya kumaha nya.


    Etnobotani
    Entah bagaimana subjudul ini dituliskan. Ingin mencari tau lebih dalam. Sejauh ini sih mata kuliah ini masuk fav saya soalnya botani iya masyarakat iya.
    Mari menakar porsi masyarakat di posisi manapun kita saat ini.
    "Sendirinya pusing TA!" Iya pusing. Pusing gimana biar TA saya berguna buat masyarakat nantinya menurut saya tidak ada ruginya. 


    Oiya skor sementara akhirnya diapdet jadi:
    Pengalaman di lapangan vs. Teori di sekolahan dan kuliahan | 1 vs. 1
    Setelah Abah saya, “Ya syukur ada yang ngasih tanah 100 tumbak mah. Tanahnya dapet dari mana kalau ngga kuliah sama sekolah?”.
    Beda lagi kalau udah kaya dari lahir sih.


    Oke sekian duluu. Eh gambar di atas itu padi mutilated yang udah kewarna safranin, siapatau nanya itu apa. 
    Continue Reading

    bismillaahirrahmaanirrahiim.


    Tulisan ini diketik oleh seorang anggota biasa Himabio Nymphaea ITB yang bisa dibilang terlambat menyadari bahwa dirinya belum melakukan apa-apa secara langsung untuk karya dan keprofesian terkhusus pada bidang biologi, minimal lingkup kampus.
    Terus, sedih dia wkwk dan kini sudah hampir penghujung waktunya menyandang anggota biasa (dan swasta?) Himabio Nimpea.
    Heits.
    Iya, kebiasaan saya kalau nulis Nymphaea jadi Nimpea. Saya ngomelin orang yang salah nulis Nymphaea jadi Nymphea-Nymphae- dan nimfa-nimfa lainnya padahal kami bukan kecoa yang punya nimfa :( tapi saya sendiri nulisnya Nimpea. Tujuannya baik kok, biar orang bisa baca dalam versi Sundanis dikit. Ini sebentuk cinta saya pada himpunan dan Bandung. Oke skip.

    Selesai dengan Diri Sendiri
    Saya tergolong orang yang belum bisa membuat alur aliran sendiri, jadi saya mengikuti alur utama (mainstream ya?) yang biasa ada. Di kampus ini dan dalam penglihatan saya, titian karir (?) biasanya akan tertiti setelah sesegera mungkin mengambil langkah sealur. Misal ketika berniat untuk akhirnya mengabdi di kabinet KM ITB maka silakan mulai dengan magang dan tidak sekip staffing, jika ingin menjadi senator di Himabio Nymphaea silakan jadi DPA atau tim senator, dan seterusnya. Ini yang biasanya saya lihat. Butuh waktu untuk menyelaraskan frekuensi, menyamakan visi dengan rekan-rekan, membentuk atmosfer kerja yang menyenangkan dan akhirnya bisa menjadi sarana refresh di luar akademik. Akan lebih sulit jika baru masuk di tengah aliran (sekali lagi ini hanya yang terlihat dari lensa kacamata saya yang amat sempit). Begitu fenomena biasanya.

    Ada juga sih yang tidak biasa, seperti fenomena kader karbitan (*mengacungkan tangan* misalnya) di Gamais ITB.

    Melepaskan diri dari statement politik kampus hanya milik elitis dan seterusnya, bagi saya prinsip seleksi alam berlaku dimanapun. Bukan bicara yang menduduki posisi hanya kalangan elit tertentu saja, melainkan siapa yang kuat akan bertahan, siapa yang adaptif dan bisa menyesuaikan diri akan menjadi semakin kuat. Kekuatan ini bisa mulai dipupuk ketika mengambil langkah awal. Sayangnya, di awal masuk perkuliahan bisa jadi ada personal-personal yang disibukkan dengan adaptasi dan shock culture. Akhirnya waktu banyak berlalu dan perlu energi lebih untuk mengejar ketertinggalan. Maka amat sangat penting untuk bisa tuntas dengan diri sendiri sesegera mungkin dan kemudian diri ini bisa mulai mengepakkan sayap, terbang menebar manfaat dan mengaktualisasi diri.

    Bersegera selesai dengan diri sendiri. Agar nanti bisa segera melangkah untuk orang lain.
    Ya sayangnya saya sendiri lama sekali mendapati jalan-mana-yang-akan-kulalui. Akhirnya, mengikuti alur yang orang lain buatkan. Tidak buruk sebetulnya, jika bicara tentang memetik hikmah sebanyak-banyaknya dan memaksimalkan diri dimanapun diri ini berpijak.

    Akhirnya saya ‘ditarik’ ke Gamais ITB dalam keadaan terhuyung-huyung. Melupakan trek bayangan yang saya rancang untuk menjadi senator Nimpea wkwkwkwk dadah yang baru tau (bahkan saya udah ngobrol banyak waktu itu sama Kak Nadia Puji Utami) (massa Nimpea gaada yang tau yakin deh) (eh Dila tau deng)). Semudah itu dibelokkan, karena tak kunjung usaila dengan diri sendiri.
    Bersegeralah selesai dengan diri, dan bersegera mengepak sayap untuk sekitar.

    Bukan Apatis (kook)
    Ditariknya saya menyelami Gamais ITB ternyata amat seirama dengan tuntutan rumah dan keluarga. Tidak pulang malam dan aktivitas dimulai pukul 06.00 maka saya harus berangkat maksimal 05.20 dari rumah. Ritmenya menyenangkan, membuat tanggungan di rumah, kebersamaan yang harus saya penuhi, alhamdulillah lebih mudah untuk didapat. Namun bersamaan dengan itu, yang mulanya tersingkir akhirnya semakin tersingkir.
    Himpunanku hehehehehehe.

    Kewajiban sebagai anggota biasa untuk hadir forum-forum tidak terpenuhi, berhubung mayoritas diselenggarakan malam hari dan saya sulit pulang malam saya terlalu lelah untuk melanjutkan 12 jam berkemahasiswaislaman dengan kemahasiswaan lainnya. Di tahun pertama saya berbphgamais pusat, saya tidak jadi staff himpunan. Di tahun kedua, saya staff BRT dan saya banyak salah ke Bu Kadiv yakni Dila huhu karena sibuk sendiri.

    Dalam hati kecil (ha), saya sebetulnya ingin lebih bisa berdedikasi namun entah mengapa atmosfernya sulid saya sesuaikan. Selain terlalu lelah, em.. ya itu sih udah lelah aja hehe. Kesibukan yang ada membawa saya menjadi seorang yang ansos himpunan, tidak mengenal adek kelas, ya gitulah sedih. Dan kesedihan ini baru benar-benar terasa ketika saya lengser di depan. Saya mendapati periode dimana saya berdiam, kemudian menyadari bahwa betapa saya masih banyak belum memenuhi hak-hak organisasi dan teman himpunan saya, dan saya.. amat terlambat menyadarinya. Bukan berniat apatis, namun sebegitu tidak sadarnya.

    Pengen ngetik “Kok gaada yang ngingetin saya sih di masa-masa itu? :(“ tapi ngeselin ga sih ni anak udah tau salah kok malah nyalahin orang zzz.

    Dirgahayu
    Jadi kemarin adalah hari lahirnya Nymphaea ITB dan tanggal Musyawarah Anggota untuk membahas LPJ kepengurusan angkatan 2015. Bagi saya masih amat sulit untuk menyamakan ritme agenda Nimpea dan entah sampai kapan? Sebetulnya di semester ini saya ada proyek menyapa rekan di himpunan setiap kali hendak pulang. Ternyata kebiasaan setor muka (doang) juga berlaku untuk agenda semacam ini. Sejujurnya, karena belum mendapati saya memiliki suhu yang sama bukan karena tidak mau, tapi tak tau bagaimana caranya hehe.

    Namun perlu diingat, saya selalu senang untuk menyorakkan Yellow Submarine dan saya akui saya senang menjadi bagian dari pasukan kuning ngejreng ini.
    Semoga berjaya beserta seisinya.


