Pages

  • Home
  • About
tumblr linkedin

things.

    • Home
    • Gallery
    • About


    bismillaahirrahmaanirrahim

    Kalau kata seorang responden survei saya, cinta itu tidak untuk dijelaskan dengan kata-kata. Namun ada kalanya pendapat kita tidak sejalan dengan keadaan, 'kan? Seperti sekarang, Teknik Komunikasi Ilmiah meminta saya untuk menguntai kata tentangnya. Wkwk.
    Sekali lagi gengs ini tugas. Lain waktu mungkin bisa dibahas lebih lanjut.
    Satu kata penuh makna. Senang. Tapi sakit juga. Dia. Keikhlasan. Ketulusan. Kenyamanan.
    Begitu kata responden kami ketika ditanya apa cinta menurut anda. Terangkum sedemikian rupa. Yang saya tangkap adalah, aneh.
    Liat geura itu banyak kata-kata yang kontradiktif.

    Hampir setiap orang mendefinisikan cinta dengan gaya yang berbeda. Jelas, sudut pandang yang diambil berbeda, pengalaman berbeda, pemaknaan berbeda, perasa-rasaan juga berbeda. Sedangkan makna cinta memang tidak ada yang menetapkan, eh mungkin KBBI sih. Hanya saja tidak ada aturan jelas bahwa setiap orang dilarang untuk memaknai sesuai keinginan masing-masing. Benar?
    Cinta itu sesederhana teh anget yang dibikinin Ibuk di pagi hari -hangat dan manis-
    Tidak ada yang menyalahkan, 'kan?

    Allah menciptakan kita semua atas dasar cinta, karena Allah Maha Cinta. Semua kesempatan dan kesempitan yang Ia berikan semata-mata hanya karena cinta-Nya pada hamba-Nya, Kawan.
    Ketika cinta dimaknai sebagai ketulusan, keikhlasan, kebahagiaan, kenyamanan, atau segala hal positif yang kita rasakan ketika bersama dengan seseorang, benarlah begitu adanya karena begitulah hakikat cinta. Menghidupkan.

    Namun ketika cinta dimaknai dengan rasa sakit, penolakan, gengsi, kebergantungan, apakah berarti pemaknaan tersebut salah dan bernilai negatif?

    Tidak, Kawan. Di balik semua hal yang tidak menyenangkan bagi kita tentu ada pesan baik yang hendaknya tersampaikan. Ketika kau berkata cinta itu penolakan dan menyakitkan, mungkin saja pesannya adalah ia/hal tersebut bukanlah yang terbaik, dan semua akan indah pada waktunya~
    Dan mungkin pemaknaan-pemaknaan lain yang sebetulnya pembacaan pesannya dapat dilatih dari kepekaan hati wkw.

    Entah sih, masih kurang baca.

    Apa yang dirasakan seseorang ketika jatuh cinta?
    Hampir semua responden mengatakan bahwa rasanya nano-nano, manis asem asin rame rasanya. Karena memang apa yang mereka rasa menyesuaikan apa yang mereka hadapi dan setiap orang pasti mengalami hal yang beragam. Senang namun sulit fokus? Senang tapi sedih? Bahkan menimbulkan benci?

    Ketika kita menyadari apa yang dirasakan sedemikian sulit dikontrol, kita baiknya makin waspada dong atas dominansi rasanya jatuh cinta yang bisa saja menyingkirkan apa yang semestinya prioritas.
    Mengenai perbedaan tipe jawaban perempuan dan laki-laki, mungkin baca Woman are from Venus and Man are from Mars.........

    Menimbulkan konflik ah kuesionernya wkwk dan sulit digambarkan dengan kata-kata. Mungkin lain kali ya dilanjut.

    padahal mah ngerjain mepet dedlain hahah :(

    Continue Reading


    bismillaahirrahmaanirrahim.

    Mungkin suatu ketika kita dengar kalimat "Heei jaga etikanya dong."
    Atau atau, "Kok dia moralnya kurang sih".
    Wah pertanda kurang baik loh ini. Waspadalah karena berarti ada kondisi yang perluu diperbaiki.

    Dimulai dari pengertian etika dulu nih. Apa bedanya dengan moral? Apakah keduanya berkaitan?

    Moral adalah nilai yang dipahami oleh lingkungan sebagai sesuatu yang dipandang benar dan sesuai dengan nilai kemanusiaan. Etika adalah kajian mengenai moral itu sendiri. Maksudnya adalah mengenai bentuk perwujudan konkrit dari moral itu sendiri, bagaimana implementasi dari nilai moral yang adaa.

    Abstrak? Ngga kok insyaaAllah.

    Seperti contoh,  nilai moralnya adalah hormat pada yang lebih tua. Realisasi dari poin tadi adalah berbicara sopan dan merendahkan suara. Nah itu dinamakan etika.

    Dipahami? Yaa bolehlah koreksinya kalau salah di bit.ly/shaffabutuhdiingatkan afau pm lewat sosmed yang ada hehehe.

    Kemudian,  bagaimana kondisi perwujudan moral di masa kini. Kasusnya kali ini ada di kampus *** dengan jumlah responden pada kisaran angka 20an. Studinya adalah pengalaman menyontek!
    Sepuluh persen responden menyatakan bahwa mereka tidak pernah mencontek. Berarti sisanya?
    Ya begitulah realitanya.  Banyak yang mengakui bahwa dirinya pernah mencontek.  Terlepas dari bagaimana batasan mencontek,  apakah sebagai 'referensi', mencocokkan tugas pribadi dengan tugas kawan, atau sampai menyalin 'plek' kopi paste pol.

    Para pemain skenario kehidupan ini,  apakah menyadari apa yang sebenarnya mereka lakukan?

    "Buruk. Tapi gimana ya kalau kepepet dan emang anaknya sukarela hahaha"
    "Duh gabagus sih.  Soalnya bikin males mikir.  Ntar gedenya mental koruptor itu". Na'udzubillah.

    Nah. Sebetulnya para pemain peran ini menyadari bahwa alur skenario yang mereka lakukan adalah tidak baik alias tidak ber.. etika atau moral ya wkwk

    Yaa pokoknya sebetulnya apa yang menurut ia baik belum tentu (semudah itu)  ia wujudkan. Dan belum tentu apa yang ia lakukan adalah yang menurutnya baik. Terlepas dari masuk kriteria moralkan atau etikakah kasus ini,  namun perlu ada titik yang dibenahi ketika hendak menuntaskan sesuatu sesuai apa yang diyakini baik.

