Pages

  • Home
  • About
tumblr linkedin

things.

    • Home
    • Gallery
    • About

    bismillaahirrahmaanirrahiim.

    Terdengar nada tersambung!

    “Halo, bisa bicara dengan hati?”
    “...”
    “Halo, maaf mengganggu. Bisakah aku bicara dengan hati?”
    “...”
    “Kenapa, hati? Kenapa enggan bicara padaku?”


    Mungkin hati memang tidak terdengar bicara. Tapi jauh di dalamnya ada banyak tanya pada sang penanya, “Kemana selama ini? Sebelum ini diajak berdialog tak pernah ada respon. Sebelum ini hendak dibantu tapi abai. Sebelum ini, kupikir ia tak mengenalku sama sekali.”
    Yang dirasa hanya bingung dan hampa. Yang terucap bukan “Dasar gatau diri emang, dateng pas ngerasa butuh doang” dan bukan pula kalimat-kalimat sinis lainnya. Yang dirasa bukan marah dan bukan pula emosi tak jelas.

    Sang penanya tertegun, tidak menutup telepon karena khawatir tidak ada kesempatan selanjutnya untuk terhubung. Walau tak ada jawaban, ia tetap menunggu sembari memilin kabel telepon. Sesekali menggigit bibir bawah, sembari berusaha menemukan jawaban mengapa yang dikontak enggan bicara.

    Seketika. Ada kelebat-kelebat dialog dan episode yang sepertinya luput dari pandangannya selama ini. Kelebat ini keluar dari lima persen –bahkan tidak sampai- sudut pandangan mata yang ia gunakan sebelumnya. Sekian menit berselang, telepon belum ditutup oleh yang di seberang, namun tanya belum kunjung terjawab.

    Alih-alih kesal, sang penanya menangis.
    Dalam, penuh sesal.

    Bukan kesal tak digubris tanyanya, namun sesal tak menggubris di masa lalunya.
    Kelebat itu bermunculan. Tampak di sana hati selalu berusaha menyapa sembari bertanya padanya  di setiap gundah, sakit, dan sedih. Tampak di sana hati berbicara sembari bertanya kala ia tertawa terlalu keras. Tampak di sana hati kehausan, kelaparan, sekarat namun selalu berusaha mengajaknya berdialog, bertanya,
    “Hai. Apakah kamu tidak apa-apa? Apakah kamu baik-baik saja? Bagaimana obat dan suplemenmu, sudah dibaca? Mahadoktermu sudah memberi resep kuat. Oiya, kalau kamu menderita segala sakit pun ada resepnya, lho! Jangan bingung, nanti aku ikut bingung. Jangan sedih, kamu tidak sendiri.”

    “ Heiheihei. Apakah tak apa tertawa kelewatan begitu? Rasanya bahagia pada kadarnya sudah nikmat kok. Tawa itu tidak harus terbit dari hura-hura seperti ini. Hati-hati, nanti engsel mulutmu kram. Sepertinya kita harus sering-sering mohon ampun, dikomat-kamitkan agar kamu ingat terus ya.”

    “Umm.. Halo? Sadarkah kamu bahwa aku ada? Aku tak apa haus begini, tapi nanti kalau serak, kamu (semakin) tak bisa dengar aku bicara. Aku tak apa lapar begini, tapi kalau aku pingsan, aku tak bisa dengar jawabmu atas tanyaku...”


    Dialog terakhir diuntai dalam bisik. Saking sisa-sisa tenaga tak mampu menopang suara sang hati.
    Sang penanya masih menangis, kali ini sesenggukannya terdengar menggema di dalam bilik telepon. Air matanya mengaliri kabel, untung menetes duluan ke lantai sebelum merusak rangkaian dalam badan teleponnya.

    Ia amat yakin hati masih mendengarnya. Namun ia tak kuasa bertanya kembali karena rasanya betapa kurang ajar ia datang di saat seperti ini, lamaa sekali setelah bisik sekarat sang hati yang masih seputar “Apakah kamu baik-baik saja?” dikalahkan oleh dentum jarum yang jatuh.

    Ya. Hati masih mendengarnya. Walau penuh tanya, bingung dan hampa, dalam pejamannya ia masih berusaha merasakan gemericik air mata sang penanya. Mula tak terasa, semakin lama semakin menyejukkan. Ada damai yang mulai menyelimuti kebekuan selama ini. Bahagia, rupanya Mahadokter masih memberinya kesempatan –ia dan sang penanya- walaupun entah barangkali tidak sampai 24 jam?

    Ya. Hati masih mendengarnya. Hati selalu menantikan dering telepon itu walaupun tak tau bagaimana bisa ia meresponnya.

    Ya. Hati masih mendengarnya. Dalam senggukan sang penanya, senyumnya sedikit demi sedikit bisa rekah. Ada secercah tenaga yang didapat. Kaku senyum ini seketika luntur ketika gumaman itu terbisik putus-putus dalam hela napas penuh guncangan dan air mata.

    “Astaghfirullaahal’adziim..”
    Continue Reading



    bismillahirrahmanirrahim

    Saya sepenuhnya menyadari jika saya berkata begini begitu kepada seseorang, maka suatu ketika omongan saya akan berbalik menjadi sebuah ujaran untuk saya sendiri.
    Saya sepenuhnya menyadari jika saya mengutarakan apa yang ada di kepala saya, maka ada kalanya akan tampak bahwa “ni anak ego amat dah”.
    Tapi untuk beberapa hal, saya akan lebih menyesal jika tidak mengucapkannya.
    Terutama dengan kondisi, setelah saya bicara saya tau ia akan berbicara balik.
    Barangkali kala itu memang saya berbicara supaya saya diingatkan juga?
    Saya selalu butuh diingatkan.

     ---
      
    Pernah becermin kemudian melihat bayangan diri seketika bergidik ngeri?
    Saya pernah, sering malah. Rasanya seperti melihat hantu walaupun saya belum pernah betulan melihat hantu yang itu (?), ya yang suka ada di film-film horor.  
    Rasanya aneh saja, bayangan itu bisa membaca, menerjemahkan, dan mengikuti apa yang berlalu di sinaps otak saya tanpa ada selisih waktu sedetikpun. Dengan kata lain, sebegitu bersamaannya dengan gerak saya.
    Yaiyalah, itukan bayangan saya -_-


     Cermin tidak harus selalu berbentuk benda yang dipoles dari pasir kuarsa. Namun ia ada, dekat sekali bahkan di tengah hutan sekalipun diri ini tidak membawa benda bernama cermin.


    Alam menjadi cermin diri ini. Bahkan ia bisa menjadi pengingat yang hebat, jika kita mampu membaca pesan tersembunyi dari riak air dan goyangan rumput. Tasbih tahmid dzikir alam tiada duanya. Diamnya adalah ibadah, amat tepat jika becermin padanya. 
    Kalau ada yang mengatakan jalan-jalan adalah sebuah bentuk refreshment, ya benar adanya. Terutama jika dari balik dedaunan tepian jalan itu kita temukan hikmah. Terutama jika dari balik bebatuan berpasir yang dijejak ada peringatan bahwa setiap langkah kita selalu ada pertanggungjawabannya.
    Namanya, tadabbur alam, ya?

      
    Keluarga menjadi cermin diri ini. Berhubung secara umum seorang anak dibesarkan di tengah keluarga (pasti ada kasus dimana ini tidak terjadi ‘kan ya), maka keluarga menjadi faktor besar pembentukan sebuah karakter diri sampai pola pikir. 
    Ohiya, yang namanya cermin berarti tidak selalu yang tampak akan hanya bayang yang becermin ya. Spion menampakkan apa yang sudah/akan kita lewati, cermin cembung menampakkan begini, cekung begitu, dan seterusnya.
    Kembali ke keluarga, akan ada poin yang menjadi bagian bagaimana kita memposisikan sudut pandang kita ke luar. Hm? Yagitu we pokonya.


    Kawan menjadi cermin diri ini. Jika ingin mengenal seseorang, maka tengoklah kawannya, katanya. Jika berteman dengan seorang penjual parfum, maka kita mendapatkan pula wanginya atau bisa membeli darinya. Entah nantinya turut baik, atau minimal mendapatkan kebaikan darinya. 
    Berlaku timbal balik, kita menjadi cermin mereka dan mereka menjadi cermin kita. Siapa penjual parfumnya? Hendaklah masing-masing memposisikan diri. Ya asal tidak menjadi seorang pandai besi ya. (selengkapnya di HR Bukhari 5534 dan Muslim 2628)


    Rekan menjadi cermin diri ini. Dalam menjalankan sebuah tugas, suatu kerja, ada beberapa penyesuaian yang harus dilakukan agar tujuan tercapai tepat pada waktunya dengan prosedur sebaik-baiknya. Bentuk cermin ini berlaku ketika melihat bagaimana rekan merespon atas apa yang kita lakukan. Itulah mengapa berhati-hati dalam mengomentari amat diperlukan adanya, karena bisa jadi hal tersebut merupakan penyesuaian yang dilakukan terhadap kita. Amat sangat bisa, bagaimana kita merespon rekan menjadi referensi rekan merespon kita.

    ---
      
    Mengapa bergidik ngeri ketika melihat bayang sendiri?

    Bayangan ini bisa bergerak. Si empunya sedang hidup di bumi, sudah mau mati, sudah melakukan apa?



    Berharap bisa menghasilkan bayangan yang baik.



    Sebetulnya cara saya nulis masih belibet ngga sih hehe bertanya-tanya  
    Continue Reading
    bismillaahirrahmaanirrahim.



    Hari ini mengobrol cantik dengan Mpit. Entah kenapa ada ketegangan otot wajah yang kian rileks sedikit demi sedikit seiring dengan terbitnya senyum satu-satu. Cerita seorang Siti Dwi Fitriyanti selalu menarik untuk didengar.

    Ceritanya hari ini saya ada tanggungan draf sebuah tugas (akhir?) yang dikumpulkan pukul 11. Progress sedari kemarin sudah baik, hanya saja sepertinya memang butuh waktu lebih untuk mengerjakan ini.
    Walhasil, saya ga kelas dong jam 9 hehehe.

    Setiap hari Rabu saya dan Mpit memang memiliki jadwal bertemu walaupun jamnya random banget. Minggu lalu jam 8, minggu ini Mpit jam segitu ada kelas. Berhubung saya ga masuk kelas, jadilah Mpit nyamperin beres kelasnya dia, nonton detik-detik saya beresin itu draf.

    Selama saya ngetik, Mpit mengiringi dengan cerita. Tentang kisah sang keluarga yang maasyaAllah- skenario Allah untuk menyentuh hati hamba-Nya sedemikian indah walaupun kemasannya tampak sederhana.