    Panjang juga. Sebetulnya akhir-akhir ini saya banyak menuliskan terkait aktivitas di kampus dalam rangka mengingat, menjadi pengingat, dan semoga bisa memetik hikmah yang berserak.
    Continue Reading
    bismillahirrahmanirrahim

    Suatu sore di mikroteknik, yang terdengar adalah rintik hujan (deras banget deng). Saya sedang membuka kotak makanan padang (alhamdulillah itu teh ya habis saya ngementor terus laper pisan pisan terus ketemu Mpit terus saya bilang saya pengen makan tapi hujan amat deras jadi gatau kudu kemana dan akhirnya kami jalan ke miktek terus belum 5 menit Bu Isty yang lagi neduh nyamperin, "Shaf udah makan? Nih makan aja, kalau saya mah gaakan kemakan" kemudian saya takjub sampe spicles dan emang ya hujan adalah salah satu cara bagi Allaah menurunkan berkahnya). Saya mulai makan (kumohon jangan bilang Bu Reni), kemudian hape saya berdering.

    "Halo assalamualaikum, Teh."

    Itu adik saya yang pertama, yang paling besar, yang tingginya sudah melebihi saya, satu-satunya yang jadi teman main Mickey dan Bos terus saya sedih banget waktu Bosnya masuk lubang tikus :(, yang paling menyebalkan, yang akhirnya berani bilang "Kenapa sih Teh, Teteh kalau ke Aa mah intimidatif gitu?" terus saya bener-bener merasa bersalah sekali setelah itu sampai ingin menangis.
    Iya sih, waktu itu tanpa sadar, semua omongan dia saya sangkal melulu seakan gaada kebenaran dari huruf-hurufnya huhu maaf ya :(

    Adik saya yang ini saya panggil Aa sejak ada adek kedua, supaya dia bisa niru. Dulu pun saya dipanggilnya pakai nama, kata "Teteh" baru muncul di saat bersamaan dengan munculnya "Aa".
    Lah kok jadi ke sini.

    Balik ke ruang tamu mikroteknik, saya jadi bercengkrama sama adik saya dan membahas beberapa hal. Sebetulnya sehari sebelum itu adik saya meminta kirimkan pulsa tapi sayanya belum kirim-kirim, eh keduluan sama dia beli pulsa sendiri (sepertinya). Gapapa katanya. Sampai ke pertanyaan,
    "Teh, suka nelepon ini ini ini ngga?" (ini -> nama-nama saudara kami)
    "Ngga euy. Udah lama."
    "Teh atuh telepon sesekali mah. Kemarin pas nelepon ke Jakarta, katanya (nama adik sepupu) ini mah kalau ngerjain PR suka sendirii aja. Udah pinter, katanya diajarin Teteh ahaha".
    Terharu saya. Adik sepupu ini masih bocah, kapan saya ngajarin wkw. Cuma yang digarisbawahi bukan itu sih.
    Kapan nelepon yang lain, Teh?

    Banyak hal yang saya pelajari dari adik saya yang satu ini. Banyak sekali banget banget karena saya dan si ieu jadi teman sepermainan cukup lama. Satu poin dari percakapan di atas adalah betapa silaturahmi amat menjadi kegemarannya, yang mestinya jadi kegemaran saya juga.

    Saya mungkin terlalu lama terjebak dalam kesibukan pribadi. Akhirnya kalimat "Shaaf sombong ih" hanya jadi selewat saja sembari saya balas "Lah kamu pun baru ngontak saya 'kan ini?" dalam hati huhu astaghfirullah. Entah berapa kali mengecewakan kawan dekat saya, "Ah Shaffa mah sibuk" katanya, dia jadi males apdet kabar ketika saya balas "Eh iya gimanaa? Maaf tenggelaam,".

    ---

    Adik saya yang ini amat giat menyambung silaturahmi. Sekedar mendengar suara saudara-saudara dalam waktu kurang dari 10 menit pun amat berharga. Barangkali kesibukan ini yang menjadi penyelamat urusannya kemudian?

    Mungkin ini saatnya saya kembali memaknai kalimat "Apa kabar?".
    Jangan pada pundung ya aku suka skip membalas chatmu huhu.
    Sini sini ingatkan aku untuk sapa kalian.

    dikku yang ini sedang berjuang. katanya mau masuk FSRD ITB dan jadi ahli Qur'an. doain ya.


    #MSGMenulis #JanganTelatLagi #NantiHarusNulis
    Continue Reading
    bismillaahirrahmaanirrahiim


    Inginkah kamu mendengar sebuah cerita? Mengulik masa lalu dan masa-masa kini, dimana aku yang berbicara. Adapun tentang yang lalu, kakek nenekku selalu mengulang cerita tentang cicit dari cicit cicicitnya cicit nenek moyang kami.

    Aku masih memiliki tanya yang sedari lahirku belum terjawab. Apakah tidak apa aku ada? Apakah adaku merupakan kesedihan bagimu? Padahal aku tak pernah bermaksud untuk melukai sesiapapun. Tidak bermaksud namun tetap dianggap begitu siapa yang tak terluka?

    Beberapa dari nenek moyangku diberikan rahmat dan limpahan karunia dari Allah Subhanahuwata'ala. Sedemikian iri aku hanya bisa mendengar ceritanya. Orang-orang selalu menjadikan kami peringatan, "Jangan dekat-dekat dia, panas!" atau "Eh, bahaya!". Aku tak apa. Jarak membuat aku dan orang-orang ada dalam kedamaian, kehangatan yang nyata.

    Bicara kembali mengenai iriku pada yang terdahulu, aku sungguh ingin merasa sejenak saja aku menjadi lain dari biasanya; dingin. Salah satu nenek moyangku diberi kesempatan itu. Lain hal, bersamaan dengan momen tersebut beliau menyelimuti Sang Kekasih Allah.
    Ibrahim. Siapa pula yang tak iri? Berbeda dari biasanya dan menjadi kunci keselamatan Bapak Para Nabi.
    Apakah iri yang begini boleh?

    Sedangkan ciptaan yang ini, kemarin diseret-seret ke dalam keributan. Kesal sekali rasanya, aku tidak punya kuasa untuk tidak melumat benda yang dikenakan padaku. Aku tidak bisa memilih. Kesal sekali rasanya, terutama jika akhirnya timbul keributan, perpecahan, HEI AKU MERASA DIKAMBINGHITAMKAN. Aku ciptaan-Nya, menghamba pada-Nya, jangan berpecah karena sungguh ada yang tertawa menonton perdebatan ituu. Ingin mengumpat, tapi rasanya tidak perlu jika memang tidak memperbaiki keadaan. Lagipula tak ada yang mendengarku.  Bukankah mestinya kita hanya lakukan apa yang Allah suka?

    Apakah tidak apa aku ada?
    Bukankah ciptaan-Nya memang 'kebiasaan' sulit bersyukur? Apakah dengan aku meragukan manfaat keberadaanku, aku menjadi ciptaan-Nya yang kufur nikmat? Na'udzubillah :(
    Apakah api bisa mengetik emoji? Wkwk. 

    Rabb Yang Jiwa Pengetik huruf ini ada di tangan-Nya, sungguh sebuah kehormatan bagi hamba menjadi prajurit-Mu. Menjadi suatu yang ditakuti namun dibutuhkan di saat yang sama. Wahai, siapa pula yang tak takut api neraka? Aku di sana, aku membakar dan melahap siapapun yang terjerumus. Kenyang? Tidak, mana mau diri ini melahap asam dan busuk dosa dunia. Namun Allah Maha Sayang, tentu membuatku bisa bertahan. Siapa juga yang tidak merasa terhormat diberi amanah besar dan mulia, menjadi peringatan bagi para manusia? Sia-sia bagi yang menyia-nyiakan posisi terhormat yang diberikan padanya saat ini. Mungkin nanti suatu ketika kita bisa bertemu?
    Na'udzubillah. Aku harap tidak.

    Namun kontemplasi panjang yang menemaniku selalu berhasil menentramkan, jika memang orientasi ini tak beralih dari-Nya. Aku bersyukur atas wujudku saat ini. Tetaplah menjaga jarak, biar aku yang matangkan makananmu, menerangi wajahmu, dan menyelimutimu dengan kehangatan yang cukup.