    Diyakini.
    Relatif ya wkwk.
    Ketika kasusnya sang pemain memahami jika mencontek adalah hal yang kurang baik, ia telah mendalami nilai moral dengan baik. Namun mungkin di poin etika,  ia masih butuh banyak belajar.

    Selama masih ada umur dan kesempatan,  kemampuan untuk memahami baik buruk kondisi zaman, sungguh amatlah baik untuk membiasakan diri dengan apa yang menurut hati baik. Dan mari pastikan kalau hati kita selalu pantas untuk ditanya :)
    Continue Reading

    bismillah.

    Bukan hal buruk jika ingin menafsirkan sesuatu sesuai kehendak, namun tentulah harus pada persoalan dan waktu yang tepat. Seperti misalnya untuk saat ini, menuliskan sesuatu yang kita maknai sebagai maksud dari lagu Kilometer Terakhir, Seringai.

    Melompat ke sadel, dan kuhantam sang selah.
    Melawan arah, ku tantang maut, indah.
    Terasa lepas. Melesat di jalan, kilometer terakhir.
    Ya, ku hampir tiba, kilometer terakhir. Kubakar bensin, mesin ini meradang.
    Pacu motor, kutuju matahari.
    Tancap! Melesat di jalan, ya, ku hampir tiba. Angin menerpaku, serigala lepas.
    Roda berputar, kilometer terakhir.
    Hampir esok, seperti kemarin. Kilometer terakhir.
    - Kilometer Terakhir, Seringai 


    Ada masanya ketika mungkin dirimu merasa terkungkung sesuatu. Kemudian membutuhkan sesuatu yang bisa melarikanmu sementara, setidaknya dari hal tersebut untuk sementara waktu.

    Sesungguhnya lari sama sekali tidak akan menuntaskan, 'kan?

    Namun tidak bisa dipungkiri jika jiwa dan pikiranmu butuh untuk dipenuhi kebebasannya barang beberapa saat, disingkirkan dari kepenatan, diwujudkan ketentramannya.
    Terkadang kita terlalu pusing memikirkan jalan untuk lari dari kenyataan dan mencari kedamaian. Kemudian waktu habis dengan kondisi jiwa dan hati ini belum tenang dan beban belum dituntaskan.
    Lebih parah lagi ketika yang tampak justru diri kita menyalahkan orang lain -mencari pembenaran atas apa yang diri ini rasakan.

    Terkadang  Sering aku terbawa gerak tangan yang menarik gas motor. Berkendara entah kemana. Mungkin tidak seperti lagu Kilometer Terakhir yang mewujudkan kebebasan diri, beban terlepas seiring deruman motor dan angin yang menerpa. Namun ingin sekali diri ini merasakan yang semacam itu, menghindar dari kepenatan, terlepas dari beban.

    Padahal jika keikhlasan selalu mengiringi, diri tak akan terbebani.
    Padahal jika mengagankan ketentraman, Allah telah berikan jawabnya.

    الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
    (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.
    - QS. ar-Ra'd: 28 

     Akan tiba saatnya kita akan tiba di Kilometer Terakhir, ketika amanah usai, ketika tugas kita di dunia sudah tuntas.

    Ketika kita dipanggil oleh-Nya.

    ---

    Pemaknaan pribadi yang seutuhnya ehehe sekenanya banget maaf segala salah semoga semua urusan kita dimudahkan :)

    gambarnyaa tidak relevan wk

    Rujukan:
    https://tafsirq.com/13-ar-rad/ayat-28
    https://www.musixmatch.com/lyrics/Seringai/Kilometer-Terakhir
    Continue Reading
    bismillaahirrahmaanirrahiim.

    يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
    Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.  
    - QS. al-Hujurat: 13

    Dari matamu, dari bicaramu, dari dengarmu, dari gerakmu, atau mungkin dari hatimu, semua bermula.

    Bicara apa kita kali ini?
    Tentang perintah-Nya. Tentang apa yang kita lakukan sejak ruh kita ditiupkan bahkan hingga ruh kita terpisah dari jasadnya.

    Komunikasi, Kawan.

    komunikasi/ko·mu·ni·ka·si/ n 1 pengiriman dan penerimaan pesan atau berita antara dua orang atau lebih sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami; hubungan; kontak; 2 perhubungan;
    -- dua arah komunikasi yang komunikan dan komunikatornya dalam satu saat bergantian memberikan informasi; 
    -- formal komunikasi yang memperhitungkan tingkat ketepatan, keringkasan, dan kecepatan komunikasi; 
    -- massa Kom penyebaran informasi yang dilakukan oleh suatu kelompok sosial tertentu kepada pendengar atau khalayak yang heterogen serta tersebar di mana-mana; 
    -- sosial komunikasi antarkelompok sosial dalam masyarakat

    Sejak diri kita masih ada dalam buaian ibunda, kita sudah berkomunikasi, Kawan. Dengan ibuu. Mungkin juga orang-orang lain pun ada yang mengajak ngobrol namun rasanya masih searah saja. Sering 'kan, menemukan orang mengajak ngobrol perut seorang ibu? Hehe.

    Heihei bahkan sebelum ruh kita ditiupkan ke jasad, kita sudah berkomunikasi dengan Allah. 

    وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَا ۛ أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَافِلِينَ
    Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)"
    - QS. al-A'raaf: 172

    Komunikasi adalah tanda kehidupan terlepas sedang di alam mana ruh kita sedang beraktivitas. Tidak ada persyaratan selain penerima, pengirim, dan pesan yang akan disampaikan. Dan tentunya tidak ada batasan haruskah pesan tersebut bisa didengar, dilihat, atau terindera oleh panca indera yang kita tahu.

    Adalah komunikasi hati. Dimana bentuknya tidak kasatmata, namun sangat berarti. Entah dalam ikatan orang tua dengan anaknya, seseorang dengan saudara kembarnya, dan mungkin yang terinti adalah antara seorang hamba dengan Tuhannya. Karena dari sanalah diri ini bisa terus berjalan menjalani kehidupan pada koridor yang semestinya.