    Seketika, seperti yang biasa terjadi akhir-akhir ini, ada reka ulang dari hal-hal yang terjadi hanya saja lebih dalam pada setiap detiknya.

    Apa pesan yang Allah berusaha sampaikan padaku? Pada kami? Ketika yang sudah terjadi adalah yang terjadi?

    Kalau di tahun 2016 Allah tidak masukkanku ke grup itu, aku belum tentu akan mendengar permintaan tolong dari sang adik, belum tentu akan tergerak ke Jatinangor, belum tentu akan bertemu dengan sang kawan, belum tentu akan diminta keluangan waktunya untuk membahas kehidupan yang lalu-kini-nanti. Bahasan yang penuh tanggungan tanggung jawab. Kenapa Allah menyusun skenario seperti itu?

    Mungkin memang Allah ingin aku memiliki andil di dalamnya.

    Sebagaimana cerita-cerita Mpit, dimana tapak demi tapak perjalanan-(baik)-nya merupakan sebuah proses dijebloskan oleh orang sekitar, oleh semesta. Padahal niatku gini aja lho, Shaf. Tapi Allah entah kenapa terasa memaksaku untuk mendalami lebih, mengetahui lebih, bertindak lebih.
    Sungguh, keterpaksaan semacam itu sedemikian indahnya.
    Ya, tata skenario Allah selalu terbaik.

    Mengulang dan mengingat kembali alur waktu, membaca kembali tulisan lama, membawa diri ke titik awal memulai sesuatu somehow sepenting itu bagi saya dan mungkin bagi sebagian orang lainnya. Memunculkan tanya, apa yang Allah inginkan dari alur ini? Apakah aku sudah menjadi aktris terbaik dalam naskah-Nya?

    Apakah kita sudah menjalankan peran dengan sebaik-baiknya?

    Abdullah bin ‘Abbas –radhiyallahu ‘anhuma– menceritakan, suatu hari saya berada di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
    Beliau bersabda, “Nak, aku ajarkan kepadamu beberapa untai kalimat:
    Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kau dapati Dia di hadapanmu. 
    Jika engkau hendak meminta, mintalah kepada Allah, dan jika engkau hendak memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah.

    Ketahuilah, seandainya seluruh umat bersatu untuk memberimu suatu keuntungan, maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan andaipun mereka bersatu untuk melakukan sesuatu yang membahayakanmu, maka hal itu tidak akan membahayakanmu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk dirimu.

    Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.”
    (HR. Tirmidzi no. 2516)

    Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.

    Apakah jika tadi aku masuk kelas, aku akan bertemu dengan Mpit, mendapatkan cerita berhikmah, dan tergerak untuk menulis kembali?
    Eh bukan pembenaran akan tidak masuk kelasnya ya ini kook hehe :(

    Trs teks ini awalnya pake saya lama-lama pake aku hm.
    Continue Reading

    bismillaahirrahmaanirrahiim


    Ada masa yang amat patut kau khawatirkan. Namanya masa dimana kau menangis. Masa itu meliputi diterimanya sebuah stimulus, dilanjutkan dengan transmisi melalui sinaps lalu dibaca dan diterjemahkan, selanjutnya efektor bekerja. Efektor ini menstimulasi kelenjar air mata. Kemudian kau menangislah.

    Sebenarnya timbul penasaran, yang membaca stimulus itu apakah hanya otak dan sumsum tulang belakang?
    Letak perasaan itu, dimana. Letak hati yang itu, iya ‘hati’, itu dimana. Apakah mereka turut membaca stimulus yang ada. Kalau tidak, yang menentukan parameter suatu hal itu menyakitkan, menusuk, dan sejenisnya itu hebat sekali. Bahagia sempat dijelaskan di perkuliahan, di sekolah, ada karena endorfin. Apakah rasa menusuk, terbeban, itu karena kekurangan endorfin? Atau ada hormon lain yang antagonis terhadapnya?
    Seakan bukan mahasiswi biologi yang bicara. Anggap saja saya mainnya sama tumbuhan dulu. Mata kuliah neuro biar menjadi bagian rekan lain saja. Kalau ternyata udah dijelaskan Bu Etty atau Bu/Pak Dosen saya mohon maklum.

    Kembali ke masa dimana kau menangis. Khawatirkan ketika ia mulai lebur ditelan masa.

    Maka dari itu saya amat berterimakasih pada kamu kamu kamu dan kamu semua yang amat rajin mengingatkan seorang yang pelupa ini, pentingnya masa dimana saya menangis. Atau bisa dibilang amat rajin menyadarkan kalau saya bersalah. Atau bisa dibilang amat rajin menarik saya ke dalam realita bahwa betapa banyak perbaikan yang mesti saya lakukan, “Shaf kok gini sih?”

    Hubungannya sama stimulus-stimulus tadi apa ya? Kalau saya menangis maka alhamdulillah, tidak mati rasa dan semua perangkat dari mulai reseptor hingga efektor pun masih berjalan. Walaupun tidak jarang efektor tadi memicu tangisan tanpa air mata. Em, saya anggap ini masih normal secara psikis maupun fisiologis.

    Sebentar. Lanjut nanti, ngantuk saya  hehe.

    Kembali ke masa dimana kau menangis. Khawatirkan ketika ia mulai lebur ditelan masa.

    Tidak bicara sempit bahwa tangis adalah keluarnya air mata, namun ada yang mendalam di dalamnya. Dalam tangis ada sebuah rasa ketidakberdayaan dan akhirnya menghamba pada-Nya adalah satu-satunya opsi yang bisa ditempuh. Memohon pertolongan dengan penuh kesadaran bahwa tiada daya dan upaya selain milik-Nya.
    Dan bukankah Allah suka itu?

    Maka apabila nanti ketika kamu bicara kemudian aku menangis, mungkin itu adalah satu hal yang patut disyukuri. Kekhawatiran akan hilangnya masa dimana aku menangis bisa disingkirkan sementara waktu. Maka jangan khawatir jika ditemukan ada tangis di sini ya wkwk ya kalo justru ga kepikir khawatir sedikitpun pada mulanya ya bagusla (mikir ‘ini anak kok geer banget’ gapapa geng) dan jangan juga merasa bersalah padahal keadaaannya yang ada ya kurangnya diri ini.

    Katanya menangis karena Allah itu melembutkan hati.
    Kembali ke masa dimana kau menangis. Khawatirkan ketika ia mulai lebur ditelan masa.
    Continue Reading

    bismillaahirrahmaanirrahiim

    Mumpung masih banyak waktu luang, ‘banyak waktu luang’, belajar sebanyak-banyaknya, berusahalah habiskan walaupun sampai akhir pun tak akan habis ilmu tentangnya. Hingga pada masanya kamu (harus) siap, setidaknya nanti Sang Anak-(Anak) (hehe) akan mendapati bahwa Sang Ibu telah lama berjuang untuknya bahkan sebelum terjadinya persatuan dua kehidupan.

    Rasanya gerak para perempuan masa-masa kini –sungguh yang saya lihat di hadapan mata saya—saat ini adalah memang sebuah usaha membangun peradaban selanjutnya yang sebaik-baiknya. Selangit amat ngomongnya ya ampe peradaban. Tapi apa salahnya kekuatan sebuah kata yang dilambungkan menjadi sebuah doa untuk akhirnya ada dalam realita?

    Rasanya gerak untuk mempersiapkan sebuah generasi adalah lebih ... (isilah titik-titik berikut) (belum menemukan kata yang tepat) dibandingkan berhenti dan terbatasi dalam frasa ‘mempersiapkan pernikahan’. Bukan dengan maksud merendahkan salah satunya karena tidak ada yang lebih tidak penting. Tapi mencurahkan perhatian lebih terhadap hal yang dianggap lebih besar rasanya amat logis. Iya tidak ya?

    Rasanya jika memikirkan bahwa masa depan digenggam oleh anak(-anak)mu kelak, dibandingkan dengan ketika memikirkan bahwa hidupmu akan disatukan dengan hidup seseorang beserta dunianya kemudian apa selanjutnya; perhatian akan tercurah pada bagaimana mempersiapkan diri menjadi Ibu yang baik.
    Yak sebetulnya tidak bisa dan memang tidak bermaksud membandingkan karena untuk menapaki skala peradaban tersebut ada skala dua kehidupan yang harus dijejak juga.

    Rasanya walaupun tidak melogikakan alokasi perhatian untuk skala yang lebih besar (antara hidupnya generasi-generasi selanjutnya, dengan persatuan dua kehidupan), perasaan yang membuahkan gerakmu akan lebih abadi ketika kau ingat anak(-anak)mu kelak. Walaupun entah apa yang akan mereka lakukan.
    Berhubung perempuan dan laki-laki memang diciptakan berbeda, maka tadi diangkat sudut logika dan perasaan.

    Rasanya jika memang perasa-nya perempuan lebih dominan, ia akan membawamu ke langkah yang lebih besar ketika dimaksudkan untuk anak(-anak)mu. Dan ternyata ketika dimasukkan ke dalam logika, langkah yang besar itu untuk anak(-anak)mu juga. Harap maklum ini masih sekilas perasaan dan pandangan saya yang masih kurang main dan ya emang belum nikah jg wkw ya yang udah kebayang aja tanggungan ini amat (lebih?) besar.

    Jadi sebetulnya inti dari semua bahasa yang belibet dan muter-muter ini adalah jangan terbatasi di mempersiapkan pernikahan aja si, tapi mempersiapkan sebuah peradaban. Hidupmu bersamanya lebih singkat dibanding kalkulasi hidup anak(-anak)mu ditambah cucu-cucumu, cicit-cicitmu, dan seterusnya belum ditambah pasangan ama keluarga anak cucu cicit itu pula.

    Jadi sebetulnya inti dari semua ini adalah jangan terbatasi di mempersiapkan pernikahan aja si, tapi ya kurang rame aja kalo isi postingannya cuma “persiapkan dirimu untuk peradaban karena kalau persiapkan diri buat nikah aja mah ya sesingkat dan masih sesempit itu”. Walaupun yakin kok masih sangat banyak yang sudah memasukkan skala peradaban dalam frasa mempersiapkan pernikahan. Tapi yang senang aja dengan yang dikatakan dengan gamblang, lebih kena.