    Hadaanallah.



    #5
    Ini tulisan ditulis dengan dua tanggal yang berbeda. Beberapa paragraf ketika ribut-ribut terbakarnya panji, beberapa lainnya 11 Januari 2019. Paragrafnya juga mengalami reorder. Jadi kalo feelnya campuraduk, maklum saja yaa.
    Continue Reading

    Adalah sebuah kebutuhan. Ya?

    bismillaahirrahmaanirrahiim

    Adalah sebuah kebutuhan khusus bagi ciptaan Allah yang istimewa, pendekatan emosional dan dari hati ke hati. Tidak perlu mengelak, Sist. Sekaku-kakunya kita, se-ngga ciwi-nya kita, secara fitrahnya memang berbeda. Bagaimana mengelola diri antar sesama perempuan saja sudah beragam, apalagi dibandingkan dengan laki-laki.
    Sebetulnya tidak terlalu perlu sih, membandingkan keduanya. Tergantung tema penelitian dan objek pekerjaan hehe.

    2017, jaket FT UGM punya Ayu Rahmawati

    Tapi, girls talk adalah perlu. Ya?
    Katanya pendekatan ke perempuan akan lebih mengena kalau sudah saling atau bisa mengerti. Pokoknya kalau udah berhasil memahami doi, beuh kamu akan menjadi sosok yang dipercaya. Tidak bisa digeneralisasi sih, tapi kalau sekilas dipikir memang orang yang butuh perhatian kalau dapet apa yang dibutuhkan ya senang ya ‘kan. Kamunya siapa? Perempuan? Let’s talk more.

    Perlu.
    Sayangnya kadang terbenam dalam kesibukan nih, jadi suka ga(gal men-)sempat(-kan diri) say hi sama sesama girls. Kawan lama terutama, tau kabar pun tidak. Waktu ditanya sama kawan lama yang kuliah nun jauh di sana “Eh, gimana kabarnya ini? Kalian satu kota ‘kan?”, gelagapan. Malu. Terus nyengir hehe terus sudah topiknya sampai situ saja. Hem? Tidak ada rasa bersalah atau tidak tergerak mengontak saat itu juga karena khawatir sekian menit selanjutnya membuat lupa?

    Kenapa harus merasa bersalah?
    Kalau dia baik-baik saja, alhamdulillah. Kalau kurang baik? Kalau sebetulnya dia butuh tapi sungkan mengontak karena khawatir mengganggu? Alhamdulillah kalau masih ada di level bimbang. Kalau tidak baik-baik saja, gimana..
    Tidak pakai tanda tanya di kalimat barusan, karena sudah terlewati jadi ya gimana ya. Begitu sih kesan yang hendak ditampakkan hehe.

    Girls talk bisa jadi adalah penyelamat. Untuk kita-kita yang membutuhkan kawan bicara, didengar, diberi saran, disemangati, diingatkan. Bisa juga penyelamatmu jika ternyata aku sedang di ambang batas kebaikan, hendak jatuh, dan kamu sedang tak ada di sekitarku namun na’udzubillah ternyata ku terjatuh, kamu bisa jawab ketika ditanya oleh malaikat “Kenapa kawanmu jatuh?!”, “Wahai, aku sudah berusaha ingatkan dan tarik tangannya. Maafkan aku..” Allah lihat proses dan usaha. Eh tapi Allah juga lihat titik akhir. Semoga pada detik terakhir jatuhku, kamu masih berusaha raih tanganku. Dan semoga, kita tidak terjatuh ya. Tolong, genggamlah erat sedari sekarang,

    Perlu Girls talk.
    Kalau belum merasa begitu, hayu munculkan kebutuhan. Dengan siapa lagi harus berbicara? Kawan laki-laki? Aduh ada saatnya mencapai titik dimana interaksi yang terlalu intens teh kurang sehat euy. Tidak selalu kurang sehatnya dari dua sudut pandang dan tidak selalu terasa oleh keduanya, tapi setidaknya buat hati ini sih huhu rapuh. Atau mungkin yang sadar duluan malah orang lain, “Eh, kalian?” ‘kan tidak enak.

    Aku hilang dan kabur dari talk kita, Girls? Maafkan aku :(
    Sungguh kata-kata “aku” “kamu” maupun subjek tersembunyi dalam paragraf-paragraf atas adalah benar-benar ditujukan padaku. Ketika membaca ada tokoh yang disudutkan, percayalah itu adalah untukku. Tapi juga, yang membutuhkan kamu-kamu adalah aku juga. Jika aku terlalu larut dan hilang, tolong panggil saja (Yeu malah minta). Aku butuh dipanggil, ditanya. Aku butuh girls talk. Aku butuh diingatkan.

    Semoga jarak yang sempat ada selama ini tidak merutuki kehangatan girls talk yang akan kita bangun kembali ya. Eh, pokonya jangan dingin dan sungkan kaku, ya!
    Semangat kita, Girls. Ini adalah proyek dunia akhirat.


    Januari 2017. gambar diattach karena lama tak jumpa. doa teruntai untuk astonah di seluruh penjuru.



    #4. 
    Sebetulnya boys talk itu perlu apa tidak? Saya tidak tahu hehe.


    Continue Reading
    bismillahirrahmanirrahim

    captured pada masanya, sebelum ramai oleh hasil menjarah pamerannya ovin.
    bingung di postingan ini mau simpen gambar apa hehe

    Ini cerita mengenai takdir, qada dan qadar ya?
    Masing-masing kita pasti minimal melakukan sebuah pertimbangan  minimal sesaat sebelum melakukan sesuatu. Sebagian orang memang terbiasa menata hidup, detik demi detiknya direncanakan detail dan komitmen untuk mewujudkannya. Sebagian lainnya yang mengakui menganut improvisasi tanpa batas pun memiliki fase mengeluarkan sebuah keputusan.

    Masing-masing kita memiliki fase atau periodisasi ujian, sadar atau tidak. Di balik setiap perencanaan yang dibuat, ada perencanaan lebih besar dan sempurna, telah tertulis dan hanya Rabb semesta alam yang mengetahui. Hubungannya dengan ujian?

    Bagaimana jika poin-poin rencana yang kita goreskan di atas kertas kemudian terpaksa harus disilang. Bagaimana jika goresan ceklis hanya tiba di list milik kawan seperjuanganmu saja, padahal sebelumnya semua itu dirumuskan bersama. Bagaimana jika sedetik yang lalu baru saja list komitmen dirampungkan, sedetik kemudian tiba panggilan yang membuat list tersebut tidak dapat terlaksana.
    Bagaimana jika bagaimana jika di atas adalah sebuah bahan kontemplasi dan bisa jadi menjadi alat ukur kadar keikhlasan. Semua telah ditulis oleh Yang Maha Sutradara, dan itu pasti yang terbaik. Tentu perlu diingat bahwa kita semua memiliki pilihan jalan, menjadi ujian juga apakah berada di jalan yang Allah ridhoi masuk ke dalam arah hidup yang kita kehendaki.
    Menuju arah yang baik, dengan jalan yang baik, mantep tuh. Niat baik jika jalan tempuhnya belum baik, bagaimana ya?
    Eh kok ke sini.

    Maka sesering mungkin akhirnya ada kebutuhan menengok list komitmen dan agenda yang telah berusaha disusun. Menelusuri apakah jalan yang saya telusuri selama ini sudah baik, dan terarah-- pada-Nya?
    Apakah ketika kotak-kotak ini bukan saya ceklis namun saya silang, respon saya baik? Kecewa atas diri sendiri, menyalahkan orang lain, atau "Santai deng, besok aja" dan ga berasa apa-apa?
    Apakah ga berasa apa-apa itu baik?
    Wkwk soalnya ya gitu sering :( Dan seringnya, silang-silang muncul karena menunda hue.