    Mengapa komunikasi penting? Terutarakan di atas, komunikasi tanda kehidupan, komunikasi adalah saling mengisi, dan komunikasi memastikan fungsi kita (sebagai khalifah) di dunia ini berjalan sebagaimana mestinya.

    Bagaimana? Sekilas pendapat saja sih hehe.

    ---

    Alhamdulillaah semester 5 ini saya dipertemukan dengan Bapak Wardono di sesi perkuliahan Teknik Komunikasi Ilmiah. Sebetulnya saya mahasiswa yang masih sit in class -_- Jadi kepada Bapak Wardono, punten Pak bantu saya supaya dapet seat nanti ketika PRS hehe karena saya senang sekali menulis Pak.  
    Senang menulis, tapi belum ahli. Hmm.
    Ya intinya, saya berharap di perkuliahan kali ini saya bisa banyak belajar mengenai apapun. Saya lebih berharap mendapat pelajaran seperti pengendalian diri di kelas, kreativitas, cara mengajar, dan lainnyaa.
    Tapi katanya berhubung kita tidak boleh berharap pada manusia, jadi saya ada harapan cadangan (?)
    Saya berharap bisa memberikan 'sesuatu' di perkuliahan ini, entah untuk Bapak dosen, teman-teman, maupun yang lainnya. Catatan: Shaffa selalu butuh diingatkan, jadi ingatkan Shaffa untuk bisa 'berarti'. Yey.

    Jadi, setelah ini blog Shaffa akan diselipi dengan tulisan-tulisan dalam rangka TKI. Nantikan ya pemirsa. Semoga nanti tulisan kita bisa tembus media cetak dan dijamin dapet A oleh Bapak Wardonoo~
    aaamiin yaaAllah hehe.

    Masih mencari gaya menulis jadi maafkan sering tidak jelas.

    Semangaat bismillaah :)


    Rujukan:
    https://kbbi.web.id/komunikasi


    Continue Reading

    bismillah.

    Indonesia begitu indah°. Begitu pula yang kurasa ketika desir angin ini membawaku kepada sebuah memori yang baru saja kulalui sekian jam silam.

    Bagaimanapun skenario yang tercipta untukku, aku mengingat untuk tak pernah menyesalinya. Karena setiap detik adalah bahagia. Karena bahagia adalah syukur yang terucap atas nikmat yang tidak akan cukup tertuliskan dengan tinta yang akan habis walaupun didatangkan sebanyak air laut yang dibuat berlipat ganda.*

    "Apa definisi bahagia menurutmu?"
    "Bahagia adalah ketika senyum² terukir di sekitar kita dalam indahnya kebersamaan"**

    ---

    Ingin meralat paragraf pertama, sebetulnya desiran angin jauh sih sama angin ngagelebug teu eureun-eureun°. Tapi ya intinya memori di 800 mdpl ketika angin memang sungguh bisa berbicara akan selalu terputar ulang.
    Namun hanya selama tulusnya cinta masih terasa olehmu.

    Kapan angin berbicara? Di Pakulahan angin memang menggumam hampir setiap malam, kawan. Kau pasti bisa mendengarnya.

    ---

    "Oi yang Pakulahan kumpul sini!"

    Sore itu perdana kami berkumpul dengan jumlah 23. Yang kurasakan adalah penyesuaian diri dengan cuaca di sana. Anginnya aneh. Ditambah panas ngos-ngosan walau tas sudah diangkut kolbak, jalan rusak nanjak dan yang terinti, jalan kaki ini akan berlangsung hampir dua jam.

    Tak masalah karena aku memang senang berjalan. Menyebalkan ketika hasil gambreng anak cewe yang sudah mengatakan Rizka Legita dan Zayinatun Bila sebagai penumpang kolbak bersama tas di tengah jalan, ternyata harus ditambah seorang lagi dan entah mengapa kok saya yang dipaksa naek -_-

    "Ish ayo, Shaf. Naik. Nanti pulangnya aja kita jalan bareng-bareng." Yang kutau ucapan ini tidak ditepati sama sekali hingga akhir.

    Kami bertiga duduk di depan sesedekan dengan logistik. Terkagum ngeri karena track yang harus dilalui sangat---- hm. Tiba di sana kami menurunkan semua tas dan perlengkapan lain. Sambutan dilangsungkan dengan pengangkutan tas beban perjalanan yang maasyaAllah itu punyanya Novika Chandra dan Zaky Indra adalah yang ternyusahin. Semua dikumpul dari lapangan voli di atas tebing menuju selasar rumah Pa Oleh.
    Naunganku, bukan. Naungan kami dua puluh satu hari.


    to be continued.

    °Video sunrise di atas tebing dusun, khasnya Helmi dan Rasyid.
    *"Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)" {al-Kahf: 109}. Ceramah Pa Ustadz Abdul Fattah, 21 Juli 2017, suatu sore di Nurul Iman.
    **M. Helmi Sidik, pemilihan ketua tema air, 22 April 2017, CADL
    Continue Reading

    bismillah..

    Ada banyak cara bagi setiap orang untuk melalui titik penting hidupnya. Dan bahkan sang pemeran mungkin saja tidak menyadari bahwa ia tengah melalui fase tersebut.

    Adakalanya sang pemeran ini membandingkan alur kisah hidupnya dengan milik orang lain.

    Terkadang banyak sekali muncul pertanyaan sebagai imbasnya. Mengapa ia begitu disayang. Mengapa ia mendapatkan segalanya dengan mudah. Mengapa ia seakan membuatku terabaikan. Mengapa ia menyakitiku. Mengapa aku begini sedangkan dia begitu. Ini tidak adil.

    Namun pertanyaan besar justru akan ditujukan padanya.
    Mengapa kau mempertenyakan seperti itu?

    Ketika fenomena seperti dipaparkan di atas terjadi di sekitar, atau jangan-jangan lekat dengan kerangka berpikir kita, mungkin sebaiknya ada langkah yang dibuat perlahan saja. Sebab apa yang mengawasi di kanan-kiri rupanya adalah jurang yang sedemikian dalam, mengintip dari balik semak berbuah yang sedemikian rimbun menarik untuk dijadikan tempat rehat barang sejenak. Tampak nimat namun mematikan.