    Kata peradaban akan selalu menjadi terlalu jauh dan abstrak kalau tak belajar.
    Bertanya-tanya aja Sekolah Pra Nikah di Salman udah ada yakan Veb promosi-promosi kamu dapet awareness dari aku nih selamat ya. Tapi Sekolah (Calon) Ibu belum ada wait dah nanti saya garap.
    Tanpa sadar di awal paragraf-paragraf teks ini saya pakai kata "rasanya". Kalau itu terhitung perasa, alhamdulillah ya berarti saya benar perempuan.
    Continue Reading

    bismillaahirrahmaanirrahiim

    Hari ini yaitu kemarinnya kemarin lusa, aku kembali meniti jalan Cibiru-Ganesha. Niat mula wawancara, dilanjut bercengkrama. Namun realisasi nyata hanya ada pada hal kedua wkwk. Ya, jadinya aku batal wawancara dan lanjut maiin ke kosan Dila. Sebetulnya aku memang bilangnya ke Ummi mau main ke Dila sih wkw ya mungkin itulah jadinya.

    Kemarin aku baru chat Firza, randomly. Bilang rasanya udah lama ga ketemu anakanak IC. Terus udah deh beres thread chatnya. Gajelas ‘kan? Biasa, namanya juga Shaffa. Yang jelas Firza bingung soalnya ya wajar lama ga ketemu orang-orang, semua juga libur. That’s true.
    Kemudian hari ini bertandang ke kosan Dila yang amat langganan aku repotiin.

    Untuk apa? Nggak tau. Tidak ada rencana pasti.
    Dila ini adalah korban wacana terbanyak dari aku kalau dipikir-pikir. Dari mulai jalan-jalan kemana-mana, makan, belajar, proyek, lomba, bisnis, banyak sekali yang berujung hayu-hayu tapi belum implemented hue sedih ya. Dila ini sudah menyaksikan ragam ekspresiku, naik-turunnya, seuri-sedihnya, mendengar dan menyaksikan sekian banyaknya episode dengan ragam genre yang lebih sinetron dari sinetron manapun. Kadang mungkin ikutan terbeban (?) tapi overall Dila selalu bisa memberikan respon yang menyenangkan dan menjadi pendengar yang baik.
    Tentang kebiasaan wacana dan kurangku yang lain, dimaafin 'kan ya Dil? :")

    Dari obrolan-obrolan yang dilakukan sebetulnya aku mendapatkan banyak hal, pembelajaran dan sarana berkaca. Kenapa kok berkaca? Di dalamnya aku mendengar sendiri bagaimana aku berbicara, apa yang kusampaikan. Kemudian beberapa saat setelahnya, aku mendapat poin "Oh harusnya aku begini, harusnya aku ga begini," dan seterusnya.

    Mengunjungi teman pun mengingatkan diri bahwa "Hei lihat kawanmu sudah ada dalam keadaan lebih baik dari sebelumnyaa alhamdulillah, kamu gimana?"

    "Ada orang yang hanya dengan melihatnya, itu cukup membuatmu ingat kepada Allah, bicaranya cukup menambah amalmu dan amalnya cukup membuatmu rindu akhirat."
    - KH. Rahmat Abdullah

    (Sebetulnya aku harap) selalu ada ruang untuk mengobrol dengan kawan(, tapi kadang malah aku yang terbenam sendirian). Kadang obat migrainku adalah kumpul. Kadang. Beberapa kali berhasil dalam kasus aku diseret buat kumpulnya, terpaksa berhubung kalau pulang puyeng banget wkwk.

    Aku selalu senang mengobrol dengan banyak orang. Katanya orang ekstrovert lebih mendapatkan energi ketika bersama dengan orang lain. Jadi, terimakasih sudah mau mengobrol dengankuu wkwk. Kalau casenya lawan bicara ternyata malah kehabisan energi ketika bersama orang, terimakasih telah mau memahami diri ini lebih.

    ---

    Saya sebetulnya dari dulu ingin sekali mereview satu per satu orang yang saya temui, kenali, dan kemudian punya cerita. Namun keterbatasan selalu ada, dan ternyata ingat-lupanya manusia memang perlu adanya. Jika ingatan monoton saja, tidak ada kadar berkesan atau tidaknya, rasanya kurang asik iya ga sih?
    Ya kalo ngga juga gapapa si.


    Terimakasih, Dil, sudah selalu menjadi pengingat secara langsung maupun tidak langsung, sadar tidak sadar. Semoga sampe kamu punya anak nanti, atau mungkin di alam setelah ini, kita masih selalu bisa ngobrol ya.
    Terimakasih kepada kawan-kawan yang menjadi teman ngobrol Shaffa!
    Continue Reading

    bismillaahirrahmaanirrahiim.


    Ada banyak hal unik, dan yang mampu dituliskan hanya sebagian kecil. Ada salah satu fenomena yang diambil dari keikutsertaan saya dalam agenda-agenda angkatan 2 dan 4. Tidak disengaja, tapi ya celetukan mah ada aja.

    "Pang kenapa deh, kamu kena mulu. Padahal kamu teh ngga salah apa-apa,"

    Kena apakah?
    #1 Jadi ceritanya dua tahun lalu bulan Ramadhan, itu merupakan kali kedua kami melangsungkan agenda Metamorfosis, pesantren kilat untuk anak-anak yang membutuhkan. Waktu itu masih berlangsung forum evaluasi, saya dan Nida izin pulang duluan. Biasanya, kalau sudah di atas maghrib saya akan memilih menginap. Namun berhubung keesokan harinya ada diklat divisi mentor Integrasi ITB 2016, kami harus pulang dan menyiapkan spek dan melakukan hal lainnya.
    Qadarullah, di perjalanan pulang kami mendapat hadiah; tertimpa patahan dahan pohon di area Soekarno Hatta.

    Momen campuraduk kala itu, memberikan cerita tersendiri terkait Metamor. Kebetulan saya lupa ingatan sih apa yang terjadi setelah pertengahan forum evaluasi. Yang pasti, Ukhti Nida Salma Fauziyah saudariku satu TK, SD, SMP, dan kuliah ini adalah akhwat tangguh yang luar biasa.

    #2 Jadi ceritanya dalam pendakian kemarin, fatalnya adalah beberapa saat sebelum keberangkatan, saya malah makan di warung sop iga. Kenyang pula. Padahal, kalau mau ujian olahraga aja saya harus shaum kalo mau kuat lari 6 keliling di Saraga tanpa hambatan. Yak terjadilah apa yang disebut dengan kalikiben di perut kanan, sepanjang awal-awal keberangkatan sampe pos 1. Kalau kata Uji calon Bu Dokter, asam laktat saya meningkat pesat terutama kalau capek. Makanya kena ke lambung juga. Sakit banget, iya. Itulah mengapa bahaya buatku kalau makan kenyang-tak tau apa yang akan saya jalani setelahnya. Hatur nuhun pada pihak berwajib yang membantu membawakan carrier. Alhamdulillahnya selebihnya saya bisa bawa carrier, sembari merasa-rasa perkembangan aktivitas lambung.

    #3 Jadi ceritanya dalam pendakian kemarin juga, setelah merasakan zonasi cobaan perjalanan menuju puncak yang kentara, kami turun dari puncak. Ada banyak hal unik, ada banyak zona mengesankan di Guntur. Salah satunya ini, dari puncak 1 ke pos 3. MaasyaAllah karena treknya memang pasir kerikil batu-batuan dan cara turunnya tinggal duduk, beri sedikit dorongan, kemudian serodotan. Kalaupun berdiri, rasanya dibantu microbots kaya yang di film Big Hero 6 itu lho.
    Kemudian di masa-masa asik serodotan, kami tiba di sebuah jalan yang bercabang dua. Kami ambil kanan, entah kenapa terbawanya ke sana. Serius ini ngalir aja gitu. Saat itu posisi saya, orang depan, dan belakang sedang serodotan duduk dan kami sedang tidak bawa carrier karena kami tinggalkan di pos 3. Kemudian tiba-tiba ada suara kencang sekali.
    Duk gitu bunyinya.
    Saya kira, itu orang belakang main tendang aja ini orang di depannya. Mungkin beliau susah berhenti akhirnya sepatunya nabrak saya. Ternyata, itu adalah hasil dari pembekuan lava atau sedimentasi sisa organisme atau ya sejenisnya. Ukurannya lebar 30cman lah, panjang ama lebarnya ga beraturan.
    Batu, gelinding dari ketinggian, kena punggung bagian bawah saya wkwk.
    Saya terpaku lama tuh. Semesta mengheningkan cipta. Kemudian tindakan medis berbicara hehe.

    Walhasil, perjalanan dari pos 3 ke bawah yang tentunya defaultnya saya bawa carrier akhirnya terrekayasa. Saya cuma bawa tas kamera, nenteng matras Adit, ama botol berisi air sungai. Bawaan sesedikit itu, saya masih jadi orang terbelakang. Kesusul sana sini wkwk. Ya ada rasa sakit yang mesti mendapat bisikan terus menerus, "Semoga kamu jadi pelebur dosa ya!"


    "Pang kenapa deh, kamu kena mulu?"
    "Hah gimana?"
    "Ya kamu teh istilahnya mah kena musibah muluu. Padahal kamu teh ngga salah apa-apa,"
    "Allahuakbar wkwk,"

    Dipikir-pikir, iya sih. Tenang, ini bukan mempertanyakan apa yang Allah kehendaki. Tapi ini bisa menjadi sebentuk sarana refleksi. Apakah kode yang Allah sisipkan di dalamnya?

    "Mungkin Allah mau kamu jadi sumber pahala buat kita-kita, Sap"
    "Nanti kalau di surga ga nemu aku, tolong cari aku ya. Bilang sama Allah 'yaaAllah mana teman Shaffa yang bantuin waktu Shaffa kena musibah?',"
    "Pang, mungkin kita harus berkaca lagi. Memperbaiki amal yaumi, mungkin ini salah satu cara Allah negur kamu, negur kita.."

    Kalian tau, nikmat Allah yang amat indah salah satunya adalah teman-teman yang shalih shalihah.
    Barakallahulakum. Semoga semua prasangka baik tadi bisa kita tindaklanjuti dengan baik yaa geng.

    ---

    "Maaf ya, beban perjalanan banget aku,"
    "Lah gapapa kali, Pang. Inimah kita terlanjur satu rombongan aja jadi mau gamau harus bantu,"
    "..." Makasi lho, Lik. Sangat menenangkan.


    Continue Reading
    bismillaahirrahmaanirrahim. 

    Tulisan ini adalah tulisan seorang yang masih belajar, berusaha banyak baca, mencari pengalaman, nyari ilmu, berusaha peka. Kurang dan cacat sana-sini. Menanti koreksi, mendamba masukan. 

    Ini salah satu sisi lain perjalanan mengarungi Guntur kemarin hehe. Jadi ceritanya, sehari sebelum berangkat saya dichat oleh seorang rekan akhwat yang bertanya, tentang batasan interaksi dan ikhtilat. Di postingan yang beliau lampirkan, bunyinya hati-hati kalau ikut agenda berkedok halal bi halal, reuni, silaturahmi, nanti malah ikhtilat. Kan ketemu banyak cowo tuh di sana.