    Trending awal tahun biasanya adalah resolusinya. Kalau begitu, berarti awal tahun saya banyak banget wkwk. Nice, jika emang tumbuh resolusi baru karena resolusi sebelumnya sudah terceklis. Kalau karena kertasnya ilang terus lupa kemarin nulis apa terus jadi bikin lagi ajadeh, ya gimana ya.

    Menulis resolusi adalah sebentuk wujud niat awal menuju arah yang lebih baik, dan evaluasi diri. Setiap waktu bisa jadi waktu yang baik untuk menulis resolusi dan evaluasi, berkontemplasi, refleksi.

    Semoga kita banyak punya waktu itu ya.
    Biar ga kalah sama dua yang di pundak, rajin banget nulis evaluasi diri kita dan kita ngapain. Biar kita ada pembelaan, "YaaAllah hamba ini sudah berusaha menghakimi diri sendiri dan meninggalkan apa-apa yang mestinya tidak dilalui. Hamba ini sudah berusaha memaknai porsi dan kesempatan usaha untuk menentukan ujung perjalanan dunia ini."




    Ini sepertinya #3.
    Continue Reading
    bismillaahirrahmaanirrahiim. 


    Cerah sekali siang ini, Kawan. Atau terik panas membakar? Bergantung pada bagaimana kamu hendak menarik arti ketika ditanya bagaimana mikroklimat kali ini.  Tanpa mendongak pun kamu bisa melihat sang lazuardi sedang menyantap permen kapas.

    Eh, serius. Awan-awan putih itu seperti ditelan, setidaknya kelihatan di lampu merah ketiga.  Suhu di sekitar kami sedang panas, mungkin banyak yang mengeluh karena dirinya jadi berpeluh. Tapi barusan ada yang nyeletuk, kalau panas jadi makin banyak air yang menguap, terus jadi permen kapas rasa original. Lama-lama, kalau kebanyakan kapasnya dia jadi kelabu. Rasa oreo?
    Masih penasaran kenapa awan yang kebanyakan air jadinya abu-abu.
    Barangkali kita mengeluh di satu saat, tapi di sesaat setelahnya alhamdulillah bunyinya allahumma shayyiban naafi'an.

    Sebetulnya Bandung saat ini sedang membingungkan kami warga Cibiru. Ketika berdiam di bawah bayang, rasa-rasanya ingin deh menelusup lagi ke balik selimut. Tiris. Tapi ketika bermotor ke jalan raya, panasnyaa alhamdulillah. Lagi, angin saat ini sedang banyak menyampaikan curhat, sepertinya perasaannya sedang berkecamuk. Mungkin gereget, melihat saya di sini banyak maunya, pengen mencapai ini itu, tapi diem-diem aja.

    Rasanya langit dan uap-uap air saja selalu sibuk, memikirkan baiknya manusia di bawah ini diapain. Kalau dikasih gerimis, dikasih deras, dikasi badai, gimana syukurnya gimana refleksinya gimana munajatnya. Ngaruhkah? Mestinya iya karena apa-apa di sekitar kita Allah kirim sebagai peringatan dan pengingat.
    Cuma kadang kurang peka kitanya, ngeluh mulu, alhamdulillah 'alaa kulli haal jadi ngga berlaku.

    Kalau kitanya bandel-bandel aja, langit dan uap-uap air itu was-was ngga ya? Allah 'kan mau kita makin ingat. Apakah langit dan uap-uap air itu pernah merasa gagal?
    Tapi kayanya ngga masalah sih, karena hasil tetap gimana Allah. Langit dan hujan telah dan akan selalu melaksanakan tugasnya dengan baik.

    Tinggal kitanya?
    Apakah tulisan saya aneh?



    Sepertinya ini #2. Sudah lama ditulis, postingnya tertunda terus.
    Continue Reading

    bismillaahirrahmaanirrahiim. 

    Iya menulis judulnya, dan bukan mengetik. Sengaja, supaya cakupannya lebih luas dan berlaku umum untuk hal-hal yang saya lakukan.

    Peringatan. Ini tulisan random abis. Sengaja dibuat ngga sistematis apalagi diniatkan untuk indah dibaca. Selepas ini saya ngetik. Tidak perlu lanjut dibaca kalau ngga mau menemukan ketidakjelasan dalam sekian menit ke depan hehe. Awalnya rada ragu, tapi biarin we lah yang ada aja terbitkan. Langkah kecil, daripada tidak jadi-jadi.

    Bagaimana saya menulis?
    Kata guru MI saya, cara saya pegang pulpen salah tapi gatau gimana kebiasaannya emang gitu hehe yang penting kebaca.
    Ini yang sedang saya tanyakan pada diri. Bagaimana bisa tulisan muncul di blog ini secara random, di sticky notes sepotong-potong, di draf blogger, di words, di buku yang udah rada jarang soalnya takut kebaca orang wkwk, di grup line dan wa dengan anggota saya sendiri saja, dan tempat-tempat lain. Bagaimana?

    Ini adalah tulisan yang ujungnya kemana saya belum tau. Tulisan yang menuliskan apa yang terbersit di pikiran dalam saat ini banget. Soalnya saya juga penasaran, alur saya mikir kalo mau nulis tuh gimana ya. Jadi, saat ini saya sedang mengingat-ingat darimana asal tulisan-tulisan yang muncul.

    1. Dorongan dari apa yang saya rasakan. Pengolahan dari apa yang saya rasakan ini biasanya menghasilkan rangkaian kata yang penuh kiasan karena kalau tentang hal ini saya amat memilih diksi. Tudepoin dengan kata-kata langsung rasanya terlalu gimana gitu.
    2. Lanjutan draf atau potongan sebelumnya. Ada kebiasaan ngga beresin tulisan saat itu juga heuheu.
    3. Menyesuaikan gambar yang ada, jadi ya bercerita dari gambar atau mungkin bikin caption. Nyari hikmah dari gambar. Sebetulnya intinya biar nyambung aja gitu sih, di blog atau ig. Gaasik kalo ga pake gambar.
    4. Ingin menyampaikan sesuatu ke orang lain tapi enggan kalau dia langsung tau. Dramatik gitu kalau dia nemunya ga sengaja wkwk.
    5. Sesuai rubrik. Kaya misal waktu itu sempet ada rubrik Ayat Favoritmu. Tapi ga tahan lama, yah emang lupa sih hehe.
    6. Perluasan dari kejadian kecil. Ini hiperbolis, membesar-besarkan satu kalimat jadi sekian paragraf yang intinyaa sama.
    7. Menebak apa yang dirasakan oleh benda hidup atau mati yang tidak bisa bicaraa.
    8. Jawaban dari pertanyaan yang terbersit.
    9. Merespon tulisan lain?
    10. Pengen aja gitu cerita.

    Sepertinya segitu. Entah ada yang keskip atau ngga. Gajelas banget ya? Menyesuaikan pelaku dan bisa lah keliatan dari gaya nulisnya. Random he.

    Yak di Januari ini, manteman saya pada ikut #30hbc @30haribercerita di ig. Saya belum pernah ikut sih. Terus kalo itu dikasih tema harian. Katanya, kalau mau berusaha istiqomah jangan sendiri.. mungkin kalau saya mencoba merutinkan nulisnya bersamaan dengan mereka bisa meringankan kali ya?

    Saya bukan ikutan #30hbc, tapi saya mau menata bagaimana saya menulis. Semoga bisa lebih bermanfaat dan produktif. Barangkali ulas buku yang lebih umum? Cerita yang terinspirasi dari shahabiyah? Bahas kemuslimahan berhubung banyak hal terjadi setahun ke belakang? Mimpi dan gagasan untuk masa mendatang? Tanggap isu?
    Inginnya banyak sekali. Tapi mulai dari ini sih, nulis dulu setiap hari. 21 hari?

    Bismillah dulu. YaaAllah hamba-Mu ini ingin jadi sebaik-baik hamba dan memohon ridho untuk menulis lebih banyak, menebar manfaat, dan semoga bernilai akhirat.
    Tagih aja kalau ngga rilis-rilis. Seperti biasa, saya butuh diingatkan. Haturnuhuun.



    Maka ini adalah #1.