    Perlahan. Berhati-hati agar tidak terperosok.
    Kemudian memikirkan jawaban dari satu pertanyaan besar yang diajukan.


    Seseorang terlahir sendiri ke dunia ini. Seseorang pada dasarnya pun akan pergi sendiri pula dari dunia ini. Namun seseorang yang satu dengan seseorang lainnya diplot di dalam skenario untuk bertemu. Bukankah ini titik awal pertanyaan-pertanyaan di atas timbul?

    Sebenarnya bukanlah sebuah masalah ketika mendapati bahwa diri ini terus bertanya. Siapapun itu yakinlah semua orang butuh diisi. Dengan apa? Dengan jawaban-jawaban. Dengan ilmu. Dengan saran. Dengan kritik yang membangun. Dengan kasih sayang. Dengan pelajaran. Dengan kamu mungkin? Wkwk heu wallahua’lam.

    Berangkat dari tujuan bertanya dan berusaha mencari jawaban adalah untuk menuai hikmah, mari untai kata untuk menjawab dan meniadakan statement di atas yang berkata bahwa ‘ini tidak adil’.

    Allah Maha Baik. Sebagai hamba-Nya maka jadilah baik pula. Baik ini dimulai dari baik dalam pola berpikir kemudian akan teralunkan oleh ucapan dan kemudian didengar oleh seluruh elemen tubuh ini. Dan bermainlah molekul-molekul penyusun tubuh menyesuaikan dengan apa yang ia dengar. Sebagaimana keajaiban terjadi pada molekul air yang diberi kata-kata baik nan bijak, tidak ada pilihan untuk membedakannya dengan sebagian besar penyusun tubuh kita dan sebagian besar bagian bumi ini bukan?

    Ketika hakikat hidup kita adalah terlahir sendiri dan meninggal sendiri, mengapa harus menggantungkan diri pada hidup orang lain yang malah dirasa mengusik langkah?

    Apa yang ada pada diri kita adalah apa yang kita pikirkan. Itulah mengapa prasangka yang timbul hendaknya segera dipastikan berada di kutub positif bagaimanapun itu.

    “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang." (QS. Al Hujurat (49) : 12) 
    -  
    Dari prasangka baik terbitlah gerakan pencarian hikmah. Kemudian terjawablah,
    Allah ingin aku mengingat-Nya lebih lagi. Allah ingin aku lebih kuat. Allah ingin aku merasakan manisnya perjuangan. Allah ingin aku lebih banyak bersyukur. Allah ingin aku melihat lebih jauh ke sekitar sebagai jalan syukur bukan untuk membibit dengki.

    Mengapa aku begini sedangkan dia begitu? Allah memberikan masalah untuk menguatkan seseorang pada levelnya masing-masing dan akan berubah kadarnya di masa ketika seseorang memang butuh untuk dikuatkan lebih lagi.

    Ketika kau diberi perkataan semacam, “Masalahku berkali lipat masalahmu, jangan berbicara seakan semua mudah”, mungkin jangan sampai dirimu terpancing untuk membandingkan hidupmu (juga) dengan hidupnya atau hidup orang lain dan bergumam “Sotau amat dah kaya tau masalah gue dan kapasitas pundak gue aja -___-“, namun kuatkanlah ia dengan “Ya mungkin saja. Allah tau pundakmu jauh lebih kuat dariku maka kuat-kuatlah”. Teruslah ulangi dengan mengubah-ubah redaksi penyampaian hingga ia berhenti berkata “Ini tidak adil” kemudian bergumam “Alhamdulillah yaaRabb iringilah aku untuk menjadi lebih dan lebih kuat lagi dari waktu ke waktu”.

    Adil bukanlah sama. Dari perbedaan yang ada muncul warna-warni perjuangan. Hingga tibalah nanti dimana semua akan terasa semakin indah dan semua itu tertulis murni dan hanya untukmasing-masing dari kita seorang saja.

    “...Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering." (HR. at-Tirmidzi)

    Skenario setiap orang telah tertulis. Namun takdir bergantung pada pilihan yang diambil oleh setiap pemeran. Adil bukan?


    sebetulnya membingungkan ga postingan ini fokusnya ke mana..



    pic source: Bukit Moko? dari grup bandung n' friends pokonya ada yang pamer waktu itu.
    Continue Reading

    Bismillaahirrahmaanirrahiim.

    Ada banyak sekali hal di sekitar kita yang berubah sedikit demi sedikit, detik demi detik, hingga pada akhirnya keadaan kita sama sekali berbeda dengan sesaat yang lalu. Perubahan adalah sebuah keniscayaan. Dari tiada menjadi ada, dari terbit menjadi terbenam, dari terang menjadi gelap, dari fajar menjadi senja, dari hitam menjadi putih, dari kata menjadi frasa, dari hidup menjadi mati. Semua nyata. Andil kita adalah mengarahkan perubahan tersebut ke sebagaimana seharusnya.

    Bukan hal mudah. Itu pun nyata.

    Aku mendapati beberapa waktu ini aku tanpa sengaja menilai salah satu arah pandang di kehidupanku. Dinamis. Bukan untuk menjudge kehidupan orang lain, namun mengambil pelajaran dari setiap inci pemandangan buatku adalah keharusan.

    Ini tentang kawan-kawanku. Eng, lebih tepatnya keluargaku. Teman-teman kuliahku memberi statement tersebut di sela ceritaku.

    Kami berada di sebuah lingkungan yang sangat terkondisi sebelumnya. Semua teratur, namun tidak stagnan. Kami dibebaskan untuk berkembang dan mewarnai hari dengan memperhatikan koridor yang ada. Tidak hanya karena peraturan sih sebenarnya, hidup ini memang ada koridornya bukan?

    Kemudian kami dilepas ke alam yang lebih liar (?). Kami memasuki lingkungan dimana semua serba aturlah-dirimu-sendiri dan tolonglah-dirimu-sendiri. Aku yakin jika bukan karena lingkungan sebelumnya yang telah aku lalui sejak mulai lahir hingga jenjang-jenjang berikutnya, aku tidak akan bisa bertahan. Alhamdulillah ‘alaa kulli haal.