    Saya berkata "Hmmm". Sambil mencari referensi, sambil bertanya pada orang-orang yang saya percaya sebagai narasumber, saya juga mikir "Ini besok naik gunung bakal gimana yak".

    Tulisan ini adalah tulisan seorang yang masih belajar, berusaha banyak baca, mencari pengalaman, nyari ilmu, berusaha peka. 

    Muslimah gaboleh terbatas nih geraknya! Saya lebih senang membahasakan apa yang disyariatkan itu bukan untuk membatasi, namun menjaga para akhwat hehe. Kami berhasil naik gunung pakai rok, pakaian syar'i, dengan menyesuaikan medan juga tentunya. Kami juga menemukan beberapa akhwat berniqab, bergamis, mix dengan topi manset dan sarung tangan. Akhirnya, sebebas mungkin berkarya boleh banget dan syariat insyaaAllah tidak akan mengurangi kenyamanan. Mungkin memang perlu waktu untuk sedikit penyesuaian jika ini kali pertama, namun melatih ini amat menyenangkan terutama kita punya teman yang sepaham dan mendukung satu sama lain.


    Tulisan ini adalah tulisan seorang yang masih belajar, berusaha banyak baca, mencari pengalaman, nyari ilmu, berusaha peka. 

    Naik gunungnya bareng ikhwan? Mungkin ke depannya jika mampu baiknya akhawat aja, atau lebih bagus kalau sudah ada mahram hehehe.
    Tapi kali ini iya bareng. Apa satu agenda membuat kami tidak lupa penjagaan diri? Tidak juga.
    Bagaimana kita terutama para muslimah memposisikan diri dalam sebuah agenda membuat pihak lainnya akhirnya menyesuaikan diri. Lebih baik jika kau bisa ungkapkan secara langsung koreksi yang ada, syukur ketika akhirnya bisa jadi evaluasi bersama. Mungkin ada beberapa kesalahan yang luput, tidak sadar kami lakukan, namun yang penting di sini adalah husnuzhan dan tindak lanjut darinya. Nyadar salah, nyadar lupa, terus apa?

    Tulisan ini adalah tulisan seorang yang masih belajar, berusaha banyak baca, mencari pengalaman, nyari ilmu, berusaha peka. 

    Di sini juga belajar komunikasi, belajar berani.
    "Heh jangan maen tepok-tepok napa,"
    "Lu duduknya belah sono aja,"
    "Minum duduk woi, pake tangan kanan,"
    Hidup ini saling mengingatkan, dan yang mengingatkan ini sesungguhnya berujar tidak hanya pada yang lain namun juga diri sendiri.
    Siapa sih manusia yang selalu benar? Hehe.

    Tulisan ini adalah tulisan seorang yang masih belajar, berusaha banyak baca, mencari pengalaman, nyari ilmu, berusaha peka. 

    Islam tidak membenarkan adanya kesempitan bagi umatnya. Bukan sarana mengambil kesempatan, namun melatih hamba menakar mudharat dan maslahat yang didapat.
    "Gua mau bantuin, tapi takut dosa~"
    Ya pinter-pinter aja dah. Atas dasar apa dirimu berbuat, atas niat apa dirimu bertindak. Jika ada sebuah tindakan yang sama sekali tidak diinginkan namun menuntut keselamatan dalam keadaan darurat, Allah Mahatau.

    Tulisan ini adalah tulisan seorang yang masih belajar, berusaha banyak baca, mencari pengalaman, nyari ilmu, berusaha peka. 

    Alangkah baik jika dari sebuah pengembaraan, kita dapatkan hikmah! Alhamdulillah lho, mengulang cerita ini membuat munculnya kesadaran, meningkatkan kepekaan.
    Eh yang gini ini lho saatnya kita para muslimah bicara. Eh yang gini ini lho saatnya kita minta yang lain agak bergeser posisinya. Eh yang gini ini lho batas kita bercanda.
    Kepekaan itu dilatih, jangan sampai buta menghadapi realita.

    Tulisan ini adalah tulisan seorang yang masih belajar, berusaha banyak baca, mencari pengalaman, nyari ilmu, berusaha peka. 

    Ga setuju dong, kalau misal muslimah ga punya kesempatan menuai hikmah juga. Syariat yang ada menjadi pengingat diri ini punya sebuah benteng yang harus dijaga. Bahkan jika para muslimah berhasil menegakkannya, pihak di sekitar bisa membantu menopang benteng itu. Percaya atau tidak, itu fakta.

    Tulisan ini adalah tulisan seorang yang masih belajar, berusaha banyak baca, mencari pengalaman, nyari ilmu, berusaha peka. 

    Yang pasti, kalo mau bepergian jangan sendiri lah ya, Sist. Perbanyak kawan. Harus dapat izin ortu pastinya. Banyak dzikir karena wallahua'lam apa yang terjadi di luar sana.

    Tulisan ini adalah tulisan seorang yang masih belajar, berusaha banyak baca, mencari pengalaman, nyari ilmu, berusaha peka. Masih banyak kurangnya, masih butuh referensi dan sharean pengalaman juga ilmu manteman semua dan yang lebih paham. Masih sekenanya, semoga bisa menuai hikmah dari apa yang sudah dilalui. Gitu aja dulu sih.

    Jazakunnallah khairan khatsira Saudariku sekalian yang mengiringi memetik hikmah, mengingatkan lebih dari 24x3 durasi perjalanan kita. Bahkan perjalanan kita sudah lebih dari 3 tahun ya?

    Buat Sipa, Bita, Khansa, dan Uji, jangan bosen membersamai aku!
    Oiya, jawaban pertanyaan temenku sebelum keberangkatan, mungkin bisa rangkum dari Kebebasan Wanita jilid 2, Abdul Halim Abu Syuqqah. Bisa juga ada referensi lain. Belum menjanjikan akan merangkumkan semuanya dalam satu tulsan. Hehe. Wallahua'lam bisshawab.
    Continue Reading
    bismillahirrahmanirrahim.

    gambar tidak nyambung biasa

    Rasanya yang berbeda seiring bertambahnya umur. Bagaimana mengetahuinya terasa setiap tahunnya, dalam sebuah momen bernama salam-salaman kala 'Idulfitri.

    Entah mengapa, dari tahun ke tahun makna salam semakin mendalam. Apa yang bertambah, apa yang berkurang? Agak sulit mendeskripsikannya.

    Aku mengamati sedari kecil bagaimana orang-orang, termasuk diriku sendiri, bersalaman, salim dengan orang lainnya, keluarga. Kebiasaan menghabiskan waktu bersama keluarga liburan 'Idulfitri di Desa Cikujang membuat perbandingan ini cukup terasa. Setelah menunaikan shalat 'Id di Masjid Jami' al-Falah, jamaah akan membentuk barisan, mengular sampai depan rumah nenek. Bersalaman, menyatu dengan barisan ibu-ibu yang ripuh dengan anak-anak sehingga tidak bisa turut bergabung shalat jamaah, juga dengan para lansia dan perempuan yang berhalangan.

    Dahulu rasanya biasa saja, salim cuma menggiring tangan orang-orang sampai kening atau malah bagian tepian kepala. Inginnya langsung pulang saja makan ketupat dan opor, dipanggil lagi "Sini salim dulu sama orang-orang!".
    Semakin tua (huhu), mau tidak mau dan sadar tidak sadar ada kekhidmatan yang bertambah dan porsi asal-asalan yang berkurang. Lebih dari itu, entah mengapa salim bersalaman dengan sesama anggota keluarga rasanya semakin sulit. Semakin sulit memahami sebetulnya apa yang aku rasakan. Apakah perlu membuat sebuah penelitian hubungan antara bertambahnya usia seseorang dengan terhubungnya saraf sensori aktif saat bersalaman dengan terstimulasinya kelenjar air mata?

    Itulah mengapa terkadang aku memilih untuk salim singkat saja, atau memilih mengajak adik-adik sepupu sibuk sendiri. Jika tidak, tidak diragukan lagi sekali aku menangis akan sulit berhenti. Hehe.

    Semakin bertambahnya usia dan berkurangnya umur dari waktu ke waktu, salim bersalaman akan terasa semakin berarti.
    Ada perasaan lebih yang dilibatkan. Ada sebuah pengingat akan pengabdian terhadap orangtua. Ada sebuah peringatan bahwa tak selamanya tangan-tangan itu bisa aku raih untuk sebuah cium tangan.
    Tak selamanya.
    Mungkin ini yang mendasari dalamnya perasaan (bersalah) yang terlibat. Semakin tua usia, semakin diingatkan akan kesempatan yang terbatas.

    Dalam sebuah salim, cium tangan, ada sebuah penundukan atas ego diri, ada sebuah pengakuan atas lemahnya diri tanpa Abah Ummi Aki Eni Bibi Om dan orang-orang penuh jasa lainnya, ada banyak rasa bersalah dari belum berhasilnya proyek membahagiakan orangtua, ada banyak permohonan maaf atas segala kebadungan diri, ada sayang yang mengalir. Ada, sedikit maupun banyak, jika hendak memaknainya.

    Mungkin sudah waktunya aku terlalu menghindari salim cium tangan yang sesingkat-singkatnya, menepis gengsi terbitnya rintik air mata. Toh aku tau, darinya mengalir sayang yang lebih deras dari apapun, menenggelamkan jiwa nakal seorang anak Abah Ummi, menerbitkan sebuah tekad menjadi lebih baik dan membahagiakan orang-orang di sekitar.

    Doa yang dibisikkan sembari kamu menunduk mencium tangan sungguh mampu menyuburkan besarnya hati, mengobati luka, menepis dengki.
    Sebesar itu kekuatan salim bersalaman, cium tangan, bahkan mungkin lebih.
    Continue Reading
    bismillaahirrahmaanirrahiim.

    Curhatan lama. Ditemukan dalam file yang nyasar ke folder tugas. Saya mendapati curhatan tiap zaman fokusnya benar-benar beda. Waktu itu kenapa ga jadi dipost ya?


    ---



    Sudah sangat lama entri baru tak kunjung diketik. Kebanyakan karena menunda dan akhirnya lupa. Ingat pun hilang feel-nya. Ya semoga bisa berkurang ke depannya.

    Ini adalah cerita di sebuah penghujung malam dalam April 2017. Saya sedang aneh sekali hari ini. Dila mendapati jika ia bertanya tentang suatu hal yang sama.
    "Abis ini ngapain kemana, Shaf?"
    Kemudian saya tampak seperti orang yang sangat butuh pencerahan dukungan dan liburan.