    Continue Reading
    bismillaahirrahmaanirrahiim. 

    barakallah para volunteer, dekorasinya suka banget cokelat soalnya wkwk
    Alhamdulillah. MaasyaAllah wa tabaarakallah. Adalah kami yang Allah berikan kesempatan untuk menikmati momen-momen berarti dan perpisahan nan manis. Pas banget waktu misahnya, kalau kata Teh Derin sih pas lagi sayang-sayangnya.
    Tidak apa. Allah selalu tau apa yang terbaik buat kita, maka dari itu semengesankan itu akhirnya. Ya 'kan?

    Apakah H+2 ini baru diposting terhitung terlambat? Soalnya kalau di saya masih kerasa banget vibes-nya hehe.
    Tentang kami yang terhubung dalam sebuah bentuk pengabdian di tempat yang terpisah. Terhubung tapi terpisah, gimana? Terhubung dalam jalinan Beasiswa Aktivis Salman 2018, terpisah dalam ranah aktivitas masing-masing. Terhubung setidaknya sebulan sekali dalam pembinaan, terpisah karena kami dari 5 region berbeda; Bandung, Jakarta, Surabaya, Semarang, dan Yogyakarta,

    Kami dikumpulkan di Februari 2018, dengan jaket biru-krem diawali dengan duduk-berdiri-duduk-berdiri gladi biar bagus pengantar Indonesia Rayanya  kompak. Kami berseratus tiga belas (Benarkah? Segitu?) (Maaf Teh Derin sampe sekarang angka-angkaan ini tidak menempel huhu) mendapat doktrinasi mencari kebaikan, memberi kebaikan, dan menjadi leading figure masa depan.
    Diksinya doktrinasi, pengen aja wkwk ini konotasi positif.

    DIpertemukan dengan sosok-sosok hebat maasyaAllah, diberikan kesempatan dan Allah mampukan menjadi sosok di balik sebuah organisasi, komunitas, keluarga, dan lainnya. Inspiring people yang saya susah banget hapal namanya huhu (sebuah  pengakuan). Sebulan sekali sebetulnya cukup, tapi di agenda pembinaan yang memberi kesempatan untuk lebih mengenal banyak, saya izin KP. Makanya ketika di perpisahan kemarin bisa bertemu kembali, seneng banget karena bisa cocokin "Wah bener namanya ini".
    Pas keuji kenal semua akhwatnya, eh itu ternyata di momen perpisahan. 'Kan, gemes wkwk.


    Kata Kang Kamal Muzakki, Rumah Amal Salman, Beasiswa Aktivis Salman 2018 ini adalah bidan. Adalah ummat, yang membutuhkan pertolongan. Kemudian lahirlah kami, yang pada waktunya tentu perlu dikembalikan kepada ummat usai persalinan. Bayi-bayi ini dipersilakan berkelana, berkompetisi dan berkolaborasi dengan bayi-bayi lainnya.
    Walau ada beberapa yang prematur, namun potensi jalan yang akan ditempuh adalah satu bukan tidak mungkin 'kan?

    katanya ini gaya Leading Figure masa depan. ada foto HDnya ngga ya btw.
    Terimakasih semua pembelajarannya, momennya, tawanya, recehnya, intimidasinya, kesan pesan di logbooknya, stiker predikatnya, semuanya. Terimakasih dan salut tertinggi untuk rekan-rekan Beasiswa Aktivis Salman 2018. Tentunya juga terimakasih untuk RAS yang mengumpulkan kami dalam keluarga ini. Saya bisa menata dan mereview berkala apa yang saya lakukan di ranah fokus aktivitas, pentingnya memikirkan kontribusi untuk ummat, malu ketika diri ini berdiam sejenak dalam kesiaan, dan jati diri saya yang lain juga dipaksa keluar (?).

    Yak sebetulnya saya speechless wkwk makanya isi paragraf-paragraf ini random. Mau ceritain semua eh pengennya detail banget, mau ngerangkum, rasanya belum bisa menggambarkan. Yauda gini maaf ya pembaca. Mungkin review mata agenda atau momen tertentu bisa dibuat di postingan terpisah. Bisa jadi review materi, atau proyekan BAS untuk Guru kemarin?

    Pokoknya ketika berada di dalam suatu tempat, adalah piihan untuk menentukan sebanyak apa hikmah yang hendak diserap. Sebanyak apa pembelajaran yang jadi bekal kehidupan. Sebanyak apa kesyukuran yang dipanjatkan hingga akhirnya menentukan kadar kebahagiaan yang dirasa.

    Adalah sebuah banyak kesyukuran mendalam juga, mendapati Kang Agis memohon izin untuk tetap mengingatkan kami sebagai seorang kakak, walaupun sistem secara resmi telah melepas kewajiban tersebut. Mendalam banget geng asli :( Seberarti itu punya sosok yang selalu mengingatkan.
    Seperti biasa, selalu butuh diingatkan.

    Barakallahulakum! Kesyukuran yang amat tinggi yang dilangitkan, amat senang bertemu dengan kalian semua.
    See u dalam pembubaran panitia BAS untuk Guru? Atau rapat persiapan reuni? Atau atau lainnya? cc: ketua angkatan abadi Ari Saldi (subscribe YouTube channelnya gaes asli ini mari mudahkan urusan saudara kita) dan wakilnya Razil Ramyan.
    Continue Reading
    bismillaahirrahmaanirrahiim

    Menyaksikan bunga-bunga bermekaran adalah sungguh amat menentramkan hati, mampu mempertahankan lengkungan di tepian senyum. Kalau kata Mpit, saya aneh soalnya hafal peta bunga Bandung, padahal saya anaknya suka disorientasi (re: tukang nyasar).

    Adalah Lagerstoemia speciosa di dekat lapangan sipil pada masa TPB, dan depan Labtek Biru belakang Labtek VI, dan di Supratman sebelum pertigaan, dan di jalan Badaksinga deket perempatan Pasopati.
    Satu lagi, Tabebuia rosea kuning. Di dekat perpus merekah paripurna di Oktober masa TPB, terutama di hari UTS kalkulus. Juga ada di perempatan Cicaheum, tepat di pinggir lampu lalu lintas, Oktober juga dan rekahannya menawan sekali 2018 ini.
    (Hitung berapa jumlah kata tunjuk pada paragraf di atas!) (Bukan kuis berhadiah sih)

    Ketika telah menemukan periode dimana masing-masing mereka bermekaran, entah mengapa sadar tidak sadar, saya menantikan hal tersebut.
    Menunggu dan menanti adalah hal yang menyebalkan menurut ungkapan beberapa -atau mungkin banyak orang. Hanya saja untuk hal ini, rasanya menyenangkan.

    Di balik seluruh harapan dan penantian, ada satu hal yang tak boleh luput dari diri ini. Kemungkinan dimana yang dinanti tidak akan datang, atau fase setelah yang dinanti datang; ia pergi.

    Siap bertemu maka harus siap berpisah. Siap memiliki maka harus siap kehilangan. Siap berbahagia maka harus siap bersedih.
    Ada kata "harus" setelah kata "maka", karena memang sulit butuh perjuangan. Seperti pada kasus dimana seorang anak kecil yang ingin memiliki hewan piaraan, ingin rasanya melarang karena terkadang sulit untuk membayangkan bagaimana jika suatu ketika piaraan itu mati padahal usaha merawatnya sudah dirasa maksimal, dan kasih sayang antara sang anak dan piaraannya telah berusaha dibangun sedemikian rupa.
    Ini kisah adek saya sih huhu saya liat kelincinya mati ga tega adek saya nangis kehilangannya luar biasa. 