    Bagaimana kabar kami setelah dilepas? Buatku jawabannya adalah “Sulit”. Kami ditempatkan di zona yang sedemikian berbeda dan kami harus bertahan (pada koridornya). Di sinilah tampak bahwa idealism yang masing-masing dari kami anut adalah berbeda, dan yang paling menyebalkan buatku adalah mengenai toleransi -_- ya tentang ini tidak akan kubahas di sini wkwk. 

    Oiya. Kuingatkan, ini hanya yang kudapati lewat kacamataku.

    Semua aspek kehidupan yang baru kami dapati di lingkungan baru ini mengubah kami. Atau mungkin lebih tepatnya mengubahku, dan setidaknya kalau memang ternyata kawan-kawan lain merasa tidak ada perubahan ya berarti sudut pandang kita berbeda yaa. 

    Kami berubah.
    Aku merasa ada hal baru yang kudapat. Menyenangkan dan belum pernah kami dapatkan sebelumnya. Tentang mempertahankan bagian dari kami, tentang arti peduli, tentang saling mengingatkan di tengah kondisi dunia yang sungguh bagiku hiruk pikuknya tak kunjung usai.

    Namun ada hal lain yang buatku begitu memilukan. Apakah? Ketika kami tanpa sadar kehilangan arah dari koridor yang semestinya kami lalui, ketika kami terlambat mengetahui apa yang semestinya kami ketahui, ketika ada serpih yang hilang dari apa yang kami bawa dari lingkungan sebelumnya.

    Ini tentangmu, kawan. Ini tentang kita semua.

    Bukan masalah jika kamu, kamu, kamu, dan kamu yang lainnya tidak menyampaikan satu demi satu detik hidup yang kamu lalui. Toh akupun tidak melakukannya karena hei butuh berapa lama untuk menuturkan apa yang tengah kulalui dan mungkin saja itu memang tidak berpengaruh bagimu wkwk. Tidak tidak bukan aku sedang menyindir dengan kalimat “Yaa aku emang gapenting kok ngapain dipikirin” wkwk tapi masing-masing dari kita tau kita punya urusan yang lebih patut dijalani dan dipikirkan.

    Namun janganlah ragu yakinlah untuk bertanya, berbicara, meminta jika memang kamu, kamu, dan kamu yang lainnya memang mau. Janganlah ragu Yakinlah untuk berkomentar dan bertindak ketika ada perubahan kecil yang tidak mengenakkan hati, di manapun dan sisi hidup siapapun. Jika hati kita memang benar-benar masih pantas untuk ditanya, perubahan kecil yang tidak beres akan tampak sangat janggal di mata maupun hati.

    Ini salah satu poin penting. Istafti qalbak. Mintalah fatwa pada hatimu. Jagalah kesuciannya agar ia selalu bisa pantas untuk ditanya.


    ".. Mintalah fatwa pada hatimu (3x), karena kebaikan adalah yang membuat tenang jiwa dan hatimu. Dan dosa adalah yang membuat bimbang hatimu dan goncang dadamu. Walaupun engkau meminta fatwa pada orang-orang dan mereka memberimu fatwa."
       - HR. Ahmad no.17545, Al Albani dalam Shahih At Targhib [1734]

    -      
    Ingatkan aku, kawan. Ingatkan aku, aku, dan aku yang lain.
    Dan janganlah ragu yakinlah untuk menyampaikan jika dalam apa yang aku, aku, dan aku yang lain sampaikan terdapat kecacatan dan singgungan. Buka hati dan pikiranmu jika memang apa yang tersampaikan adalah benar. Bukan apa-apa yang diinginkan selain kita semua berada pada koridor yang benar. Koridor kehidupan. Koridor-Nya.

    Perubahan adalah keniscayaan, tugas kita semua mengarahkannya pada alur yang benar dan tujuan yang tepat.

    Kembalilah.


    ---
    Bandung
    Sebuah Ahad sore di Februari 2017


    Rujukan: 
    http://muslim.or.id/29444-penjelasan-hadits-mintalah-fatwa-pada-hatimu.html
    Continue Reading

    Dari balik jendela kutatap pemandangan yang terkadang berlari, berjalan, bahkan berdiam.


    Gadis itu menanti. Di tengah rintik hujan. Menanti akan yang tidak sadar ia dinanti. Berharap akan yang tidak sadar ia diharapkan. Sibuk, bukan, menyibukkan diri? Entah apa yang dimaksudkan. Yang kini jelas adalah ia membuat gadis itu kelelahan dalam penantiannya. Kesalnya adalah bagaimana caranya gadis itu pergi dari kejenuhan yang menyiksa dalam penantian. Ia lelah, ia penat, tapi tak bisa berkutik. Entah mengapa segala hal yang tersodorkan dapat dikalahkan oleh sang penantian. Kali ini rasanya hanya rintik yang ia rasakan, mendukung suasana hatinya yang berharap kembali ke masa penantiannya tak hanya sepihak saja.

    Di sudut lain kulihat gadis lain berusaha asik dengan bukunya. Beberapa saat sebelum ini perhatiannya sempat teralihkan. Suatu ketika, ia dihadiahkan sebuah buku. Mendalam. Pemberian itu sedemikian ia senangi. Ia  larut dalam bacaannya. Entah setelah sekian lama, ia teralihkan dari bukunya, tanpa sadar fokusnya terbagi dengan usaha menyampaikan terimakasih pada sang pemberi hadiah. Gadis itu kemudian sadari bahwa ia tak perlu sebegitunya. Ia memutuskan memberikan buku lain pada seorang-yang-dimaksud. Agar ia bisa kembali pada buku-bukunya. Agar sosok yang mengasihinya pun dapat merasakan bagaimana nikmatnya terhanyut dalam buku bacaan dan tidak terusik di saat yang bukan waktunya.  Oh, jadilah saat ini yang kulihat adalah dua sosok yang berusaha asik dengan bukunya masing-masing.

    Di seberang jalan kulihat gadis yang lain berusaha menghalau kabut. Menghalau mendung. Menepis gangguan yang datang. Entah darimana datangnya segala hal yang berusaha ia halau, namun yang kulihat perangnya dengan sosok lain yang berwujud persis dengannya lebih berarti. Ia berperang dengan dirinya sendiri. Sengit, di balik sebuah kerangkeng yang tampaknya dibuat oleh sosok yang ia perangi. Di kala lain sebelum ini, ia sempat menikmati saat-saat kebersamaan dengan seseorang. Tanpa sadar, seiring berjalannya waktu, apa yang ia nikmati memberi kekuatan pada ia-yang-dia-perangi saat ini. Ketika seseorang itu tampak menjauh, jadilah ia seperti sekarang ini. Berjuang. Walaupun sesekali tiba kunjungan dari seseorang, sosoknya tetap mengondisikan gadis itu untuk memberi perhatian pada pertempurannya.