    Jadi saya menyadari saya lagi diterjunkan di beberapa tempat yang buat saya segini aja udah saya kurang-kurangin tapi secara gasadar ya tetep aja nambah lagi banyak setelah nolak banyak juga. Gatau sih tapi banyak yang mengiyakan fenomena tersebut. Yang membedakan setiap pelaku adalah bagaimana pelaku memenej semua dengan hati dan pikiran yang sinergis tanpa meninggalkan apa-apa yang jadi prioritas utama hidup.

    Saya masih harus banyak sekali belajar dan berbenah. Dan akan selalu begitu. Maka janganlah lelah mendengar frasa "butuh diingatkan" selagi masih ada Shaffa di sekitar kalian wkwk.

    Semalem niatnya saya pulang tuh. Kemarin sampe maghrib saya masih di lab ngerjain tugas. Kemudian hujan. Atas pertimbangan satu dan lain hal dan saya memutuskan pulang esok hari saja yang berarti hari ini, masih 23.59 kok wkwk. Terus ternyata Dila pun butuh tempat mengungsi karena kosannya mati listrik dan internetnya karena korslet. Malam itu saya lalui dengan biasa aja dengan niatan pergi shubuh ke Salman sekalian Dila ke kampus, ba'da shubuh bisa denger Dr. Adian Husaini di rangakain GSJN, terus ketemu Kak Hasna ngasih nota-nota.
    Perlu diingat gengs, masih niatan. Dan kita memang tukang bikin rencana yang ter-... ter apa ya.

    Dan fakta akhirnya berkata, Dila ke kampus ama temen kelompoknya. Bukan saya. Saya shubuh di kosan. Ga ke Salman karena Kak Hasna sudah kembali awal waktu. Agenda selanjutnya adalah sampe kampus jam 8 terus ke Salman terus ke masjid BATAN terus ke GKU timur kelas KKN yang masuk jam 9 sampe jam 4 setelah itu aku sangat amat niat pulang. Ummi minta Shaffa pulang.

    Hari berlalu rasanya amat panjang dan padat. Sore hari ketika to do listnya hanya tinggal pulang, penelitian kecil memanggil.

    ...

    Kelompok pencil kami hari ini sedang kritis. Emosi para rekan lagi ga stabil wkwk habisnya topik fotoperiodisme itu sangatsangatsangat... hng.

    Setelah ashar di Salman, saya izin di grup bilang harus pulang. Saya jalan ke parkiran kubus dan menyalakan motor antara ragu dan tidak.
    Motor berjalan, tapi entah kenapa saya melaju masuk ke parkiran sipil, dan bukan melanjutkan perjalanan ke rumah.

    Heiya. Ngapain motoran dari kubus ke sipil coba wkwkwkwk.

    Saya berjalan hampa ke labtek biru. Menemukan temen-temen kelompok pencil di sana. Mendapati kerusuhan menyiapkan alat penil. Mendapati seorang rekan kelompok kami leftgrup karena gaada yang waro wkwk maap El :( kami semua padat hari itu. Dan konflik ya luar biasa lah adanya.

    “Shaff ko ke sini? Kamu ga jadi pulang??”
    “...”
    Entahlah. Saya merasa sangat ada keperluan dan tanggung jawab di pencil. Walau ada yang aneh rasanya. Senyum saya menghilang hehe.

    Kami memasuki rumah kaca sambil menunggu rekan kami yang ngambek. Niatan merangkai instalasi duluan.

    Kemudian ada kabar kawan kambuh sakitnya. Ia memang terbiada meminta tolong pada saya. 
    Tersulutlah. Ada guncangan dan air mata hehe. Temen-temen paniklah kok tiba-tiba begituu. Akhirnya saya bercerita sedikit. Sepertinya itu bukan hanya karena adanya kabar terakhir, tapi akumulasi setres -_-

    Maapkan geng bikin panik hehe. Ini sindrom saya, sekian lama sekali terjadi. Pertama kali ada waktu di MAN, kisahnya ada di postingan lain blog ini. 
    Di situlah saya malu sama temen-temen kelompok. Ini kedua kalinya saya nangis tiba-tiba depan temen-temen biologi.  

    Ini bukan fenomena yang tidak biasa. Saya sering mengalami kebingungan jika diminta pulang ke rumah ketika (sok) banyak sekali kerjaan di luar rumah. Pun juga ketika ada tokoh lain yang membutuhkan keberadaan kita di sisinya.

    Mana prioritas utama hidupmu, kawan, setidaknya untuk saat ini. Sudah sejauh mana kewajiban dan tanggungan yang kamu bawa sedari lahir hingga hinggap di usia sekarang terpenuhi?
    Khawatirlah ketika urusanmu tak kunjung usai dan berkurang, ada refleksi yang perlu dilakukan.

    Ini adalah sebuah tugas bagi saya untuk mengulang kembali materi Fiqh Prioritas.


    Keridhaan Allah tergantung kepada keridhaan kedua orang tua dan murka Allah pun terletak pada murka kedua orang tua. (HR. Al Hakim)

    Ada yang namanya seni komunikasi dengan orang tua, setelah kamu mampu menyusun pemetaan urusan-urusanmu.


    ---

    Curhatan lebih dari setahun lalu. Berhubung sedang memperbanyak nulis jadi saya edit sedikit dan masukin aja ke #30harikenaiqob hehe.

    Semoga semua urusanmu dimudahkan.

    Terus kenapa huruf di postingan ini warna-warni dan gabisa diubah yak. 





    #olimpiadetaqwa
    #karenakitakeluarga
    Continue Reading
    bismillaahirrahmaanirrahiim.

    percayalah foto ini ga nyambung sama isinya. inimah requester aja wkwk. 
    taken di GCamp 2017 yang setelahnya saya tepar karena itu bener-bener baru balik kulap Bali.

    dan seperti biasa, judulnya juga ga nyambung-nyambung amat


    Tulisan ini memenuhi rikues A4 G18. Kenapa judulnya ini? Akhir-akhir ini doi dibuat sibuk dengan segala hal yang berkaitan dengan hal tersebut. Judulnya mah Batik Randa Tapak, tapi yang terpuyeng menurut saya mah dia sih wkwk. Dan saya (harus) (mau ngga mau) jadi pereda puyengnya, gaboleh ikutan puyeng karena nanti tidak memperbaiki keadaan.

    Okei ini ceritanya bermula dari Kanjeng Dimas Ghiffari yang semangat sekali membuat batik Randa. Motivasi terdalamnya apa saya juga kurang tau sih. Tapi ya apresiasi deh perjuangannya wkwk kirain akan wacana seperti yang terjadi di G17. Ukuran batiknya sudah dilist, uang sedang berjuang dikumpulkan, model ada lah sketsanya, semua dilengkapi dengan kondisi respon dari orang-orang yaa gitu lah adanya. Rada hese tapi ya alhamdulillah bisa sejauh ini.

    Ceritanya banyak sekali miskomunikasi dalam perampungan proyek ini. Sampai kini pun belum rampung namun ya harapannya lancar we ya ke depannya. Mulai dari 1.5 ternyata 1.15, eta uang yang dibutuhkan ternyata banyak, bahannya butuh perjuangan nyarinya jadi ada bagian yang maksain beli seadanya mumpung ada, Kanjeng pengen ganti model lah. Matak Fitri jadi lieur teh tah nu kieu sih wkw. Hikmahnya, Fitri jadi apal saya kalo nyetir serem, ada acara ban saya kempes dulu tuntun motor ke sana kemari, Kanjeng nyasar dulu, mendapati fenomena bahwa hanya ada satu toko murah dalam satu area di Cigondewah, juga memberi kesempatan bagi Fachri dan Syams untuk lebih total dalam ngisi materi dikpus wkwk.

    Oiya, dari ngambil kain batiknya, saya dan Zhafirah mengalami muter-muter jalan, macet yang maasyaAllah padahal mah ituu motor dalam posisi membawa gulungan kain 92 m, tidak jadi nawar, tapi allahuakbar ya berkah Ramadhan memang nyata adanya. Semua terasa ringan dan menyenangkan walaupun cangkeul. Dan kami dapet dua bungkus cendol dari Pak Haji Bos Kain.

    Kata beliau, "Neng ini cendol bikinnya pakai celana loh" "Gimana, Zhaf? Aku ngga ngerti :("

    Maaf saudara-saudari pembaca jika narasi ini hese dimengerti. Saya sedang membiasakan untuk membuat prasasti hehe experience is best teacher 'kan, kata buku tulis. Menulis adalah salah satu cara menghargai sejarah, minimal ini sejarah diri hehe.


    Tentang Melakukan Sesuatu untuk Ummat

    Ada masanya, atau mungkin sebagian besar langkah kita dilakukan bukan untuk diri sendiri. Bisa saja untuk orang lain, atau untuk lebih banyak lagi orang. Ini menjadi motto sebagian besar aktivis: khairunnas anfa'uhum linnas. Jangan bosan mendengarnya, karena manusia sungguh banyak khilaf dan lupa. Ketika langkah yang dititi ternyata memang untuk kepentingan saudaramu, berbahagialah karena kau tengah menjalani tahap demi tahap untaian persaudaraan. Untaian tersebut akan semakin kuat, dan kuat, dan lebih kuat lagi dengan ragam tali temali ketika Allah ada dalam nafasmu. Hingga akhirnya ungkapan aku mencintaimu, kalian, karena Allah memang menjadi senandung dalam salam sapa sampai surga.

    Melakukan sesuatu tidak untuk diri sendiri memiliki kemungkinan lebih besar untuk mendatangkan lelah. Wajar, manusiawi. Yang membuat lelah itu istimewa adalah kebahagiaan yang mengiringi, atau didapatinya pembelajaran untuk menjadi manusia yang ikhlas. Tapi sungguh, melihat orang lain tersenyum ketika ada usaha kecil kita sedemikian berarti bagi mereka, mendatangkan rasa aku-ingin-melakukannya-lagii. Ketika mungkin hasil usaha kita tidak menghasilkan senyum selebar yang kita harapkan, mungkin yang dibutuhkan adalah spion; memandang sedikit ke belakang, karena siapa aku melakukan sesuatu untuknya, untuk mereka? Jika karena Allah tentu mestinya aku tak kecewakan responnya atas usahaku.

    Melakukan sesuatu tidak untuk diri sendiri memberikan rasa takut lebih besar untuk gagal. Khawatir orang lain kecewa akan kerja kita, khawatir orang lain tak lagi percaya kita. Jika rasa ini ada pada kadarnya, tentu menjadi motivasi untuk melakukan sesuatu sebaik mungkin. Pada kadarnya. Jika berlebihan, kadang muncullah overthinking, "Aduh gimana ini Teeh kalau pada kecewaa? :(" "Teh aku cemaas" dan sejenisnya. Jika tidak ada sama sekali, bisa-bisa dilakukan seadanya. Sesuatu yang tidak pada kadarnya memang tidak menyenangkan ya. Maka dari itu, dalam melakukan sesuatu untuk orang lain, untuk ummat, menjadi sarana melatih diri untuk memposisikan sesuatu pada kadarnyaa. Kalau pas, melakukan yang terbaik akan terwujud dengan sendirinya. Iya 'kan?