    Siap melihatnya mekar maka harus siap melihatnya gugur. Siap melihat cerahnya maka harus siap melihat keringnya.
    Namun untuk beberapa kasus, gugurnya helaian ini tidak menerbitkan kepedihan. Gugurnya bisa jadi merupakan puncak keindahan. Lagerstoemia speciosa ini kalau gugur kayak sakura wkwk padahal belum pernah liat aslinya jadi ya doakan ya pembaca, indah dan amat mendamaikan hati.

    pict by Fahrur Reza temen SMA* saya skillfull memang

    Gugurnya bisa jadi merupakan puncak keindahan. Gugurnya para syuhada di medan perang merupakan perwujudan kasih sayang tiada tara dari Sang Pemilik Tempat Kembali Paling Indah. Gugurnya para syuhada di medan perang merupakan pemenuhan atas janji perjuangan paling mulia.
    Siap melihatnya mekar maka harus siap melihatnya gugur. Namun di sini, gugurnya adalah mekar yang lebih paripurna dari apapun.

    Di setiap langkah, perlu disadari bahwa ada persiapan atas kehilangan yang perlu dilakukan. Bisa kehilangan apapun atau bahkan siapapun.
    Apapun ini tentu mencakup keluarga, kawan terdekat, harta, lainnya. Apakah kita siap kehilangan?
    Apapun ini tentu mencakup waktu dan kesempatan yang Allah Subhanahuwata'ala karuniakan bagi kita untuk menebar manfaat di muka bumi. Bagaimana jika kita kehilangan diri kita dalam semenit setelah ini?



    Sebetulnya,
    mau dibilang kehilangan itu gimana ya. Padahal kepemilikan ini sedari awal tidak ada, hanya dipinjamkan.




    *SMA = Sebuah Madrasah Aliyah
    Continue Reading

    bismillaahirrahmaanirrahiim.

    Terdengar nada tersambung!

    “Halo, bisa bicara dengan hati?”
    “...”
    “Halo, maaf mengganggu. Bisakah aku bicara dengan hati?”
    “...”
    “Kenapa, hati? Kenapa enggan bicara padaku?”


    Mungkin hati memang tidak terdengar bicara. Tapi jauh di dalamnya ada banyak tanya pada sang penanya, “Kemana selama ini? Sebelum ini diajak berdialog tak pernah ada respon. Sebelum ini hendak dibantu tapi abai. Sebelum ini, kupikir ia tak mengenalku sama sekali.”
    Yang dirasa hanya bingung dan hampa. Yang terucap bukan “Dasar gatau diri emang, dateng pas ngerasa butuh doang” dan bukan pula kalimat-kalimat sinis lainnya. Yang dirasa bukan marah dan bukan pula emosi tak jelas.

    Sang penanya tertegun, tidak menutup telepon karena khawatir tidak ada kesempatan selanjutnya untuk terhubung. Walau tak ada jawaban, ia tetap menunggu sembari memilin kabel telepon. Sesekali menggigit bibir bawah, sembari berusaha menemukan jawaban mengapa yang dikontak enggan bicara.

    Seketika. Ada kelebat-kelebat dialog dan episode yang sepertinya luput dari pandangannya selama ini. Kelebat ini keluar dari lima persen –bahkan tidak sampai- sudut pandangan mata yang ia gunakan sebelumnya. Sekian menit berselang, telepon belum ditutup oleh yang di seberang, namun tanya belum kunjung terjawab.

    Alih-alih kesal, sang penanya menangis.
    Dalam, penuh sesal.

    Bukan kesal tak digubris tanyanya, namun sesal tak menggubris di masa lalunya.
    Kelebat itu bermunculan. Tampak di sana hati selalu berusaha menyapa sembari bertanya padanya  di setiap gundah, sakit, dan sedih. Tampak di sana hati berbicara sembari bertanya kala ia tertawa terlalu keras. Tampak di sana hati kehausan, kelaparan, sekarat namun selalu berusaha mengajaknya berdialog, bertanya,
    “Hai. Apakah kamu tidak apa-apa? Apakah kamu baik-baik saja? Bagaimana obat dan suplemenmu, sudah dibaca? Mahadoktermu sudah memberi resep kuat. Oiya, kalau kamu menderita segala sakit pun ada resepnya, lho! Jangan bingung, nanti aku ikut bingung. Jangan sedih, kamu tidak sendiri.”

    “ Heiheihei. Apakah tak apa tertawa kelewatan begitu? Rasanya bahagia pada kadarnya sudah nikmat kok. Tawa itu tidak harus terbit dari hura-hura seperti ini. Hati-hati, nanti engsel mulutmu kram. Sepertinya kita harus sering-sering mohon ampun, dikomat-kamitkan agar kamu ingat terus ya.”

    “Umm.. Halo? Sadarkah kamu bahwa aku ada? Aku tak apa haus begini, tapi nanti kalau serak, kamu (semakin) tak bisa dengar aku bicara. Aku tak apa lapar begini, tapi kalau aku pingsan, aku tak bisa dengar jawabmu atas tanyaku...”


    Dialog terakhir diuntai dalam bisik. Saking sisa-sisa tenaga tak mampu menopang suara sang hati.
    Sang penanya masih menangis, kali ini sesenggukannya terdengar menggema di dalam bilik telepon. Air matanya mengaliri kabel, untung menetes duluan ke lantai sebelum merusak rangkaian dalam badan teleponnya.

    Ia amat yakin hati masih mendengarnya. Namun ia tak kuasa bertanya kembali karena rasanya betapa kurang ajar ia datang di saat seperti ini, lamaa sekali setelah bisik sekarat sang hati yang masih seputar “Apakah kamu baik-baik saja?” dikalahkan oleh dentum jarum yang jatuh.

    Ya. Hati masih mendengarnya. Walau penuh tanya, bingung dan hampa, dalam pejamannya ia masih berusaha merasakan gemericik air mata sang penanya. Mula tak terasa, semakin lama semakin menyejukkan. Ada damai yang mulai menyelimuti kebekuan selama ini. Bahagia, rupanya Mahadokter masih memberinya kesempatan –ia dan sang penanya- walaupun entah barangkali tidak sampai 24 jam?

    Ya. Hati masih mendengarnya. Hati selalu menantikan dering telepon itu walaupun tak tau bagaimana bisa ia meresponnya.

    Ya. Hati masih mendengarnya. Dalam senggukan sang penanya, senyumnya sedikit demi sedikit bisa rekah. Ada secercah tenaga yang didapat. Kaku senyum ini seketika luntur ketika gumaman itu terbisik putus-putus dalam hela napas penuh guncangan dan air mata.

    “Astaghfirullaahal’adziim..”
    Continue Reading



    bismillahirrahmanirrahim

    Saya sepenuhnya menyadari jika saya berkata begini begitu kepada seseorang, maka suatu ketika omongan saya akan berbalik menjadi sebuah ujaran untuk saya sendiri.
    Saya sepenuhnya menyadari jika saya mengutarakan apa yang ada di kepala saya, maka ada kalanya akan tampak bahwa “ni anak ego amat dah”.
    Tapi untuk beberapa hal, saya akan lebih menyesal jika tidak mengucapkannya.
    Terutama dengan kondisi, setelah saya bicara saya tau ia akan berbicara balik.
    Barangkali kala itu memang saya berbicara supaya saya diingatkan juga?
    Saya selalu butuh diingatkan.

     ---
      
    Pernah becermin kemudian melihat bayangan diri seketika bergidik ngeri?
    Saya pernah, sering malah. Rasanya seperti melihat hantu walaupun saya belum pernah betulan melihat hantu yang itu (?), ya yang suka ada di film-film horor.  
    Rasanya aneh saja, bayangan itu bisa membaca, menerjemahkan, dan mengikuti apa yang berlalu di sinaps otak saya tanpa ada selisih waktu sedetikpun. Dengan kata lain, sebegitu bersamaannya dengan gerak saya.
    Yaiyalah, itukan bayangan saya -_-


     Cermin tidak harus selalu berbentuk benda yang dipoles dari pasir kuarsa. Namun ia ada, dekat sekali bahkan di tengah hutan sekalipun diri ini tidak membawa benda bernama cermin.