    Ada yang lebih menarik perhatianku. Gadis yang sedemikian damai dan tenang. Duduk menawan di tepi jalan. Menikmati saat-saat ini, dengan beberapa buah buku dan sup hangat di atas mejanya. Menikmati fokus yang selama ini ia mati-matian ciptakan. Perangnya dahulu sedemikian hebat. Sosok gelap yang ia perangi sangat kelam. Entah berapa banyak air mata terurai. Entah bagaimana aku menjelaskan perjuangannya selama ini. Namun sekarang, lihatlah. Pelajaran-pelajaran yang ia ambil sepanjang pertempuran membuatnya sedemikian kuat dan tenang. Dengan kesadaran bahwa ia harus mempertahankan kemenangan ini, timbul kewaspadaan akan apapun yang dapat tiba mengusik. Mungkin ia belum sekuat itu, mungkin hidupnya belum setenang itu, tapi menciptakan fokus dan menikmatinya bagiku merupakan salah satu cara untuk berdamai dengan apa yang telah ia lalui. Tanpa bisa dijelaskan kerumitan dan kekusutannya, di situlah puncak kedamaian dapat ia rasakan dan syukur akan selalu dapat terpanjat.


    Perjalananku masih berlanjut. Yang baru terlontar dariku barulah sedikit sudut yang tampak. Penglihatanku bisalah salah tangkap. Tebalnya kacamata ini dan perhatian yang sesekali buyar membuatku tak bisa merekam semuanya dengan tepat. Namun dari apa yang kulihat, kudapati bahwa kisahku bisa melebar sedemikian luasnya. Apapun bisa terjadi, dan akulah yang menjadi penentu skenarionya.

    Ini masih akan terus berlanjut.


    Dan aku ingin sekali membantu mereka-mereka yang kulihat di sudutnya masing-masing. Bisakah?
    Continue Reading


    bismillaah
    Selamat paagii..
    Alhamdulillaah. Allahuakbar. Ini kayaknya posting terpagi selama ini wkwk.

    Pagi ini unik. Menurut gue. Kenapa?

    Jadi pagi ini kronologisnya dimulai dari gue nanya di grup, "ada yang bisa menjangkau sonny?". Yaa pagi ini gue niat ngasih kunci motor gue ke Sonny soalnya dia mau minjem hari ini. Dan gue berniat jalan kaki ke kampus. Setelah chat gue diwaro dan dia sudah di lokasi, ternyata kosan gue kekunci dari dalem kamar -_- Okelaah gue mengembara mencari kunci. Terus, gue berhasil nemu kunci kamar, buka pintu,  ngasih kunci motornya dan meniti langkah ke kampus. Setelah seberapa lama yang entah gue ga sadar, tiba-tiba di pinggir jalan ada yang gerak. Jadi di sana tuh ada gerobak sampah nangkring kaya gaada yang punya. EH TIBA-TIBA gerobak sampah itutuuuh jalan sendiri ke tengah jalanann. Panik gue. YA IYALAH. Ituu mobil² angkot² lewat kalo gerobaknya jalan terus ya tabrakan lah. Ya gue cepet² menjangkaunya dengan kepanikan yang mungkin-kalian-tau-gue-kalo-panik-gimana. Pas udah menepi, gue nengok sekitar. Ituu dua cowo belakang gue ketawa². Allahuakbar. Berasa 'Supertrap' -_- Dibuat panik sendiri di tengah keramaian. Ya gimana gue ga jadi nengok sana-sini nyari kamera tersembunyi..

    Wkwk yang barusan malah jadi malu²in gara-gara gue ngebayangin itu supertrap betulan..
    Eh tapi serius. Kejadian itu bikin gue ketawa dan komat-kamit "bukan supertrap kan, bukan, bukan" soalnya itu orang di belakang ketawanya ga berhenti. Daan gue memutuskan lanjut jalan..
    Kenapa gue nulis ini?

    Dari situ gue sadar. Gerobak itu berhasil bawa gue sadar dan kembali ke kenyataan. Selang waktu dari gue jalan dari depan kosan, kasih kunci, sampe gerobak itu, gue abisin entah buat apa. Keadaan sekitar gue jadi emang cuma backaground doang. Ketika semestinya dari tiap incinya gue bisa ambil pelajaran sekecil apapun.

    Hei. Kita tidaklah hidup sendiri di dunia. Semua dicipta sebagai bahan belajar. Sekalipun benda mati. Semua itu saksi bisu. Semuanya juga bisa bertasbih dengan cara masing-masing. Malukah jika kita makhluk yang diciptakan sebagai khalifah di muka bumi itu bahkan tidak menaruh perhatian terhadap sekitar. Melamun?

    Yaa itu gue pagi tadi hehe. Astaghfirullahal'adziim..

    Dari sekian banyak urusan dunia yang membuat kita mumet, pusing, banyak pikiran, tapi kita harus sadar juga kalau banyak hal di sekitar kita yang perlu kita perhatikan. Cari pelajaran apa yang bisa kita ambil dari kerikil di jalan. Kenapa harus ada kerikil di sini dikonversi jadi apa tujuan Allah ngeplot kita di sini. Kenapa Allah menempatkan aku di ITB, kenapa Allah jadikan aku anak SITH. Hal-hal seperti itu yang sebetulnya bisa menumbuhkan semangat hidup. Tau tujuan. Tau visi tau misi buat nantinya sampai ke akhirat-Nya. Yuk pintar baca kode. Supaya tau apa yang mau Allah sampaikan lewat hal-hal di sekitar kita :)
    Bismillaahirrahmaanirrahiim..