    Melakukan sesuatu tidak untuk diri sendiri sejatinya tidak searti dengan frasa itu sendiri. Bagaimana? Sebenarnya dalam langkah tersebut diri sendiri ini pasti mendapatkan sesuatu, tidak mungkin tidak walaupun judulnya bukan untuk diri sendiri. Entah pembelajaran, entah hikmah, berkah, kebahagiaan. Lelah mah yak tidak sebanding lah wkwk yakin deh, hilang sendiri dimakan waktu, Sisa-sisanya ya insyaaAllah poin menyenangkan tadi, ada saat dikenang. Itulah mengapa volunteering memiliki tingkatan kebahagiaan yang lebih dibandingkan main game, shopping, dan lainnya.
    Biidznillah. 

    Melakukan sesuatu untuk ummat berarti kita termasuk di dalamnya. Melakukan sesuatu untuk diri sendiri juga orang-orang lainnya. Melakukan sesuatu itu tidak mesti besar untuk mendapatkan berkah kebahagiaannya. Sesederhana mendoakan saudara, keluarga semuslim sedunia pun terhitung amat berarti. Akhirnya tinggal menguatkan niat, bagaimana setiap langkah kita menjadi berarti untuk orang lain.

    Maka lelahmu semoga membawa keberkahan lebih dalam dunia hingga akhirat nanti, karena aku tau lelahmu saat ini adalah untuk mereka, untuk dia, untuk kita, untukku juga.

    ---

    tulisan di atas published. terus ada rikues tambahan dari requester.

    "Harusnya ada foto itu wkwkw
    Trus harusnya ada perjuangan G1 ngiket2 trus akhirnya ngangkut kain ke SR trus nyangkutin kain ke tasnya sampe rancaheranggg wkwkwk
    Ksian pisan kalau diinget2 wkwkw"
    - Devi Fitri Ferdania, 9:06 PM

    Untuk kebahagiaanmu lah, Fit :")



    #olimpiadetaqwa
    #30harikenaiqob tapi #tulisansayabarusedikit
    #karenakitakeluarga
    Continue Reading

    bismillaahirrahmaanirrahiim.

    "Shaf, pulang mulu." - Yaiya saya gaada naungan lain wkwk
    "Shaf, ga cape pulang-pergi?" - Eum, capek
    "Hah, Shaf ga ngekos lagi? Jauh banget loh" - Hehehe

    Dimulai dengan alhamdulillah 'alaa kulli haal. Sembilan belas koma lima kilometer dikali dua itu sebenarnya hanyalah aspek spasial. Nyatanya ada aspek temporalnya dan itulah yang menguras tenaga hati mental fisik wkwk. Tapi ya alhamdulillah 'alaa kulli haal.

    Sejak semester lima dimulai ini saya menjalani hidup sebagai riil anak rumah.
    Semester satu, saya ngekos dekat kampus dan pulang di weekend (rencananya). Nyatanya agenda weekend ya gitu terus lelah juga ngangkot kadang bawa baju ke rumah teh hehe.
    Semester dua tidak terlalu berbeda.
    Semester tiga saya pindah ke agak jauh dari kampus dan di liburan pergantian tahun saya baru diizinkan dan direlakan belajar motor dan bisa yey hasil nego setaun lebih. Pertama kali mau pulang ke rumah naik motor, saya ingat saya kesenggol mobil di Cisitu, kebanting ke mobil satunya lagi wkwk akhirnya gajadi pulang :( terus setelah itu lebih mudah pulang pake motor.
    Semester empat tidak terlalu berbeda. Memilih ngelaprak di rumah karena entah mengapa lebih lancar hehe.
    Semester lima, titah Ummi menyatakan bahwa saya mending tidak ngekos lagi dan pulanglah ke rumah. Jadilah saya anak dugdag atau pulang-pergi.

    Dengan fakta bahwa semester lima adalah semester terberat untuk fisik dan mental mahasiswa biologi, ya saya akui ini ++ pisan. Saya menyadari satu kali saja saya tidak hadir, entah sebanyak apa materi yang saya skip. Saya menyadari sehat ini yang utama. Saya menyadari saat dimana saya memiliki ambang batas yang jika saja saya lewati itu, saya drop. Entah perasaan ataukah apa tapi ya begitu adanya.

    Di balik seluruh lelahnya perjalanan dugdag, saya mendapati bahwa saya senang bisa mewujudkan apa yang Ummi mau. Setidaknya, dengan saya ada di rumah, ada peran kehadiran yang saya bawa.
    Peran (setidaknya) 'hadir'. Untuk enam tahun dalam sekolah berasrama, sepertinya terlalu lama jika ++ kuliah. Padahal awalnya saya ingin kuliah di Bogor wkwk tapi ya udah gapapa bismillah nurut. Biidznillah saya di sinilah. Bandung, dengan segala hiruk pikuknya. Kalau dipikir, apa bedanya dengan asrama jika saya ngekos untuk saat ini? Oleh sebab itulah saya bertahan dugdag semester ini. Berusaha 'ada' di rumah. Entah ngapain.

    Sering sekali terpikir dan tersampaikan pada kawan-kawan, betapa tidak mengenakkan hati ketika sampai ke rumah tapi tidak menyempatkan belum ada kesempatan untuk melakukan pekerjaan rumah yang cukup meringankan Ummi. Sedih.

    ---

    Saya tengah membuka-buka draf blog. Banyak juga, dan ini salah satunya. Kebiasaan saya yang kurang baik adalah kalau nulis gini suka ngga beres. Bahkan kalo saya baca sekarang-sekarang, saya penasaran dengan apa yang saya-masa-lalu coba sampaikan pada publik. 

    Tulisan tadi adalah tulisan saya semester lima, ada dalam kehektikan akademik yang nyata tapi allahuakbar berkesannyaa luar biasa. Saya sedikit banyak ingat, betapa saya di rumah sulit memposisikan diri sebagai anak perempuan dan kakak yang baik dengan tuntutan perhatian tercurah pada laprak, laprak, laprak, dan laprak. Melihat saat ini saya sudah melalui semester lima dan enam, alhamdulillah ya ternyata periodisasi ujian itu nyata adanya.
    Yang jelas, usaha untuk 'hadir' sebagai anak perempuan dan kakak perempuan di keluarga akan selalu menjadi kewajiban sampai akhir nanti. 
    Saya bersyukur menjadi seorang anak Bandung. 
    Saya bersyukur masih punya kesempatan untuk bisa hadir secara kasat mata di tengah keluarga. 
    Saya bersyukur masih diingatkan Ummi untuk mengerjakan ini itu. 
    Saya bersyukur dalam Ramadhan ini ada hal baru yang saya pelajari, dan tidak hanya saat ini sih namun setiap detiknya.
    Saya bersyukur bisa merasakan bahwa hal yang paling datang dan pergi di dunia ini salah satunya adalah cucian ahaha.


    Namun perlu diingat:
    Jarak bukan alasan untuk meniadakan 'keberadaan'mu di tengah keluarga. Jarak bukan alasan untuk
    meniadakan peranmu sebagai anak. adik, kakak. Jarak bukan alasan untuk mengelak dari permintaan orang rumah. Selagi masih ada umur maka penuhilah. Ini bahasan umur bukan hanya umurmu, umur kita, namun juga umur beliau-beliau sang ayah sang ibu sang kakak sang adik dan sang lainnya.
    Barakallahulakum. Peran mengalami sebuah perputaran. Ada saatnya kita akan berganti bertambah peran tanpa melepas peran sebelumnya.
    Berat? Ya da hidup mah peurih.

    Ingat pulang.
    Pulang ke rumah.
    Lebih lanjut lagi pulang ke rahmatullah.



    Ini surely ga nyambung sama yang saya-masa-lalu coba sampaikan. Tapi ya ingin aja tulisan ini dibereskan. Saya ngga ganti judul lamanya. Sekalian nambah tabungan tulisan #olimpiadetaqwa dan #30harikenaiqo hehe.
    #karenakitakeluarga, jadi saya senang berbagi.
    Ambil manfaatnya saja hehe percayalah ada hikmah dari segala sesuatuu.
    (alibi) (semoga manfaat)



    #olimpiadetaqwa
    #30harikenaiqob
    #karenakitakeluarga 




    Continue Reading

    bismillaahirrahmaanirrahiim.

    "Kenapa Islam benar, Bah?"
    "Ini siapa yang nanya? Mau pakai pendekatan apa?"
    "Hmm yang nanya yang sedang mencari kebenaran, Bah,"
    "Gini.."

    ---

    Jadi ini adalah pertanyaan seorang adik tingkat, yang tengah mencari hakikat kehidupan. Agak bingung saya, teman mempertemukan dia dengan saya yang.. akumah apa atuh :( tapi ya bismillah kami sedikit banyak mengobrol.
    Sampai pada satu titik dimana saya bertanya apa lagi yang masih membuat dirinya penasaran.

    "Kenapa Islam adalah agama yang benar, Kak?"

    Hmmmmmm.. Saya tau sih Islam teh benar tapi gimana jelasinnya yak. Alhamdulillahnya adalah pertanyaan tersebut diutarakan lewat chat, jadi saya bilang saya akan membalas ketika sudah luang. Saat itu dia memang tau kalau saya sedang ada kumpul.

    Hmm bingung wkwkwk yaaAllah ini pertanyaan dasar tapi kok..
    Bingung ngga bingung ngga? Tenang, tenang, walaupun bingung, memang tidak semua hal mudah diungkapkan dengan kata-kata. Atau mungkin ini menggerakkan kita untuk lebih banyak bertanya dan membacaa.

    ---

    Nalar
    Sekarang kita coba lihat ini, hape ya. Hape tercanggih bisa apa aja? Pasti bisa lah ya menyebutkan spesifikasinya. Ada ini, itu, dan banyak lagi. Hebat banget 'kan ya yang buat. Butuh berapa tahun untuk mengembangkan hape sampai secanggih ini? Bertahun lamanya. Walaupun begitu, berarti otak manusia keren. 
    Otak manusia keren, yang buatnya siapa?
    Pasti ada. 

    Ini nalar manusia. Otak-otak manusia ada yang menciptakan. Nalar alam semesta ini mengatakan bahwa seluruh alam ada Yang Menciptakan.
    Al-Qur'an menyatakan bahwa alam semesta ada Yang Menciptakan. Pas 'kan?