    Alam menjadi cermin diri ini. Bahkan ia bisa menjadi pengingat yang hebat, jika kita mampu membaca pesan tersembunyi dari riak air dan goyangan rumput. Tasbih tahmid dzikir alam tiada duanya. Diamnya adalah ibadah, amat tepat jika becermin padanya. 
    Kalau ada yang mengatakan jalan-jalan adalah sebuah bentuk refreshment, ya benar adanya. Terutama jika dari balik dedaunan tepian jalan itu kita temukan hikmah. Terutama jika dari balik bebatuan berpasir yang dijejak ada peringatan bahwa setiap langkah kita selalu ada pertanggungjawabannya.
    Namanya, tadabbur alam, ya?

      
    Keluarga menjadi cermin diri ini. Berhubung secara umum seorang anak dibesarkan di tengah keluarga (pasti ada kasus dimana ini tidak terjadi ‘kan ya), maka keluarga menjadi faktor besar pembentukan sebuah karakter diri sampai pola pikir. 
    Ohiya, yang namanya cermin berarti tidak selalu yang tampak akan hanya bayang yang becermin ya. Spion menampakkan apa yang sudah/akan kita lewati, cermin cembung menampakkan begini, cekung begitu, dan seterusnya.
    Kembali ke keluarga, akan ada poin yang menjadi bagian bagaimana kita memposisikan sudut pandang kita ke luar. Hm? Yagitu we pokonya.


    Kawan menjadi cermin diri ini. Jika ingin mengenal seseorang, maka tengoklah kawannya, katanya. Jika berteman dengan seorang penjual parfum, maka kita mendapatkan pula wanginya atau bisa membeli darinya. Entah nantinya turut baik, atau minimal mendapatkan kebaikan darinya. 
    Berlaku timbal balik, kita menjadi cermin mereka dan mereka menjadi cermin kita. Siapa penjual parfumnya? Hendaklah masing-masing memposisikan diri. Ya asal tidak menjadi seorang pandai besi ya. (selengkapnya di HR Bukhari 5534 dan Muslim 2628)


    Rekan menjadi cermin diri ini. Dalam menjalankan sebuah tugas, suatu kerja, ada beberapa penyesuaian yang harus dilakukan agar tujuan tercapai tepat pada waktunya dengan prosedur sebaik-baiknya. Bentuk cermin ini berlaku ketika melihat bagaimana rekan merespon atas apa yang kita lakukan. Itulah mengapa berhati-hati dalam mengomentari amat diperlukan adanya, karena bisa jadi hal tersebut merupakan penyesuaian yang dilakukan terhadap kita. Amat sangat bisa, bagaimana kita merespon rekan menjadi referensi rekan merespon kita.

    ---
      
    Mengapa bergidik ngeri ketika melihat bayang sendiri?

    Bayangan ini bisa bergerak. Si empunya sedang hidup di bumi, sudah mau mati, sudah melakukan apa?



    Berharap bisa menghasilkan bayangan yang baik.



    Sebetulnya cara saya nulis masih belibet ngga sih hehe bertanya-tanya  
    Continue Reading
    bismillaahirrahmaanirrahim.



    Hari ini mengobrol cantik dengan Mpit. Entah kenapa ada ketegangan otot wajah yang kian rileks sedikit demi sedikit seiring dengan terbitnya senyum satu-satu. Cerita seorang Siti Dwi Fitriyanti selalu menarik untuk didengar.

    Ceritanya hari ini saya ada tanggungan draf sebuah tugas (akhir?) yang dikumpulkan pukul 11. Progress sedari kemarin sudah baik, hanya saja sepertinya memang butuh waktu lebih untuk mengerjakan ini.
    Walhasil, saya ga kelas dong jam 9 hehehe.

    Setiap hari Rabu saya dan Mpit memang memiliki jadwal bertemu walaupun jamnya random banget. Minggu lalu jam 8, minggu ini Mpit jam segitu ada kelas. Berhubung saya ga masuk kelas, jadilah Mpit nyamperin beres kelasnya dia, nonton detik-detik saya beresin itu draf.

    Selama saya ngetik, Mpit mengiringi dengan cerita. Tentang kisah sang keluarga yang maasyaAllah- skenario Allah untuk menyentuh hati hamba-Nya sedemikian indah walaupun kemasannya tampak sederhana.

    Seketika, seperti yang biasa terjadi akhir-akhir ini, ada reka ulang dari hal-hal yang terjadi hanya saja lebih dalam pada setiap detiknya.

    Apa pesan yang Allah berusaha sampaikan padaku? Pada kami? Ketika yang sudah terjadi adalah yang terjadi?

    Kalau di tahun 2016 Allah tidak masukkanku ke grup itu, aku belum tentu akan mendengar permintaan tolong dari sang adik, belum tentu akan tergerak ke Jatinangor, belum tentu akan bertemu dengan sang kawan, belum tentu akan diminta keluangan waktunya untuk membahas kehidupan yang lalu-kini-nanti. Bahasan yang penuh tanggungan tanggung jawab. Kenapa Allah menyusun skenario seperti itu?

    Mungkin memang Allah ingin aku memiliki andil di dalamnya.

    Sebagaimana cerita-cerita Mpit, dimana tapak demi tapak perjalanan-(baik)-nya merupakan sebuah proses dijebloskan oleh orang sekitar, oleh semesta. Padahal niatku gini aja lho, Shaf. Tapi Allah entah kenapa terasa memaksaku untuk mendalami lebih, mengetahui lebih, bertindak lebih.
    Sungguh, keterpaksaan semacam itu sedemikian indahnya.
    Ya, tata skenario Allah selalu terbaik.

    Mengulang dan mengingat kembali alur waktu, membaca kembali tulisan lama, membawa diri ke titik awal memulai sesuatu somehow sepenting itu bagi saya dan mungkin bagi sebagian orang lainnya. Memunculkan tanya, apa yang Allah inginkan dari alur ini? Apakah aku sudah menjadi aktris terbaik dalam naskah-Nya?

    Apakah kita sudah menjalankan peran dengan sebaik-baiknya?

    Abdullah bin ‘Abbas –radhiyallahu ‘anhuma– menceritakan, suatu hari saya berada di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
    Beliau bersabda, “Nak, aku ajarkan kepadamu beberapa untai kalimat:
    Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kau dapati Dia di hadapanmu. 
    Jika engkau hendak meminta, mintalah kepada Allah, dan jika engkau hendak memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah.

    Ketahuilah, seandainya seluruh umat bersatu untuk memberimu suatu keuntungan, maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan andaipun mereka bersatu untuk melakukan sesuatu yang membahayakanmu, maka hal itu tidak akan membahayakanmu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk dirimu.

    Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.”
    (HR. Tirmidzi no. 2516)

    Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.

    Apakah jika tadi aku masuk kelas, aku akan bertemu dengan Mpit, mendapatkan cerita berhikmah, dan tergerak untuk menulis kembali?
    Eh bukan pembenaran akan tidak masuk kelasnya ya ini kook hehe :(

    Trs teks ini awalnya pake saya lama-lama pake aku hm.
    Continue Reading

    bismillaahirrahmaanirrahiim


    Ada masa yang amat patut kau khawatirkan. Namanya masa dimana kau menangis. Masa itu meliputi diterimanya sebuah stimulus, dilanjutkan dengan transmisi melalui sinaps lalu dibaca dan diterjemahkan, selanjutnya efektor bekerja. Efektor ini menstimulasi kelenjar air mata. Kemudian kau menangislah.

    Sebenarnya timbul penasaran, yang membaca stimulus itu apakah hanya otak dan sumsum tulang belakang?
    Letak perasaan itu, dimana. Letak hati yang itu, iya ‘hati’, itu dimana. Apakah mereka turut membaca stimulus yang ada. Kalau tidak, yang menentukan parameter suatu hal itu menyakitkan, menusuk, dan sejenisnya itu hebat sekali. Bahagia sempat dijelaskan di perkuliahan, di sekolah, ada karena endorfin. Apakah rasa menusuk, terbeban, itu karena kekurangan endorfin? Atau ada hormon lain yang antagonis terhadapnya?
    Seakan bukan mahasiswi biologi yang bicara. Anggap saja saya mainnya sama tumbuhan dulu. Mata kuliah neuro biar menjadi bagian rekan lain saja. Kalau ternyata udah dijelaskan Bu Etty atau Bu/Pak Dosen saya mohon maklum.