    btw gue aja gatau itu kesimpulan nyambung sama kejadiannya apa ngga wkwk tapi itu yang gue pikirin saat ini.
    Continue Reading


    ya namanya juga hati perahu,, siapa bisa jamin ga bakal pergi lagi kalo udah berlabuh? ga ada kan? ya mungkin saat ini ga sadar aja kalo di luar sana masih banyak pelabuhan lain. jadi? ya yang sekarang biarin aja. ada kalanya lebih baik ga usah digubris. tapi ya yang lebih baik itu kalo waktu berlabuh, kita bisa ngupgrade perahunya jadi lebih baik dan kuat. ya ga?

    ya namanya juga hati perahu,, belum tau kapan pelayaran berhenti. banyak berlabuh, banyak berlayar. di tengah pelayaran banyak rintangan. di pelabuhan juga banyak cobaan, bisa jadi ngerasa tentram, akhirnya mager pergi. padahal perjalanan masih panjang.

    ya namanya juga hati perahu,, bakal sering, bahkan selalu terombang-ambing. ketemu karang. ketemu perompak yang bisa ngambil semua bekal dan apa-apa yang udah didapat selama ini. ketemu badai. ketemu saat-saat di mana bintang penujuk arah ga keliatan ketutup mendung.

    ya tapi yang namanya hati perahu,, harus tetep kuat dan tangguh. pilihan sih, mau tetep ada, atau mau pasrah biarin aja kekikis garem laut sampe akhirnya tenggelam tanpa daya.

    ya namanya juga hati perahu, , kalo mau tetep ada, ya ikuti jalur-jalur yang bener. mau kondisi sekarang dan nantinya gimana, gapapa. selama berlayar bareng Allah, tunggu aja saat-saat indah Allah nambatin hati perahu itu ke hati pelabuhan yang bener-bener tepat. iya ga??

    - 4 desember 2014
    repost dari tumblr shaffa. selalu ngena padahal tulisan sendiri hm -_-
    Continue Reading
    Nulis.

    "Ilmu itu diikat dengan tulisan."
    "Biar ga lupa coba deh dicatet."
    "Pensil yang tumpul lebih tajam daripada ingatan paling kuat sekalipun."
    "Pengen kayak beliau. Manfaat lewat tulisannya."
    "Yang membedakan zaman kita dengan zaman prasejarah adalah keberadaan aksara, tulisan."

    Kalimat terakhir itu dari Pak Ipik Ernaka. Guru sejarah saya yang sangat menguatkan bahwa mengukir itu perlu. Dokumentasi adalah penting. Agar tidak terulang sebuah kesalahan dalam kasus yang sama dan pelajaran dapat diambil untuk siapapun ke depannya.

    Kalimat-kalimat itu baru segelintir dari sekiaan banyak kalimat yang sebetulnya mendorong seseorang -terutama saya- untuk menulis. Gimana ya, sekarang saya udah di puncak kekesalan kenapa niat dari jaman kapan ga jalan-jalan wae -_- Saya ingin menulis.

    Ingin.
    Menulis.
    Ingin produktif. Ingin manfaat.

    Bismillaahirrahmaanirrahiim..
    Siapapun. Tolong ingatkan saya :)

    EKSEKUSI.
    Continue Reading



    Mendengar dua kata ini membuat saya terhenyak. Entah. Saya merasa semangat, senang, bingung, namun terkadang sakit. Lho? Kenapa?
    Tunggu dulu. Sebetulnya, tahfidzul Qur’an itu apa??
    Berasal dari kata hafadza-yahfadzu yang berarti menghafal atau menjaga, tahfidz saya pahami sebagai sebuah proses menghafal dan menjaga. Berarti tahfidzul Qur’an adalah sebuah proses menghafal al-Qur’an (menambah hafalan: ziyadah) dan menjaga hafalan yang telah didapat dengan memuroja’ahnya/mengulangnya.
    Sungguh ini istilah sepele. Hanya ingin mengetikkannya kembali dan siapa tahu memang ada yang belum mengenal istilah-istilah ini. Hehe.
    Bukan. Sebetulnya saya sedang rindu ._. masa-masa di mana saya diberi jalan sangat mudah untuk tahfidzul Qur’an. Yang lebih tepatnya mungkin sekitar kurang lebih 3 tahun lalu ya. Ketika saya masih duduk di bangku SMP, tepatnya SMPIT As-Syifa Boarding School Subang yang dikenal masih muda udah keren abis (itu istilah yang terbersit barusan sih ._.).
    Kali ini saya sedang entah-mau-menulis-apa kalau memang ini saya tujukan sebagai tugas blog sejarah. Utang postingan blog sejarah saya sudah menumpuk huwee tapi untuk kali ini saya hanya sedang ingin berbagi.

    Khairukum man ta’allama’ qur’aan wa ‘allamahu..

    Hadits di atas begitu dalam maknanya bagi saya-kami para pemilik ambisi cita menjadi hafidz-hafidzah. Dari sepenggal kalimat tersebut, semestinya setiap muslim memiliki motivasi lebih untuk menghafal dan menjaga al-Qur’an dalam dirinya.
    Banyak yang bilang, “Aku ga berani ngapal Qur’an, nanti lupa malah dosa lagi.”
    “Makin banyak ngapal sesuatu, makin banyak lupa.”
    Mungkin ungkapan-ungkapan serupa di atas sekilas memang ada benarnya. Namun jika tanpa dipikir seksama, akan muncul persepsi baru yang justru akan mematikan otak jika persepsi tersebut sudah menjadi panutan dan keyakinan masing-masing individu.
    Untuk ungkapan pertama, rasanya kata-kata tersebut hanya akan diucapkan oleh seseorang yang tidak sadar- atau memang belum ada keyakinan dan keinginan untuk menghafal al-Qur’an di dalam hatinya. Ya memang benar jika kita telah hafal surat-surat dalam al-Qur’an dan kemudian melupakannya (na’udzubillah), makan kita akan termasuk orang yang dzalim dan berdosa.
    Namuun, yang mana yang lebih salah jika sengaja tidak ingin menghafal?
    Seseorang, jika memang sudah berazzam untuk menghafal al-Qur’an tanpa niat melupakannya tentulah akan lebih mulia sekalipun dalam perjalanannya terdapat beberapa bagian yang terlupa.
    Dengan niat yang kuat, bagian yang terlupa itu tentulah akan dengan cepat kembali ke ingatan dengan mengulangnya kembali.