    Apakah ini kebetulan? Nalar alam semesta ini menyatakan sedemikian baanyaknya fakta yang 'kebetulan' sama dengan konsep yang Islam bawa. akta-fakta ini induktif, merujuk pasa satu konsep. Bagaimana bisa meragu?
    Fitrah manusia ini akan sampai pada konsep yang sesuai dengan apa yang Islam kenalkan. Seluruh manusia akan mengiyakan ini, jika dan hanya jika pikiran. logika yang ditanya mau jujur.

    Ini adalah apa yang al-Qur'an bawakan. Namun perlu diketahui, walaupun wahyu belum turun, kita masih tetap bisa sampai pada Tuhan. Inilah yang dikatakan agama fitrah. Mau bagaimanapun, alam semesta akan menunjukkan kebesaran Penciptanya.

    Hati
    Mau jujurkah? Pernahkah mengalami masa kritis dalam hidup? Minta tolong ke siapa, apakah terpuaskan? 

    Islam mengenalkan Tuhan yang tidak pernah bersedih.
    Islam membuatmu mengenal dirimu sendiri. Hati ini kemudian menjadi alat uji bagaimana kita mengenal Allah. Allah mampu melapangkan dada manusia. Memberi ketenangan. Tidak kasat mata? Apakah itu masalah? Telah tampak fakta-fakta di sekitar yang menunjukkan keberadaan, kebesaran Allah. Tuhan 'lain' yang dapat dilihat wujudnya saat ini, bagaimana bukti bahwa Tuhan itu Mahaadil untuk semua manusia di seluruh zaman jika baru 'dibentuk' di pertengahan masa keberadaan manusia. 

    Capeknya hidup bukan berarti karena Allah tidak memberi pertolongan. Kenali dahulu Tuhanmu.

    Teknologi tercanggih masa kini, tentang makhluk hidup mungkin ada pada gene editing, atau kloning untuk 'menciptakan' makhluk hidup. Namun semua yang dilakukan ini bergantung pada apa yang sudah ada. Apa yang sudah ada siapa Yang Mencipta?
    Saat ini, manusia yang mengembangkan teknologi ini seperti anak-anak yang bisa membuat 36 warna dari 12 warna cat air, anak berbakat. Mengombinasikan, mengubah, dari apa yang sudah ada. Manusia memang Allah ciptakan memiliki bakat. Analogi pas dan sederhana, hanya mungkin berbeda tingkatan, garapan, bidang, dan usia. Bukan berarti merendahkan usaha yang dilakukan para peneliti, ilmuwan, ahli, namun mengenal bahwa manusia sungguh hebat hendaknya membuat kita semakin yakin bahwa Allah Mahahebat. 
    Semakin kita mengenal diri, semakin kita mengenal Allah itu nyata adanya. 

    Tidak perlu memunculkan dalil untuk menjawab ini rupanya. Nyatanya alam semesta ini merupakan salah satu bentuk dalil, menunjukkan bahwa Islam memang agama yang fitrah.
    Agama yang benar adalah yang memberi ketenangan pada hati dan pikiran, itupun jika hati dan pikirannya hendak dibawa jujur. 
    Sudahkah kau temukan ini dalam Islam?

    ---

    Saya belum habis-habis baca Ayat-Ayat Semesta tulisan Pak Gus Pur. Namun dari dialog buka puasa di meja makan ini saya menyadari bahwa semesta memang sebentuk ayat. Trensains harus jadi nih semangat IAG.

    Ceritanya saya mula-mula tanya ke Ummi, terus Ummi bilang tanya Abah. Orang yang mencari kebenaran perlu dipertemukan dengan orang yang tepat karena manusia banyak kurang lebihnya masing-masing, termasuk pada pengemasan kata-kata dan keluasan wawasan pendekatan untuk menjawab pertanyaan. 

    Saya jadi mikir, ini kalau nanti anakku bertanya hal serupa karena ada pertanyaan dari adik tingkatnya yang sedang mencari kebenaran, aku kudu piye wkwk. 


    Segala puji bagi Allah yang memberi Fathya Abah dan Ummi yang keren banget.




    #olimpiadetaqwa
    #30haarikenaiqob
    #karenakitakeluarga

    Continue Reading


    ismillaahirrahmaanirrahiim

    Semakin tinggi 'tingkatan' seseorang, maka ujian yang diberikan pun akan meningkat.

    Hal ini nyata adanya, itulah mengapa kita tidak disarankan untuk membandingkan diri kita dengan yang lain kecuali pada akhirnya memberi energi untuk menguatkan diri, semacam motivasi. Allah memberi ujian berdasarkan kesanggupan hamba-Nya. Hal ini hendaknya menjadi motivasi bahwa sebenarnya diri ini mampu.

    Untukmu para pemimpin. Tentu apa yang dipangku saat ini berbeda dengan milik rekan-rekan yang lain. Ada kalanya (atau bahkan lebih sering) terasa begitu berat.

    "Pada hilang.." "Sedang pada sibuk" "Ada agenda akademik full" "Aku harus apa, Shaf?"
    “Kamu harus apa? Kita harus apa?”

    ---

    Ketika rekan-rekan kerja keluargamu rasanya sulit meng-ada-kan diri di tengah hiruk pikuk agenda di luar organisasi ini, mungkin padamu terkadang ada kesedihan, ada kegelisahan, atau mungkin ada ketidakmampuan. Keberadaan hal-hal barusan hendaknya tidak dipelihara dalam waktu lama, dan dirimu hendaknya segera beranjak. Berwudhu. Tilawah dan doakan. Qiyamullail dan doakan.

    “Sesungguhnya doa seorang muslim kepada saudaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah doa yang mustajab (terkabulkan). Di sisi orang yang mendoakan saudaranya ini akan ada malaikat yang bertugas mengaminkan doanya. Tatkala ia mendoakan saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut akan berkata: Aaamiin. Engkau akan mendapatkan semisla dengan saudaramu tadi.”
    - Ash-Shohihah (1399): Muslim: 48-Kitab Adz-Dzikr wad Du’aa halaman 88

    Kak Reka Ardi Prayoga hari itu menyampaikan komponen penting dalam membentuk alur ‘kerja’ yang kondusif: ruhiyah, ukhuwah, dan dakwah. Yak ceritanya ini notulensi kumpul kemarin. Jariyah ketika dibagikan aaamiin ya.

    Ruhiyah ini akan penting dalam penjagaan diri dan saudara-saudaramu. Teruntuk seorang pemimpin, ada targetan lebih tinggi yang mesti dimiliki. Minimal, qiyamullail dan tilawah adalah yang kau arahkan menjadi pegangan saudara-saudara yang lain. Dr. Najih Ibrahim dalam Kepada Aktivis Muslim menekankan bahwa amal yang amat baik untuk mencetak kader adalah qiyamullail, amal yang amat berat namun hasilnya amat dekat.

    Ukhuwah ini akan penting dalam menguntai kekeluargaan satu sama lain. Sering-seringlah berjumpa maka kalian akan terbiasa dan dari sana akan tumbuh cinta. Selalu berprasangka baik sehingga dalam kondisi sulit pun akan selalu ada kesempatan untuk saudara-saudaramu kembali masuk. Selalu menyelipkan namanya satu persatu dalam doa. Pengurus harianmu ada puluhan? Sebutkan semua. Ratusan? Wah mantap sih wkwk.

    Dakwah ini akan penting untuk mengingat apa tujuan bergerak dalam sebuah organisasi, instansi, komunitas, dan sejenisnya. Celah perbedaan yang dibesar-besarkan seringkali memunculkan keretakan yang tentu tidak sehat untuk bangunan. Ada yang peru disepakati bersama, ada keragaman yang indah dalam kolaborasi warna kebaikan (branding wkw). Pasti ada kesamaan tujuan dalam perbedaan tadi. Islam adalah rahmat seluruh alam, ‘kan?

    Dalam ketidakjelasan pemetaan organisasi-keluarga, hal pertama yang perlu diselidiki adalah amalanmu, ya, amalan pemimpinnya. Untukmu, berhati-hatilah karena semua yang kamu bawa berdampak pada apa yang kamu pimpin. Entah amal, sikap, lainnya. Sugesti diri: kenaikan amalmu, kenaikan kinerja keluargamu.

    Gitu, Shaf.

    ---

    “Terimakasiih. Jadi gitu, teman-teman,” Aku di sini perantara saja hehe.
    “Kamu udah berhasil implementasiin, Shaf?”
    “Hmm bismillah aja dulu we ya,” Siapapun tau aku sedang terketuk, atau tertusuk malah -_-

    ---

    Semakin tinggi 'tingkatan' seseorang, maka ujian yang diberikan pun akan meningkat.
    Hal ini nyata adanya, itulah mengapa aku tidak (sanggup) membandingkan diri kita dengan yang lain kecuali pada akhirnya memberi energi untuk menguatkan diri, semacam motivasi. Allah memberi ujian berdasarkan kesanggupanku. Hal ini kuulang-ulang, menjadi motivasi bahwa sebenarnya diri ini mampu.

    Kepada diriku dan untukmu para pemimpin, semoga dikuatkan! Sejatinya kita semua pemimpin setidaknya untuk diri kita. Ya?



    Random ga sih ini apakah teks ini dimengerti saya juga kurang tau. Semoga bermanfaat.



    #olimpiadetaqwa
    #30harikenaiqob
    #karenakitakeluarga

    Continue Reading
    bismillaahirrahmaanirrahiim.





    Nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kamu dustakan?

    Berkah silaturahim, itu asas teman-teman eksternal yang ditanamkan ke pengurus lainnyaa. Ini day 3 saya bersama mereka wkwk. Bosen ngga bosen. Tapi hikmah yang bisa dipetik selalu ada.
    Cibiru-Cimahi ternyata jauh saudara-saudara. Sesampainya di sana baru ada Fawwaz dan Bill Kaka Korlap. Adik-adiknya sudah banyaak, agak ingat sama adik-adik di Rumah Singgah Insan Rabbani. Nanti mungkin ada kisahnya sendiri. Berhubung yang lain terutama Apip Kaka MC belum datang, kepikiran buat ngisi pake games, tapi kemudian kami agak lama di membahas ternyata ice breaking, games, dan energizer itu berbeda heheu. Alhamdulillah setelah menyapa adik-adik singkat, rombongan datang.

    Seharian itu luar biasa, mendengar cerita wakwawnya Zhafirah yang amat banyak genrenya (soon to be published, Zhaf?), menyaksikan adik-adikkuu takbir setiap mendapat keberhasilan kecil dalam game-nya, kreativitas tanpa batas adik-adik, heup a heup heup a heup a (terbaik Zhaf!), para BSG MSG USG ASG ISG dst., juga melihat realita.