    Kembali ke masa dimana kau menangis. Khawatirkan ketika ia mulai lebur ditelan masa.

    Maka dari itu saya amat berterimakasih pada kamu kamu kamu dan kamu semua yang amat rajin mengingatkan seorang yang pelupa ini, pentingnya masa dimana saya menangis. Atau bisa dibilang amat rajin menyadarkan kalau saya bersalah. Atau bisa dibilang amat rajin menarik saya ke dalam realita bahwa betapa banyak perbaikan yang mesti saya lakukan, “Shaf kok gini sih?”

    Hubungannya sama stimulus-stimulus tadi apa ya? Kalau saya menangis maka alhamdulillah, tidak mati rasa dan semua perangkat dari mulai reseptor hingga efektor pun masih berjalan. Walaupun tidak jarang efektor tadi memicu tangisan tanpa air mata. Em, saya anggap ini masih normal secara psikis maupun fisiologis.

    Sebentar. Lanjut nanti, ngantuk saya  hehe.

    Kembali ke masa dimana kau menangis. Khawatirkan ketika ia mulai lebur ditelan masa.

    Tidak bicara sempit bahwa tangis adalah keluarnya air mata, namun ada yang mendalam di dalamnya. Dalam tangis ada sebuah rasa ketidakberdayaan dan akhirnya menghamba pada-Nya adalah satu-satunya opsi yang bisa ditempuh. Memohon pertolongan dengan penuh kesadaran bahwa tiada daya dan upaya selain milik-Nya.
    Dan bukankah Allah suka itu?

    Maka apabila nanti ketika kamu bicara kemudian aku menangis, mungkin itu adalah satu hal yang patut disyukuri. Kekhawatiran akan hilangnya masa dimana aku menangis bisa disingkirkan sementara waktu. Maka jangan khawatir jika ditemukan ada tangis di sini ya wkwk ya kalo justru ga kepikir khawatir sedikitpun pada mulanya ya bagusla (mikir ‘ini anak kok geer banget’ gapapa geng) dan jangan juga merasa bersalah padahal keadaaannya yang ada ya kurangnya diri ini.

    Katanya menangis karena Allah itu melembutkan hati.
    Kembali ke masa dimana kau menangis. Khawatirkan ketika ia mulai lebur ditelan masa.
    Continue Reading

    bismillaahirrahmaanirrahiim

    Mumpung masih banyak waktu luang, ‘banyak waktu luang’, belajar sebanyak-banyaknya, berusahalah habiskan walaupun sampai akhir pun tak akan habis ilmu tentangnya. Hingga pada masanya kamu (harus) siap, setidaknya nanti Sang Anak-(Anak) (hehe) akan mendapati bahwa Sang Ibu telah lama berjuang untuknya bahkan sebelum terjadinya persatuan dua kehidupan.

    Rasanya gerak para perempuan masa-masa kini –sungguh yang saya lihat di hadapan mata saya—saat ini adalah memang sebuah usaha membangun peradaban selanjutnya yang sebaik-baiknya. Selangit amat ngomongnya ya ampe peradaban. Tapi apa salahnya kekuatan sebuah kata yang dilambungkan menjadi sebuah doa untuk akhirnya ada dalam realita?

    Rasanya gerak untuk mempersiapkan sebuah generasi adalah lebih ... (isilah titik-titik berikut) (belum menemukan kata yang tepat) dibandingkan berhenti dan terbatasi dalam frasa ‘mempersiapkan pernikahan’. Bukan dengan maksud merendahkan salah satunya karena tidak ada yang lebih tidak penting. Tapi mencurahkan perhatian lebih terhadap hal yang dianggap lebih besar rasanya amat logis. Iya tidak ya?

    Rasanya jika memikirkan bahwa masa depan digenggam oleh anak(-anak)mu kelak, dibandingkan dengan ketika memikirkan bahwa hidupmu akan disatukan dengan hidup seseorang beserta dunianya kemudian apa selanjutnya; perhatian akan tercurah pada bagaimana mempersiapkan diri menjadi Ibu yang baik.
    Yak sebetulnya tidak bisa dan memang tidak bermaksud membandingkan karena untuk menapaki skala peradaban tersebut ada skala dua kehidupan yang harus dijejak juga.

    Rasanya walaupun tidak melogikakan alokasi perhatian untuk skala yang lebih besar (antara hidupnya generasi-generasi selanjutnya, dengan persatuan dua kehidupan), perasaan yang membuahkan gerakmu akan lebih abadi ketika kau ingat anak(-anak)mu kelak. Walaupun entah apa yang akan mereka lakukan.
    Berhubung perempuan dan laki-laki memang diciptakan berbeda, maka tadi diangkat sudut logika dan perasaan.

    Rasanya jika memang perasa-nya perempuan lebih dominan, ia akan membawamu ke langkah yang lebih besar ketika dimaksudkan untuk anak(-anak)mu. Dan ternyata ketika dimasukkan ke dalam logika, langkah yang besar itu untuk anak(-anak)mu juga. Harap maklum ini masih sekilas perasaan dan pandangan saya yang masih kurang main dan ya emang belum nikah jg wkw ya yang udah kebayang aja tanggungan ini amat (lebih?) besar.

    Jadi sebetulnya inti dari semua bahasa yang belibet dan muter-muter ini adalah jangan terbatasi di mempersiapkan pernikahan aja si, tapi mempersiapkan sebuah peradaban. Hidupmu bersamanya lebih singkat dibanding kalkulasi hidup anak(-anak)mu ditambah cucu-cucumu, cicit-cicitmu, dan seterusnya belum ditambah pasangan ama keluarga anak cucu cicit itu pula.

    Jadi sebetulnya inti dari semua ini adalah jangan terbatasi di mempersiapkan pernikahan aja si, tapi ya kurang rame aja kalo isi postingannya cuma “persiapkan dirimu untuk peradaban karena kalau persiapkan diri buat nikah aja mah ya sesingkat dan masih sesempit itu”. Walaupun yakin kok masih sangat banyak yang sudah memasukkan skala peradaban dalam frasa mempersiapkan pernikahan. Tapi yang senang aja dengan yang dikatakan dengan gamblang, lebih kena.

    Kata peradaban akan selalu menjadi terlalu jauh dan abstrak kalau tak belajar.
    Bertanya-tanya aja Sekolah Pra Nikah di Salman udah ada yakan Veb promosi-promosi kamu dapet awareness dari aku nih selamat ya. Tapi Sekolah (Calon) Ibu belum ada wait dah nanti saya garap.
    Tanpa sadar di awal paragraf-paragraf teks ini saya pakai kata "rasanya". Kalau itu terhitung perasa, alhamdulillah ya berarti saya benar perempuan.
    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    About me

    Photo Profile
    fathya
    << biology-art >>

    bit.ly/shaffabutuhdiingatkan

    Read More

    Follow

    • G+
    • tumblr
    • facebook
    • twitter
    • pinterest
    • instagram

    Labels

    #olimpiadetaqwa abiotik alampikir bandung biotik Indonesia kawan keluarga lingkaran masyarakat pakulahan serpong subang tugas tki

    recent posts

    Blog Archive

    • Mei 2020 (1)
    • Oktober 2019 (2)
    • September 2019 (1)
    • Mei 2019 (2)
    • Maret 2019 (3)
    • Februari 2019 (1)
    • Januari 2019 (5)
    • Desember 2018 (1)
    • November 2018 (1)
    • Oktober 2018 (1)
    • September 2018 (2)
    • Agustus 2018 (2)
    • Juni 2018 (8)
    • Mei 2018 (7)
    • April 2018 (3)
    • Januari 2018 (9)
    • September 2017 (3)
    • Agustus 2017 (2)
    • Juni 2017 (1)
    • Februari 2017 (1)
    • April 2016 (3)
    • Maret 2016 (1)
    • November 2014 (2)
    • Oktober 2014 (7)
    • Juli 2014 (2)
    • Juni 2014 (2)

    Cari Blog Ini

    facebook Twitter instagram google plus tumblr

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top