    Tahukah saudara-saudaraku, sesungguhnya saya sedang berbicara pada diri saya sendiri yang tengah bersedih.
    Yaa Allaaaaah-------

    Kuatkanlah niat kami, para generasi muda yang hendak menjaga kalam-Mu di hati ini.
    Agar kami dapat mempersembahkan mahkota dan jubah kebesaran pada kedua orangtua kami di akhirat kelak..
    -aamiin-

    SEMANGAT PARA CALON HAFIDZ/AH!!
    Yaa Allah pengen banget lulus IC 11 juz aja yaa Allaaah..
    temen-temen udah pada jauh hafalannyaaa. bismillaah.
    Continue Reading

    bismillaahirrahmaanirrahiim

    Sebagaimana seluruh siswa Insan Cendekia ketahui,tahun ini divisi PPBN OSIS kali ini mengadakan program ‘nyanyi bareng’ setiap pagi. Entah itu efek dari K13 atau bagaimana, menurut saya program ini unik. Saat apel, salah satu anggota divisi PPBN akan memberi komando kepada seluruh siswa untuk bernyanyi. Dalam seminggu terdapat satu lagu untuk dinyanyikan setiap hari. Bosan memang, bagi yang telah hafal sejak awal dan tidak suka bernyanyi. Namun program ini bagus untuk mengenalkan lagu-lagu wajib nasional kepada warga Insan Cendekia. Dan minggu ini, lagu yang kami nyanyikan adalah Halo-Halo Bandung.
    Mendengar lagu Halo-Halo Bandung mengingatkan saya pada kampung halaman saya. Tentu saja Kota Bandung. Sejak kurang lebih 5 tahun lalu merantau, mendengar ‘Bandung’ memunculkan kebanggan tersendiri (hehehe. Berlebihan. Biar asik aja. Tapi serius lho sejak merantau saya lebih bangga  ketika mendengar kata ‘Bandung’). Kenapa?
    Menurut orang-orang yang lebih tepatnyaa adalah teman-teman saya, Bandung merupakan kota yang luar biasa. Lingkungannya kondusif dan sangat pas untuk menjadi kota ideal tempat tinggal. Tidak ketinggalan zaman, mengikuti arus modernisasi namun tidak berlebihan. Tetap asri dan tidak gersang. Ya yang disayangkan adalah tahun-tahun terakhir ini kemacetan mulai marak. Semoga ke depannya Bandung bisa lebih tertata lagi ya (?) (aamiin..).
    Eh, sebetulnya saya bukan mau membahas Bandung yang ini. Tapi takapalah. Jarang-jarang. Saya di sini ingin membahas tragedi peristiwa BANDUNG LAUTAN API.
    Peristiwa Bandung Lautan Api, yang menjadi inspirasi lagu Halo-Halo Bandung, terjadi pada tahun 1946 bulan Maret.
    Indonesia menyatakan proklamasi kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945. Namun apalah arti proklamasi bagi para tentara penjajah. Mereka tentunya tidak rela negara jajahannya lepas begitu saja. Walaupun Indonesia telah merdeka dalam proklamasinya, nyatanya perjuangan akan terus berlanjut sampai kapanpun. Dan pada bulan Oktober 1945, Indonesia harus kembali menggempur para penjajah. Tentara sekutu menyerang di kala Indonesia sedang mati-matian merebut senjata dari para penjajah. Cobaan berat bagi Indonesia, namun semangat tetap berkobar. Ultimatum sekutu pada tanggal 21 November 1945 untuk menyerahkan seluruh senjata yang Indonesia miliki tak digubris. Tentulah tentara Indonesia tidak akan rela menyerahkan hasil ikhtiar mereka begitu saja. Justru semangat juanglah yang terbit menggebu-gebu.
    Cobaan berat kembali menerjang ketika banjir besar melanda Bandung pada 25 November 1945. Harta benda hanyut terbawa arus dan banjir ini memakan ratusan korban.
    Di saat-saat seperti ini, sekutu justru memanfaatkan kelemahan dan musibah yang melanda Indonesia. Mereka mengebom berbagai tempat di daerah Bandung. Dan akhirnya, mereka mengeluarkan ultimatum kembali pada tanggal 23 Maret 1946 yang berisi perintah mengosongkan Bandung.
    Suatu hal yang berat bagi para warga Bandung untuk meninggalkan kota tempat tinggal sendiri. Namun ternyata Tentara Republik Indonesia memerintahkan seluruhnya untuk pergi dan mengosongkan Bandung. Dengan terpaksa, mereka beranjak. Tetapi dirasa ada hal yang perlu dilakukan sebelum mereka semua pergi. Keputusan dirumuskan, dan semua sepakat untuk membumihanguskan seluruh kota Bandung. Listrik dimatikan, kota berubah menjadi lautan api dengan asap hitam yang membumbung tinggi ke langit.

    “Biarlah para tentara sekutu itu memasuki daerah kami, namun tiada apapun yang dapat mereka renggut dari sana selain abu dan puing-puing kehitaman. “
    -orang Bandung, 2014
    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    About me

    Photo Profile
    fathya
    << biology-art >>

    bit.ly/shaffabutuhdiingatkan

    Read More

    Follow

    • G+
    • tumblr
    • facebook
    • twitter
    • pinterest
    • instagram

    Labels

    #olimpiadetaqwa abiotik alampikir bandung biotik Indonesia kawan keluarga lingkaran masyarakat pakulahan serpong subang tugas tki

    recent posts

    Blog Archive

    • Mei 2020 (1)
    • Oktober 2019 (2)
    • September 2019 (1)
    • Mei 2019 (2)
    • Maret 2019 (3)
    • Februari 2019 (1)
    • Januari 2019 (5)
    • Desember 2018 (1)
    • November 2018 (1)
    • Oktober 2018 (1)
    • September 2018 (2)
    • Agustus 2018 (2)
    • Juni 2018 (8)
    • Mei 2018 (7)
    • April 2018 (3)
    • Januari 2018 (9)
    • September 2017 (3)
    • Agustus 2017 (2)
    • Juni 2017 (1)
    • Februari 2017 (1)
    • April 2016 (3)
    • Maret 2016 (1)
    • November 2014 (2)
    • Oktober 2014 (7)
    • Juli 2014 (2)
    • Juni 2014 (2)

    Cari Blog Ini

    facebook Twitter instagram google plus tumblr

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top