    Karena nyatanya bangsa yang sedang dalam penantian ini tidak sedang menanti yang tak pasti. Karena calon-calon pemimpin ummat itu nyata adanya. Karena yang menaruh kegelisahan diri tidak hanya kamu, kamu saja namun mereka pula.

    “Kakak kok tau banyak ustadz sih, Kak. Aku malah dikit-dikit liatnya cewek. Astaghfirullah :(“ Zaky kepada Fawwaz.
    “Kak kak, lihat Qur’anku ngga? Habis ngga ketemu-ketemu. YaaAllah, apa aku diadzab ya kak karena zina..” Zaky kepada kami.

    Pengen nangis wkwk :(

    Ada sebuah teguran (keras) dari celetukan adik-adik di sini. Atau mungkin bukan celetukan? Teguran lebih (keras lagi) jika memang disadari dari dalam hati. Hue.

    Sudah sesering apa melakukan sebuah introspeksi diri, sudah sesering apa menilik pesan Allah dari musibah kecil yang dialami, sudah sedalam apa mengenal kalamullah, sudah sejauh apa mengenal kisah para nabi, sudah serutin apa muraja’ah, sudah sesemangat apa untuk menggarap sebuah kerja tim, sudah sekreatif apa menguntai kata, kapan terakhir kali begitu semangat untuk belajar mendalami agama rahmat untuk seluruh alam ini?

    Salut sama Rifky Maulana dan tim, runtutan agenda yang disusun luar biasa berbobot huhu saya terharu loh.


    Ada banyak semangat di sini. Ada banyak mimpi. Ada optimis bahwa sebenarnya carut marut negeri ini tengah menuju akhir waktunya. Jika kita temukan adik-adik saat ini banyak memelihara kata-kata yang kurang pantas, kerjanya main game dan gawai saja, lagu yang disenandungkan bukan umurnya, dan seterusnya, bersamaan dengan itu (percayalah dan yakinilah) ada adik-adik yang tamat shirah nabi-nabinya, hafalannya jelang halaman 604 Qur’an saya, dibacakan ayat terbayang kisah di baliknya, senandungnya bukan lagu namun shalawat. Perlu diingat, ketika kita temukan adik-adik kategori awal tadi maka sempatkan sampaikan mana yang lebih baik dari itu; ada kebaikan lebih ketika menjaga lisan, ada kebaikan lebih ketika hormat pada orang yang lebih tua, ada pahala berlimpah untuk anak yang mengenal Rasulnya dan berbakti pada orangtua. Jika ada kesempatan sampaikan, jika ada mau sempatkan.

    Berkah silaturahim itu ada. Menjadi sosok yang dirindu oleh sosok yang dirindu negeri tentulah amat berarti. Semoga ini langkah kecil yang membawa rahmat. Semoga kita kembali dibersamakan lain waktu!

    Barakallahufiikum :)



    #olimpiadetaqwa
    #30harikenaiqob
    #karenakitakeluarga

    Continue Reading
    bismillaahirrahmaanirrahim 

    Terimakasih!

    Dua hari yang luar biasa. Jakarta-Bandung punya cerita. Alhamdulillah kemarin-kemarin berkesempatan untuk menghadiri sebuah event silaturahmi, buka bersama Ikatan Alumni Gamais ITB. Saya masuk ke dalam list partisipan hanya dengan berkata “wah” di grup. Aneh ya tapi menarik. Pasca tercatatnya nama saya, saya masuk ke dalam sebuah multichat berisi enam orang.

    09:29 AM. Incoming freecall from Zhafirah Ajrina.
    09.53 AM.  “ini ku ke sana” dengan melangkah dari parkiran sipil menuju Banyu Leisure Park. Sampai ke pertigaan Ganyang, ada yang manggil dari atas Gojek. Kemudian kami berjalan balik arah ke Salman lagi kemudian ke Banyu lagi. Kenapa begini? Tanya coba sama Zhafirah. Alhamdulillah langkah kami jadi lebih banyak dari semestinya. 

    Saya dan Zhafirah berangkat bersama Teh Uci, Uni Sinta, Pak Dwi, dan Pak Sukris. Kapan lagi ya yang jadi supirnya ketua IAG-ITBnya heheh. Jam 10 lebih sedikit kami berangkat. 


    Sepanjang jalan kenangan, kami banyak mengobrol mulai dari kisah sektoral sampe obrol mengenal lebih dalam, terutama sama Teh Uci dan Uni Sinta sih. Rasanya kami tidur sedikit sekali. Dan sebelum ke lokasi, kami lewat dulu ke Depok, mengantar Pak Dwi ke kediaman, mengantar Pak Sukris bertemu orang dan kami menanti bari jeung panas di sana teh, melewati UI, melewati kemacetan yang membuat agenda bukber IAG ini berlangsung di jalan heuheu. Alhamdulillah ‘alaa kulli haal, apalagi bisa nyoba teh beras punya Pak Sukris hehe.

    Ternyata kami sampai bersamaan dengan rombongan 2 Bandung yang berangkat ba’da jumatan. Saya, Zhaf, Teh Uci, dan Uni Sinta jalan kaki dari masjid ke rumah yang dimaksud dengan jalan memutar. Apakah kami nyasar? Hmm bisa jadi. Tapi Allah menghendaki jalan dimana kami bisa bersilaturahim salam sapa dengan para bapak satpam. MaasyaAllah ya.

    Di sana dapet apa?
    Ada banyak orang hebat di sana. Obrolan mengenai kemaslahatan ummat, visi besar Islam, dan obrolan-obrolan ringan tentang apa yang baiknya diturunkan pada adek-adek yang masih pengurus ini. Menarik, karena yang disampaikan alumni generasi 80an, 90an, 2000an itu masing-masing beda coraknya. Poin besarnya adalah program IAG, proyek bersama, kerjasama pengurus-alumni, petuah untuk pengurus, termasuk nasihat untuk para muslimah di kampus. Alhamdulillaah kami dipertemukan dengan Bu Iin, IAGITB TK’88 sebegai narasumber. Bahasannya strategis dan bekal hidup pisan wkwk. 

    Berhubung sudah terlalu malam, obrolan dengan bu Iin dicut. Kami segera pamit dengan membungkus makanan catering terlebih dahulu hehe. Kata Teh Uci, untuk menyenangkan tuan rumah ya nurut. Jadi kalau disuruh bungkus ya bungkus. 

    Perjalanan dilanjut ke rumah brader Vieri Muhammad dengan personil mobil yang dirombak. Kenapa bisa ke sini? Sebetulnya ini ketidaksengajaan yang nyata dan kekhilafan yang nyata tapi ya alhamdulillah aja berkahnya insyaaAllah dapet. Jam 6 pagi, kami lanjut perjalanan ke Bandung. Obrolan ya jelas random tapi serius ini ilmu banget berhubung kami semua berasal dari prodi yang berbeda. Sampai ke Bandung, alih-alih turun dari flyover ke arah Tamansari eh mobilnya lurus menujuu.. Cibiru wkwk. Antiwacana memang. Kami sempat singgah dulu di Mufti tapi berujung hanya melihat katalog 3D -> nonton judul-judul buku dari layar kaca. Kalo ga salah belnya dipencet lebih dari 3x huhu maaf :(

    Kemudian berlanjut ke rumah saya. Ngapain? Murni silaturahmi. Berhubung mau makan-makan ga bisa masak-masak pun nanaonan. Jadi ya gitu itungannya rehat aja wkwk.


    Sebetulnya goal utamanya memastikan sesuatu yang sudah jelas saya jelaskan keadaannya. Tapi tidak dibahas di sini lah ya. Setelahnya, saya ikutan lagi naik mobil karena disuruh Abah ambil aja motornya di kampus. Perjalanan berakhir dengan saya motoran ke rumah dengan kondisi allahuakbar ngantuk pisan.

    Eh ngga deng. Perjalanan masih akan berlanjut seiring proyek IAG-ITB berlangsung, juga ada amanah dari Pak Budi Youyastri yang disampaikan lewat Vieri.

    ---

    Jadi, di sana dapet apa?
    Dapet tofu, udang goreng asem manis, daging kayak steak gitu pake saos jamur, ayam bumbu kuning gitu, mie, kelapa muda, buah, kue2, soto bandung, kripik pisang pak kholil, masakan padang dari masjid, kurma, foto kucel (aslinya ini foto menyedihkan wkwk jadi saya tidak akan lampirkan di sini sebelse ada orang yang jago ngedit), orang utan, kakatua gigi 2 (...), ayam kfc, sop ibunya vieri, le minerale, teh manis anget, kipas dan brosur - - - - - gak jadi di bawa tapi, di rumah saya juga banyak sih hehe.
    Dikutip dari multichat sesi review perjalanan ajaib ini. 

    Tidak lupa cerocosan Dimas Ghiffari yang nonstop, pembullian terhadap Vieri oleh Zhafirah (dan saya?), menyimak muraja’ah bersama, bahasan serba random dan celetukan yang garing, dan ilmu menjaga kalamullah dari Iqbal Fawwaz yang sudah saya wanti-wanti sejak awal akan saya interview abis-abisan.

    Begitulah rangkuman perjalanan kami! Ada banyak sekali hikmah dan ilmu yang dibagi dan didapatkaan. Baarakallah IAG-ITB, baarakallah keluargaku sekalian.

    Zhafirah Dimas Fawwaz, kita masih punya urusan dengan Vieri ya. 


    #olimpiadetaqwa
    #30harikenaiqob
    #karenakitakeluarga
    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    About me

    Photo Profile
    fathya
    << biology-art >>

    bit.ly/shaffabutuhdiingatkan

    Read More

    Follow

    • G+
    • tumblr
    • facebook
    • twitter
    • pinterest
    • instagram

    Labels

    #olimpiadetaqwa abiotik alampikir bandung biotik Indonesia kawan keluarga lingkaran masyarakat pakulahan serpong subang tugas tki

    recent posts

    Blog Archive

    • Mei 2020 (1)
    • Oktober 2019 (2)
    • September 2019 (1)
    • Mei 2019 (2)
    • Maret 2019 (3)
    • Februari 2019 (1)
    • Januari 2019 (5)
    • Desember 2018 (1)
    • November 2018 (1)
    • Oktober 2018 (1)
    • September 2018 (2)
    • Agustus 2018 (2)
    • Juni 2018 (8)
    • Mei 2018 (7)
    • April 2018 (3)
    • Januari 2018 (9)
    • September 2017 (3)
    • Agustus 2017 (2)
    • Juni 2017 (1)
    • Februari 2017 (1)
    • April 2016 (3)
    • Maret 2016 (1)
    • November 2014 (2)
    • Oktober 2014 (7)
    • Juli 2014 (2)
    • Juni 2014 (2)

    Cari Blog Ini

    facebook Twitter instagram google plus tumblr

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top